Zudan dan Upiah Karanji, Angkat Jati Diri Pria Gorontalo

RadarGorontalo.com – Zudan sepertinya paham betul, dengan tradisi para lelaki Gorontalo. Mulai dari cara bersikap, hingga cara berpakaian. Bagi pria bernama lengkap Prof. Dr. Ir. H, Zudan Arief Fakrulloh ini, Upiah Karanji (kopiah kerajang,red) sepertinya sudah menjadi identitas. Kemana-mana, mau acara formal dan non formal, upiah karanji selalu menutupi kepalanya. Bahkan, di ivent berkelas internasional pun, salah satu identitas pakaian fashion pria Gorontalo itu, tak pernah dilepasnya.

Sabrin Maku, Gorontalo.

Tradisi menggunakan upiah karanji, lambat laun sudah tak lagi dianggap sebagai pelengkap berbusana bagi kaum pria di Gorontalo. Bahkan, anak muda sepertinya risih menggunakannya. Padahal, bagi orang luar, sebut saja mantan presiden Almarhum Gusdur, terlihat nyaman-nyaman saja, saat menggunakan upiah karanji. Bahkan, dari sekian banyak foto yang diabadikan tokoh nasional itu, selalu menggunakan upiah karanji.

Zudan Arif Fakrulloh mengenakan Upiah karanji (rg)

Nah, sekarang giliran Zudan yang kembali mengangkat identitas pakaian Gorontalo itu, saat dirinya tujuh bulan menjabat sebagai pimpinan tertinggi di Provinsi Gorontalo. Sejak dirinya ditunjuk sebagai pelaksana tugas hingga dilantik menjadi penjabat gubernur, Zudan menjadikan upiah karanji sebagai pelengkap berbusana. Dengan postur tubuh yang tegap, Zudan tampil elegan saat mempadu padankan kemeja karawo dan upiah karanji. Tak ada rasa risih, yang ada justru Zudan merasa bangga. Untuk cara berpakaian Zudan yang mengangkat identitas Gorontalo lewat upiah karanji, rasanya harus diberi apresiasi.

Bagi Zudan yang dilingkungan kerjanya di Kemendagri dikenal sebagai sosok Ustadz itu, memaknai upiah karanji dari sisi filosofinya. Upiah karanji menurutnya adalah cerminan diri. Jadi ciri orang Gorontalo itu menutupi. Dengan maksud tidak riya. Seperti yang kaya tidak congkak, dan yang pintar tak harus sombong. Upiah karanji adalah simbol, kerendahan hati pria-pria Gorontalo. “Kopiah Karanji, selama tujuh bulan, kopiah karanji ini, teman setia saya menjaga diri,” kata Zudan, saat memberikan sambutan pada sertijab gubernur, Jumat (19/5).

Menurutnya, kendati kerajinan anyaman rotan ada juga di penjuru lain di Indonesia, namun khusus upia karanji hanya ada di Gorontalo. “Gorontalo sejak zaman Sultan Amai dan Raja Eyato. Sebagai daerah yang kuat adatnya. Karena bersendikan adat dan syariat. Ini harus terus dikembangkan sebagai jati diri Gorontalo,” ungkapnya lagi.

Kisah Zudan dengan Upiah Karanji ini, tidak hanya sampai divent dalam daerah dan Nasional. Melainkan, dikenakannya selalu hingga mengikuti ivent antar Negara di Swiss. Pesan Zudan, masyarakat harus memakai Upiah Karanji ini sampai kapanpun dan dimanapun. Demikian pula dengan karawo, yang diharapkannya bisa seperti Batik Pekalongan, Solo dan Yogja, bisa menembus pasar antar negara. “Melalui Perda tentang pengembangan Industri lokal daerah ini, semoga bisa terus berlanjut,”tutur Zudan.(rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *