Waspada TBC, Penderitanya Peringkat Tertinggi di Gorontalo

RadarGorontalo.com – TB Paru atau Tubercolosis (TBC), termasuk 10 penyakit yang menyebabkan kematian di dunia versi WHO.

Di Provinsi Gorontalo sendiri, penyakit ini menduduki peringkat tertinggi jumlah penderita setiap tahunnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, tercatat ada 970 penderita TBC di Provinsi Gorontalo, dan 3279 dinyatakan sebagai suspek TBC.

Sebagai satu-satunya rumah sakit rujukan di Provinsi Gorontalo, dalam kurun dua tahun terakhir, Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS) mencatatkan angka yang cukup fantastis penderita penyakit yang bisa menyebabkan kematian itu.

Sumber RSAS

Tahun 2015 ada 426 pasien TBC yang ditangani, sedangkan 2016 jumlah itu bertambah jadi 589 pasien.

” TBC menduduki peringkat tertas dari enam penyakit lain yang hanya mencapai 21 hingga 300 penderita dari 2015 hingga 2016,” ujar dr. Meydi Sarita, M.Kes, Wakil Direktur (Wadir) Bidang Pelayanan RSAS.

Meydi tidak menampik, kalau penyakit TBC bisa berujung kematian bagi penderitanya.

Jika tidak ada perawatan medis secara rutin oleh pasien, minimal melakukan chek up.

Persoalan gaya hidup yang tidak sehat pun, menjadi salah satu penyebab banyaknya penderita TBC.

Disisi lain, faktor kedekatan sehari-hari penderita dengan orang sekitar, ikut menularkan penyakit yang diakibatkan bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Basil tersebut menyebar di udara melalui semburan titik-titik air liur dari batuk pengidap TB aktif.

Sedangkan penyakit lainnya seperti diabetes melitus, dan hipertensi dominan diakibatkan oleh faktor keturunan.

Walaupun gaya hidup tak sehat, ikut menyumbang di dalamnya. “Dari hipertensi baru menyerang ke penyakit jantung, dan namanya penyakit kronis, itu harus mengonsumsi obat secara rutin.

Berbeda lagi dengan penyakit yang diketagorikan akut, yang dianjurkan mengonsumsi obat pada saat tertentu. Dan olahraga teratur,” jelas Meydi.

Penyakit-penyakit ini bisa menyerang semua usia tambah Meydi, jika yang faktornya dari keturunan, usia balita hingga bocah sudah menderita penyakit tersebut.

Berbeda dengan panyakit lain seperti jantung, yang diakibatkan dari gaya hidup, pastinya rata-rata menyerang pasien yang berusia 40-an.

Dan jika sudah berusia demikian, maka pasiena sudah wajib melakukan tes kesehatan secara rutin, minimal dua tahun sekali.

Namun jika usai makin hari bertambah, bisa juga enam bulan sekali. “Penyakit paling banyak berujung kematian itu, jantung sama hipertensi. Yang sering diakibatkan oleh komplikasi penyakit ke tubuh lain.

“Untuk banyak usia yang meninggal akibat penyakit ini, kami belum bisa memprediksikannya, sebab kami harus melihat lagi penyakit yang menyerang pasien yang meninggal tersebut,” tutur Meydi.

“Saya berharap agar masyarakat tidak menderinta penyakit ini, perbanyak olahraga, makan teratur dan rutin melakukan tes kesehatan, agar bisa mengetahui apakah tubuh sudah menderita penyakit atau tidak,” timpalnya.

Sementara itu, jika merujuk lagi data yang diungkap BPS, penyakit paru-paru memang menduduki posisi paling tinggi.

Seperti penyakit penumonia atau paru-paru basah ada 1439 kasus. Supek TBC 3279 kasus, dan penyakit TBC Paru BTA+ 970. (rg-62)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *