Warkop Keliling Kopi Lo Pobu, Semangat Usaha, Meski Modal Terbatas

Bayu salah satu owner Kopi Lo Pobu, saat meracik kopi pesanan pelanggan

RadarGorontalo.com – Warung kopi alias warkop, sudah bukan barang baru di Gorontalo. Hampir di setiap sudut kota, cafe kecil yang menjajakan kopi berbagai merek plus tempat nongkrong, sangat mudah ditemui. Adalah Bayu, seorang pemuda berperawakan kecil, bercita-cita punya warung kopi sendiri. Bermodalkan, motor tua yang sedikit dimodifikasi, Mohamad Fajar Saleh alias Bayu pun memulai usaha warkop kelilingnya yang diberi nama Kopi Lo Pobu.

Syakir, Radar Gorontalo

Dua hari terakhir, Bayu dan partner bisnisnya Cucun singgah jualan di depan kantor sementara Radar Gorontalo di kompleks sentral. Mereka biasanya datang agak larut malam, karena di depan kantor ada warung yang juga jualan kopi. Usut punya usut, ternyata Bayu punya cerita menarik dibalik usaha warkop kelilingnya itu.

Bayu memang suka hal-hal yang berbau bisnis. Singkat cerita, sembari mencari cari ide segar, teman bayu yang kuliah di luar daerah datang dan kemudian menceritakan tentang, berbagai usaha-usaha yang hanya perlu modal kecil, tapi inkamnya besar. Tercetuslah ide untuk jual kopi keliling. Dua tahun berlalu, ide dari temannya itu belum juga dieksekusi. Persoalan modal hingga belum adanya keberanian, menjadi kendala utama.

Tibalah dua bulan lalu, tepatnya sekitar 16 Agustus. Kala itu, Mohamad Bayu ditawari salah seorang rekannya yang bernama Hari, untuk mengeksekusi ide jualan kopi keliling. Total modal yang dibutuhkan sekitar Rp. 12 juta. Modal pun dibagi tiga, tapi pemodal utama adalah Hari. Keuntungan dibagi sesuai besarnya investasi. Modal motor modifikasi dengan gerobak, Bayu dan Cucun mulai jualan. Awalnya sih, agak sedikit malu-malu. Maklum, kedua orang ini masih muda jomblo pula. Ada yang mencibir, ada juga yang mendukung. “saat kami jalan ke perumahan, dorang kira jual mie bakso,” tutur Bayu.

Tak disangka, sambutan pasar untuk bisnis warkop keliling luar biasa. Dalam sehari beroperasi, Bayu bisa meraup untung Rp. 300 sampai 500 ribu. Pelanggannya mulai dari warga komplek perumahan, hingga pegawai kantoran. Kopi yang mereka jual, tak cuma kopi lokal seperti Pinogu dan lain-lain, kopi sekelas arabica robusta dan sederet kopi import pun mereka sajikan. Proses racikannya cukup menarik, karena manual.

Untuk melayani satu pemesan, Bayu harus menghabiskan waktu diatas 7 menit maksimal. Tapi disitulah seninya. Gerobak yang diberi nama Kopi Lo Pobu inipun, dilengkapi dengan lampu dan musik, biar pelanggan tak bosan menunggu. Rp. 7000 per gelasnya, bukan harga yang mahal untuk menikmati segelas kopi dari warkop keliling ini. Jangan salah, kendati terlihat sebagai pemula, Bayu dan rekannya menjadi peminat buku-buku wirausaha. buku Almarhum Bob Sadino pun, dibaca untuk memotivasi diri.

Salah satu kejadian lucu yang dialaminya adalah, saat Bayu dan Cecen diterpa hujan saat jualan. Dengan kondisi basah kuyup keduanya tetap melayani pelanggan. Tapi kopinya dilebihkan, untuk diseruput berdua mengusir dingin. Bayu punya harapan, untuk mengembangkan bisnisnya ini. Minimal bisa dapat modal, untuk merubah gerobaknya jadi lebih layak. Semoga saja makin banyak pemuda seperti Bayu dan teman-temannya itu. Sehingga, tak ada lagi pengangguran dan kemiskinan. Pemerintah pun, jangan menutup mata. Karena orang-orang seperti Bayu ini, sangat layak mendapatkan bantuan pemerintah. (**/rg)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.