Warga Gorontalo Ikut Aksi 4 November ?

RadarGorontalo.com – Aksi demo besar-besaran 4 November di Jakarta, dengan tajuk Aksi Bela Islam jilid II, terinformasi akan diikuti juga oleh sejumlah warga asal Gorontalo. Informasi yang berhasil dihimpun koran ini, beberapa hari terakhir, puluhan orang khususnya dari organisasi Islam, sudah bertolak ke Jakarta, untuk ikut aksi itu.

Pantauan Radar Gorontalo, memang di Gorontalo sendiri, tak ada posko khusus untuk menerima relawan yang akan ikut aksi Bela Islam jilid II, yang akan digelar lusa nanti. Pantauan di sejumlah titik pemberangkatan seperti Bandara Djalaludin Gorontalo pun, tak terlihat aktifitas luar biasa, dari sejumlah Ormas Islam yang memberangkatkan anggotanya ke Jakarta.

Hanya saja, informasi yang berhasil dihimpun dari sejumlah sumber, saat ini, sejumlah warga Gorontalo yang berasal dari beberapa Ormas Islam, yang sebelumnya sudah berada di Jakarta, membatalkan kepulangan mereka ke Gorontalo, karena ingin ikut aksi demo bela Islam, untuk mendesak proses hukum terhadap mantan Gubernur Jakarta Basuki Purnama alias Ahok, yang dituding melakukan penistaan Alquran.

Beberapa sumber juga membocorkan, pemberangkatan sejumlah massa aksi dari Gorontalo itu, rata-rata atas insiatif pribadi. Kebanyakan mereka sudah bertolak sekitar dua pekan sebelumnya. Ada yang mengambil jalur laut, ada juga yang berangkat dari provinsi tetangga. di Gorontalo sendiri, aparat kepolisian dan TNI sudah mengantisipasi hal itu.
Sebelumnya, 16 Oktober silam, sejumlah warga berkumpul di Masjid Al Irsyad, Jl. Mohamad Yamin, Limba B Kota Gorontalo. Mereka mendesak proses hukum terhadap Ahok yang juga mantan Gubernur DKI. Tak cuma itu, aksi serupa juga digelar oleh massa Hizbut Tahrir Indonesia, Gorontalo yang juga menganggkat isu serupa.

Dikutip dari Jawa Pos, jelang aksi demo Jumat nanti, Wakil Presiden Jusuf Kalla secara khusus membahas kondisi tersebut bersama mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mulai pukul 19.50 selasa (1/11) malam. Mereka bertemu hampir sejam di rumah dinas Wapres Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat.

JK menuturkan sebenarnya kondisi di ibu kota masih bisa terkendali saat ini. Buktinya tidak ada himbauan untuk meliburkan sekolah. Hanya, jumlah massa yang diprediksi mencapai ribuan dan berkumpul di pusat kota itu berpotensi menimbulkan kerawanan. Selain itu tidak ada pula status siaga satu yang ditetapkan. “Siapa bilang siaga 1? Endak lah. Kalau siaga 1 tentara itu berpakaian tempur. Enggak kan?” ujar JK.

Pada pertemuan tersebut, SBY memberikan masukan lantaran punya pengalaman 10 tahun di pemerintahan. SBY juga punya latar belakang militer. Masukan itu diantaranya untuk mengatasi bila sampai terjadi masalah seperti kerusuhan. “Kita koordinasi apabila timbul masalah nanti pada tanggal 4 (November). Jangan nanti terjadi seperti katakanlah waktu itu Trisakti,” ungkap JK.

Kerusuhan Trisakti terjadi pada 12 Mei 1998. Demo yang awalnya damai itu berakhir dengan kematian 4 mahasiswa Universitas Trisakti. Mereka meninggal dunia dengan luka tembak. Kerusuhan tersebut dianggap salah satu pemicu kerusuhan masal lain pada 1998 hingga menggulingkan pemerintahan Soeharto. Menurut JK, pagi kemarin SBY juga bicara dengan Menkopolhukam Wiranto soal demo 4 November tersebut. Tapi, pembicaraan itu lebih formal. “Saya kan informal saja,” imbuhnya. (rg-34)

Share

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *