Uang Emisi ‘Baru’ Barang Langka

 

ilus Anwar/rg

 

RadarGorontalo.com – Sejak resmi diterbitkan Desember 2016 silam, hingga kini uang emisi baru berbagai pecahan, sulit sekali didapatkan. Bahkan bisa dibilang barang langka. Pihak perbankan sendiri masih menggunakan uang emisi lama.

Padahal, warga berharap Ramadhan nanti, tradisi zakati (sedekah) yang biasa dilakukan umat muslim Gorontalo, pas hari lebaran, sudah bisa menggunakan uang emisi baru.

Dari pantauan Radar Gorontalo sendiri, di beberapa tempat seperti di pasar, pedagang yang menerima pembayaran dengan uang emisi baru atau istilah masyarakat uang baru, mereka cenderung langsung menyimpannya rapat-rapat.

Uang itu tak akan digunakan sebagai kembalian, dengan alasan itu uang langka. Saking langkanya, pedagang menganggap uang emisi baru pecahan Rp. 20 ribu, lebih ‘berharga’ ketimbang uang Rp. 100 emisi lama.

Disisi lain, kelangkaan uang baru sendiri, oleh beberapa kalangan dikaitkan dengan persoalan yang mewarnai awal penerbitan 11 pecahan uang emisi baru tersebut. Seperti persoalan logo, hingga gambar pahlawannya.

Mereka menduga-duga, uang itu sengaja ditahan oleh pemerintah. Hal ini, kemudian dibantah oleh Suryono Kepala BI perwakilan Gorontalo, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (17/5).

Suryono mengatakan, penerbitan uang emisi baru secara serempak untuk semua pecahan, baru kali ini dilakukan. Dan ini merupakan sejarah. Yang jadi pertanyaan, apakah distribusi uang emisi baru itu sudah menjangkau seluruh wilayah NKRI?

“saya harus menjawab dengan jujur, bahwa belum mampu sepenuhnya,” ujar pria yang meraih gelar doktornya di UNG itu. Diakuinya memang, uang emisi baru diharapkan bisa secepatnya mengganti pecahan uang emisi lama.

Tapi itu tidak bisa dilakukan sekaligus. Sebagai ilustrasi, uang yang beredar di Indonesia saat ini berkisar Rp. 560 triliun. Sedangkan kemampuan PT. Peruri sebagai tempat percetakan uang, tahun 2017 hanya bisa mencetak sekitar Rp. 8 hingga 10 triliun. Itupun harus dibagi, ke 34 provinsi se Indonesia.

Kita tidak bisa menyalahkan Peruri, karena mereka tak cuma mencetak uang, tapi juga mencetak perangko dan hal lainnya. Tentunya ini, uang emisi baru tidak bisa secara cepat dibagikan banyak-banyak ke semua wilayah, khususnya ke wilayah Indonesia Timur.

Yang jelas, perputaran uang terbanyak ada di kota besar, karena aktifitas ekonominya yang membutuhkan suplai uang jauh lebih besar. “langkanya uang emisi baru tidak cuma Gorontalo. Ditempat lain pun mengalami hal yang sama.

Walaupun tidak semua. Apalagi Gorontalo belum punya khasanah (tempat menyimpan uang,red) dan masih bergantung ke Bank Indonesia di Sulut. Uang yang didrop ke Gorontalo, dititipkan ke kas titipan Bank Mandiri. “doakan saja, Mei 2018 gedung BI yang baru bisa selesai. Dan Gorontalo punya khasanah sendiri,” ungkapnya lagi.

Soal antisipasi kebutuhan uang di Ramadhan, khususnya uang emisi baru, Suryono mengatakan kalau saat ini, BI pusat tengah menggelar rapat di Surabaya sejak tanggal 15 hingga 19 Mei, yang salah satunya membahas pemenuhan uang di Ramadhan.

Diupayakan persediaan uang bisa meningkat dibanding tahun sebelumnya. “Diusahakan, tahun ini ada penambahan. karena ada budaya zakati itu. walaupun tidak semua, uang emisi baru, karena ada juga uang baru emisi lama. Dan tetap ada penukaran,” timpalnya.

Dan Insya Allah, dalam waktu dekat akan ada peresmian kas titipan di Pohuwato, tepatnya di Bank SulutGo. Sehingga, provinsi Gorontalo akan punya dua kas titipan, satu di Bank Mandiri, satunya lagi di Bank SulutGo Kabupaten Pohuwato. “kas titipan di Bank Mandiri, ada 350 M tertinggi di Indonesia. di Pohuwato, kemungkinan ada 200 M,” tutupnya. (rg-34)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *