Tradisi Sambut Tahun Baru Islam, Warga Dembe Siapkan 100 Ribu Kue Apangi

Kue Apangi, kuliner khas Gorontalo, sebagai simbol penyambutan Malam 10 Muharam Tahun Islam

RadarGorontalo.com – Beberapa tahun silam salah satu kuliner khas Gorontalo ini, menjadi makanan khusus menyambut malam 10 Bulan Muhamaram di tahun baru Islam. Dibagikan secara gratis oleh masyarakat, tepat pada hari ke-sembilan bulan Muhamaram. Dua tahun terakhir, di Gorontalo penyambutan malam 10 Muhamaram yang dikenal malam Asyura itu, digelar lebih meriah lagi. Tahun 2016 sebanyak 20.000 kue Apangi disiapkan warga Kelurahan Dembe I, tahun 2017 sekitar 70.000 kue apangi.

Dan di tahun ini, sebanyak 100.000 kue apangi dipersiapkan masyarakat, untuk menyambut malam Asyura. Salah satu kearifan lokal terus meningkat khususnya terhadap masyarakat yang turut berpatisipasi meremaikan Festival Apangi. Di tahun 2016 terdapat 23 rumah warga, tahun 2017 meningkat sampai 60 rumah warga ikut terlibat.

Nah di tahun ini, sebanyak 100 rumah warga dan masyarakatnya berpartisipasi dalam iven tahunan tesebut. Zulkarnain Husain, Tim Kerja Lurah Dembe I jelaskan, tradisi turun temurun digelar masyarakat Gorontalo, sengaja dibuat lebih meriah. Karena, untuk menanamkan budaya Gorontalo kepada masyarakat, dan pengunjung kegiatan berasal dari luar Gorontalo.

Festival Kue Apangi di tahun 2016 silam (foto-dok)

“Dahulu, tradisi ini dilakukan masyarakat hanya dengan mendatangi rumah-rumah warga, untuk membagikan Kue Apangi. Sebagai niat mereka, untuk menyambut hari 10 Muhamaram. Bahkan setelah perayaan ini, masyarakat Gorontalo dahulu beramai-ramain menunaikan Ibadah Puasa pada Bulan Muharam, guna menghapus dosa-dosa mereka, dan bertaubat,” ujar Zulkarnain.

Kenapa kegiatan ini digelar di Kelurahan Dembe I, karena menurutnya wilayah Dembe I merupakan kawasan destinasi wisata budaya, yang ada di Gorontalo. Juga terkenal dengan objek cagar budayanya, yakni Benteng Otanaha. Sejak tahun 2016 warga secara swadaya melaksanakan event ini. Sebagai bentuk ekpresi warga dalam rangka melestarikan Budaya Gorontalo, pada umumnya dan warga Dembe I pada khususnya.

Yaitu dengan cara menyajikan dan berbagi kue Apangi, saat tahun baru Islam tepatnya di malam 10 muharram. Baik yang dibagikan ke tetangga-tetangga, atau untuk berbuka puasa di masjid-masjid. “Tentunya ini didasari semangat Kelurahan Dembe I, yang telah ditetapkan sebagai Kelurahan Wisata Budaya sejak 2005.

Festival apangi, merupakan pengembangan dari budaya “berbagi” kue apangi, menjadi lebih luas yang dikemas dengan sebuah event dengan mengundang seluruh masyarakat. Untuk datang ke Kelurahan Dembe I, makan gratis apangi yang disajikan warga saat malam tanggal 10 Muharram,” terang Zulkarnain.

 

Festival Kue Apangi di Tahun 2017 (foto-dok)

Bagi Kadar, salah satu warga Kelurahan Dembe I, festival apangi ini menjadi sebuah kebanggaan masyarakat Gorontalo. Dimana sebagai orang Gorontalo, kami bisa mengangkat kembali salah satu kue terenal di zamannya. Diketahui menjadi salah satu kue khas Gorontalo, yang hampir tidak ditemukan di dalam “tolangga” (tempat berisi kue tradisional Gorontalo.red) saat Maulid Nabi.

“Kami sangat senang dan bisa bernostalgia lagi. Mengingatkan orang tua bahkan nenek kami memberikan kue apangi sebagai hadiah bagi yang ingin berpuasa, atau untuk momen-momen tertentu. Kami sangat senang dan berebutan untuk kue ini,” tutur Kadar, menceritakan kembali masa kecilnya dulu.

Lain lagi dengan Ama, seorang pembuat kue Apangi yang kerap disapa Ta’ Ama. Dimana ivent besar tersebut selain memberikan pahala besar bagi keluarganya. Juga menambah penghasilannya, sebagai pelaku UMKM Gorontalo. Orderan kue apangi ini jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan kegiatan, sudah dilakukan kontrak pembuatan Apangi. “Kami sudah menyiapkan Tenaga kerja tambahan untuk pembuatan kue Apangi ini,” terang Ta’ Ama.

Keuntungan sama pun diraih Rita, seorang pemilik kios di Kelurahan Dembe I. Dimana barang harin yang ia jual belikan, sudah ia persipakan sejak sebulan sebelum pelaksanaan festival. “Kami sengaja sudah siapkan mengingat di tahun lalu kami kewalahan dengan permintaan bahan. Berupa tepung terigu, tepung beras, Gula Merah, dan lainnya. Kami rasa ini sebuah iven yang bisa membantu kami untuk menambah pendapatan dan memenuhi kebutuhan warga,” singkat Rita. (rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.