Tembak Mati Pengedar Narkoba

ilustrasi (Anwar/rg)

RadarGorontalo.com – Polri makin garang memerangi pengedar narkotika. 18 hari pada awal 2017, sudah empat pengedar meregang nyawa ditembus timah panas petugas. Memang itu belum menjadi instruksi resmi, tapi menurut Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar, tindakan yang menurutnya sudah sesuai prosedur itu, bisa memberikan efek jera bagi pelaku lainnya. di Gorontalo sendiri, sepanjang sejarah penangkapan pengedar atau bandar narkoba, belum ada yang sampai berujung tembak mati.

Selasa (17/1) kemarin saja, Sat Narkoba Polres Gorontalo Kota mengamankan MN alias Man (32), warga asal Sulawesi Selatan, bersama 10 paket sabu-sabu dan uang tunai lebih dari Rp. 3,6 juta, saat akan mengedarkan barang haram di lapangan taruna Gorontalo. MN alias Man sendiri, menambah daftar pengedar narkoba antar provinsi yang berhasil ditangkap aparat. Pelaku pengedar atau pengguna narkoba di Gorontalo sendiri, bukan saja dari masyarakat umum atau pekerja swasta, tapi juga ada ASN, unsur Polri, bahkan siswa SMA. Dari balik lapas Gorontalo sendiri, baik BNNP hingga polisi, pernah berulang kali melakukan penangkapan.

Data sementara hingga pertengahan 2016 silam, total jumlah tersangka ada 33 tersangka. 2 dari kalangan ASN, 2 lagi dari unsur Polri. sedangkan sisanya adalah pekerja swasta. Sayang, melihat barang bukti tangkapan, rata-rata para pelaku ini masuk kategori ikan teri. Berdalih Gorontalo hanya menjadi daerah transit, sampai sekarang belum ada bandar besar yang berhasil diamankan.

Kabid Humas Polda Gorontalo AKBP Ary Doni SIK, mengaku soal perang terhadap narkoba itu adalah komitmen polri. Tembak mati dilakukan, jika pelaku mengancam keselamatan petugas. Tembak mati juga bertujuan untuk memberikan efek jera bagi para pelaku lainnya. “Polri tidak main-main pastinya,” singkat Doni.

Kata Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar, yang pasti, Polri mengerahkan tenaga ekstra untuk mempercepat target Indonesia bersih dari narkotika. Kalau bisa, tahun 2017 ini tidak ada lagi narkotika yang beredar di Indonesia. ”Kita ingin secepatnya bebas dari narkotika yang membunuh generasi bangsa,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombespol Slamet Pribadi menuturkan, penanganan sumber narkotika dari luar negeri, seperti Tiongkok, Taiwan dan Malaysia sebenarnya sudah dilakukan berulang kali. ”Bentuknya share informasi antara negara,” tuturnya.

Namun, masalahnya seperti di Tiongkok itu produksi narkotika memang resmi untuk kebutuhan pengobatan. Namun, ada penyalahgunaan yang dilakukan oleh pengedar. ”Bagaimana pengedar bisa membeli narkotika dari produsen resmi dan menyelundupkan ke Indonesia ini yang kita tidak mengetahui. Namanya juga penjahat,” keluhnya.

Yang juga memicu banyaknya penyelundupan itu karena kjumlah konsumen narkotika di Indonesia yang begitu banyak. Pengedar narkotika mendapatkan untung besar bila bisa dijual di Indonesia. ”Maka, sebenarnya upaya menutup sumber narkotika itu bisa dilakukan dengan penegakan hukum dan menekan jumlah pengguna. Kalau tidak ada pengguna, mau dikirim berapapun ke Indonesia tidak ada yang beli,” tuturnya.
Apalagi, sistem rekrutmen pengedar narkotika itu multi level marketing (MLM). Pengedar merekrut banyak orang yang menjadi bawahannya. ”Sederhananya, bos bandar tidak mengenal kurir dan konsumen. Hanya bandar kecilnya yang mengetahui kurir dan konsumen,” ungkapnya. (rg-62/idr)

Share

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *