Tantangan Inflasi 2017 Lebih Berat, Mampukah Gorontalo Bertahan..?

ilustrasi (Anwar/RG)

RadarGorontalo.com – Gorontalo adalah salah satu provinsi yang dianggap berhasil menekan laju pertumbuhan inflasi, di 2016 silam. Secara tahunan, laju inflasi hanya berada pada angka 2,07 hingga 2,57 (yoy) hingga bulan Desember. Dan itu adalah prestasi. Namun, kebijakan pemerintah di awal tahun 2017 yang mengurangi subsidi listrik hingga gas LPG 3 kg, menjadi tantangan cukup berat bagi pemerintah.

“Saya menyambut baik inflasi kita yang ada pada kisaran 2,07 persen hingga 2,57 persen, jika dibandingkan tahun 2015 sebesar 4,30 persen,” ujar Unggul Priatna, Manajer Komunikasi dan Kebijakan KPW BI Gorontalo. Meskipun inflasi IHK tahun 2016 masih terkendali, Unggul menyebut masih ada beragam tantangan yang dapat mempengaruhi inflasi pada tahun 2017.

Dia menuturkan, tantangan tersebut antara lain adalah pengurangan subsidi listrik 900 VA dan pengurangan subsidi gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg). Selain itu, Unggul pun menyatakan pentingnya tetap mengendalikan harga pangan yang bergejolak atau volatile food pada level yang rendah. Dengan demikian, target inflasi pada tahun 2017 ini tetap dapat tercapai. “Tarif listrik 900 VA akan dikurangi subsidinya, begitu juga dengan gas elpiji 3 kilogram. Jadi, ini area yang perlu diwaspadai,” jelas Unggul.

Adapun faktor-faktor yang akan menjadi penahan laju inflasi Gorontalo 2017 adalah adanya peningkatan target produksi komoditas pertanian seperti padi, cabai, dan bawang merah. Kemudian dukungan pemerintah dalam hal saprodi dan peningkatan infrastruktur pertanian, optimalisasi peran Bulog dan TPID dalam mengendalikan harga. Sedangkan faktor pendorong inflasi Gorontalo 2017 adalah masalah distribusi perdagangan, dimana masih sebagian besar komoditas pangan Gorontalo berasal dari luar daerah.

Belum adanya fasilitas penyimpanan untuk komoditas yang tidak tahan lama, ancaman alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan, resiko permasalah distribusi LPG 12 kg dan 3 kg, kenaikan cukai rokok, peningkatan harga minyak dunia yang berdampak pada BBM, dan fluktuasi nilai tukar rupiah. “Melihat faktor ini, kami memprediksi laju inflasi pada 2017 akan lebih tinggi dibanding 2016, seiring dengan peningkatan belanja atau konsumsi masyarakat,” jelas ungkap Unggul.

Sekalipun inflasi tahun ini diperkirakan akan naik, namun secara spesifik, lanjut dia, hingga Desember kemarin, inflasi masih bisa terkendali, terutama kelompok inflasi volatile food atau harga pangan, seperi perikanan tangkap, dan barito. “Tren inflasi di akhir tahun kemarin membuat kami tetap optimis,” tutupnya. (rg-63)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *