Tak Dilibatkan di O2SN, PBSI Gorontalo Meradang, Darmawan : Pelatih Yang Diutus Dikpora Ilegal

Darmawan Duming

RadarGorontalo.com – Keikutsertaan Gorontalo dalam olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN) yang akan berlangsung 4 hingga 8 September ini di Universitas Negeri Medan (Unimed), membuat organisasi PBSI meradang. Pasalnya, menurut Darmawan Duming tidak ada koordinasi antara Dikpora Provinsi dengan pihaknya. Lihat saja, pelatih yang diutus mendampingi para atlet bulu tangkis, adalah pelatih yang notabene sudah dipecat.

“Kami meminta kepada pemerintah, jika ada kegiatan yang ada hubungannya dengan olahraga bulu tangkis, wajib dikoordinasikan dengan kami,” tukas Wakil Ketua I PBSI Kota, Darmawan Duming yang juga anggota Komisi A, DPRD Kota Gorontalo.

Hingga pada perhelatan O2SN ini pun PBSI tak dilibatkan. Padahal PBSI banyak melahirkan atlit. Lebih parah lagi, untuk tunggal putra bulu tangkis tingkat SMA, justru yang dikirim bukan atlit putra daerah. “Iya, anak itu bukan berasal dari Gorontalo. Anak ini hanya datang dan berlatih dibawa oleh pelatih,” semprot Darmawan.

Pelatih ini pun datang ke Gorontalo sama sekali tidak ada campur tangan pemerintah. Tapi lahir dari negosiasi yang dilakukan PBSI. Bahkan, kata Darmawan, pelatih ini sudah dipecat. “Telah kami pecat dan Alhamdulillah kami di pelatkot sudah punya pelatih baru,” tandasnya.

Yang paling disesalkan, pemerintah yang sama sekali tidak pernah ada koordinasi dengan PBSI, justru mengutus pelatih yang sudah dipecat ini pada O2SN. “Ini kan jelas ketimpangan. Tidak heran kenapa kita di daerah susah dengan prestasi. Ujung-ujungnya ambil pemain, tanpa ada koordinasi. Ketika ada perhelatan muncul bagai raja. Tapi saat selesai, masa bodoh dengan pelatihan. Apa hanya ingin memenuhi persyaratan karena ada anggaran,” semprot Ketua Pelatkot lagi.

Bukan hal yang tabu lagi jika bicara prestasi yang dibangun oleh pelatkot. Pelatkot yang sudah berdiri selama 3 tahun ini telah banyak memberi sumbangsih penghargaan kepada daerah. Seperti tunggal putri tingkat SMA, masuk 8 besar pada kejuaraan di Makassar, bahkan di Jakarta, Sarwenda Cup.

“Jika O2SN biayanya dari pemerintah, maka kejuaraan yang kami ikuti selama ini adalah biaya dari pengurus dan orang tua atlit. Atas hasil kerja ini, kami minta kepada pemerintah agar koordinasi dengan kami. Mari kita saling menghargai demi kepentingan para atlit, dan prestasi bulu tangkis kita,” harap dia.

Namun diluar dari pada itu, PBSI selaku organisasi induk bulu tangkis merasa terabaikan oleh pemerintah. Sebab pelatih baru yang diangkat PBSI justru tidak digunakan dalam perhelatan O2SN. “Hari ini kita sudah ada pelatih baru, tetapi pemerintah tidak mengindahkan. Sehingga menurut kami, pelatih yang telah kami pecat ini posisinya ilegal dalam O2SN,” pungkas pengurus Korwil III PBSI itu. (rg-63)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *