Soal Ganti Nama UNG, Jangan Dulu Suudzon

Penandatanganan Prasasti Acara Peresmian Gedung TC, Rektorat dan Masjid Sabilurrasyad. Foto Doc.

RadarGorontalo.com – Ini pandangan Walikota Gorontalo, Marten Taha soal pergantian nama Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menjadi Universitas BJ Habibie. Menurut dia adalah sebuah kebanggaan bila nama besar Mantan Presiden RI itu tersemat dan melekat di perguruan tinggi terbesar di Gorontalo.

Menurut Marten, ini sebenarnya tidak perlu dipersoalkan. “Kita harus menghargai nama harum beliau B.J Habibie, red),” kata Marten. Marten kemudian menyebutkan beberapa perguruan tinggi, yang notabene menggunakan nama tokoh, kini berkembang cukup pesat, semisal Universitas Samratulangi (Unsrat) dan Universitas Hasanuddin (Unhas).  “Nama B.J Habibie memang sangat tepat dipakai untuk nama sebuah Unversitas, karena tokoh yang satu ini terkenal sebagai seorang cendikiawan,” kata Marten. Meski begitu, Marten tetap menyerahkan semua keputusan tentang perubahan nama ini kepada Senat Universitas.

Pro-kontra tentang perubahan nama UNG menjadi Universitas B.J Habibie ini, juga sempat dikomentari Rektor UNG, Prof. Dr. Syamsu Qamar Badu, M.Pd. Prof. Syamsu yang ditemui Selasa kemarin mengungkapkan, bahwa pro-kontra soal perubahan nama ini, adalah sebuah dinamika. “UNG telah melewati masa-masa peralihan status kelembagaan, dari FKIP ke STKIP, kemudian beralih status lagi dari STKIP ke IKIP dan kemudian menjadi UNG. Pada peralihan status kelembagaan ini, suasananya sangat kondusif dan tidak memunculkan gejolak,” kata Prof. Syamsu.

Perubahan nama UNG menjadi Universitas B.J Habibie ini, semata-mata untuk melakukan lompatan besar sebagai upaya untuk menjawab tantangan global. “Perlu ada lompatan besar di era yang semakin kompetitif ini. UNG harus berada dalam konteks yang lebih luas lagi. Hampir rata-rata perubahan status kelembagaan Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) menjadi sebuah universitas, bukan hanya untuk mempertegas soal status bahwa LPTK adalah milik pemerintah yang punya niat besar untuk bisa tampil sejajar dengan perguruan tinggi atau universitas dengan segudang reputasi dan nama besar,” kata Prof. Syamsu.

Prof. Syamsu juga menjelaskan, kendati sudah berubah nama menjadi universitas, beberapa perguruan tinggi ‘Eks LPTK’ seperti masih sulit untuk keluar dari image dan stigma bahwa ‘Eks LPTK’ tidak lebih dari sekedar perguruan tinggi yang hanya bisa melahirkan Guru. “Sampai dengan saat ini, kesan masyarakat bahwa UNG hanya melahirkan Guru, masih ada. Padahal, tenaga dosen kita sudah banyak yang basic keilmuannya adalah ilmu murni. Fakultas Teknik, termasuk salah satu Fakultas yang sebagian besar dosennya berlatar belakang ilmu murni. Core competency kita, bukan lagi kependidikan dan keguruan, tapi sudah lebih dari itu. Dan untuk bisa keluar dari kesan itu, butuh proses yang panjang. Kita membutuhkan terobosan dan lompatan-lompatan baru agar bisa secepatnya keluar dari kesan itu,” kata Prof. Syamsu.

B.J Habibie, adalah salah satu tokoh yang menjadi simbol semangat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Kita ingin mengambil semangat ini sebagai motivasi agar UNG bisa keluar di dunia yang lebih luas lagi. Dan tidak lagi menjadi perguruan tinggi yang hanya sekedar melahirkan Guru, melainkan bisa melahirkan ilmuan-ilmuan yang kelak akan memperkaya hasanah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Prof. Syamsu Qamar Badu.(rg-40)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *