Rab. Jun 19th, 2019

RGOL

Jangan Takut Bicara Politik

SMP 1 Marisa Ikut Lomba Adiwiyata Tingkat Nasional

2 min read
Tim penilai lomba Adiwiyata Nasional berfoto bersama dengan jajaran guru SMP 1 Marisa yang mewakili Pohuwato dalam penilaian lomba Adiwiyata Nasional. (F. Jun/RG-55)
Tim penilai lomba Adiwiyata Nasional berfoto bersama dengan jajaran guru SMP 1 Marisa yang mewakili Pohuwato dalam penilaian lomba Adiwiyata Nasional. (F. Jun/RG-55)

MARISA (RadarGorontalo.com) – Untuk kedua kalinya, SMP Negeri 1 Marisa mewakili Kabupaten Pohuwato di Lomba Adiwiyata Nasional. Sebelumnya di tahun 2013 berhasil mendapatkan penghargaan Adiwiyata Nasional yang merupakan pengakuan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan dalam pengelolaan lingkungan sekolah.

Maklum saja, SMP 1 Marisa merupakan satu-satunya, sekolah menengah yang mempunyai 8 sekolah binaan dibidang pengelolaan lingkungan sekolah. Bahkan sejumlah sekolah binaannya bukan selevel SD melainkan selevel SLTA/SMK/MA. Komitmen SMP 1 Marisa adalah menjaga dan melestarikan lingkungan dengan moto Sekolah Sebagai Paru-Paru Dunia. “Harapan kami adalah semua sekolah yang menjadi binaan, bisa mengadopsi perilakuk warga SMP 1 Marisa dalam pelestarian lingkungan,” ujar Kepala SMP 1 Marisa, Fitriyadi Rahman.

Kepada RADAR, Fitriyadi mengatakan tujuan dari pelaksanaan Adiwiyata Ini bukan semata-mata mendapatkan nilai ataupun juara nasional. Keikutsertaannya adalah bagaimana membentuk karakater warga sekolah terutama pada peserta didik, bisa menjaga dan melesetarikan lingkungan sekolah yang asri, hijau dan rindang. “Selain itu, program ini juga bertujuan untuk mendukung Pohuwato meraih trophy Adipura Kencana,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penilai Mohamad Bakri Nonko mengatakan bahwa tujuan penilain ini adalah lanjutan dari dokumen yang dikirim oleh pihak sekolah ke Jakarta dan diloloskan pada bulan April kemarin. Sehingga kami datang untuk mengecek dan memastikan data yang dikirim oleh SMP ini.

Sejumlah data seperti 4 komponen yakni studi kebijakan lingkungan, kurikullum,  kegiatan partisipatif lingkungan dan sarana dan prasarana, yang merupakan indikator penilaian. “Di SMP ini, setidaknya ada 12 sarana yang digunakan sebagai media pembelajaran seperti green house, kolam dan pengomposan, bukan hanya sebagai pajangan semata seperti yang kami temukan di Sekolah lain,” pungkas Bakri yang didampingi oleh tim BLH Provinsi Gorontalo dan BLH Kabupaten Pohuwato. (RG-55)

Share

Tinggalkan Balasan