Separah inikah anak zaman sekarang ?

NAMPAK pelajar yang sedang asik merokok, menggunakan seragam sekolah, dikompleks lapangan Buladu, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo.
NAMPAK pelajar yang sedang asik merokok, menggunakan seragam sekolah, dikompleks lapangan Buladu, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo.

Makin Pede Merokok depan umum

RadarGorontalo.com – Ditengah sibuknya pembahasan rancangan peraturan daerah (Ranperda) mengenai tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak dibawah umur, DPRD malah digegerkan oleh kondisi anak-anak yang semakin pede menampakkan diri merokok di depan umum. Bahkan anak-anak ini sangat berani mengkonsumsi rokok dengan menggunkan seragam sekolahnya.

Jika ini memang benar adanya, apakah sudah separah inikah anak zaman sekarang ? Hal ini diungkap langsung anggota Komisi A DPRD Kota Gorontalo, Darmawan Duming, ketika mengetahui kabar ini. “Kalau sudah begini maka siapa yang harus disalahkan, siapa yang bertanggung jawab ? ini adalah satu bentuk kegagalan dalam pendidikan kita,” tegas Darmawan.

Disatu sisi, tambah Darmawan, pemberlakuan harga rokok di Indonesia terbilang sangat murah dan mudah didapatkan. Lebih-lebih tidak ada larangan dari si penjual ketika bertatapan dengan anak-anak selaku pembeli rokok. “Memang sudah ada aturan pelarangan merokok selama berada di lingkungan sekolah, tapi usai sekolah mereka sangat mudah mendapatkan rokok,” terang Darmawan. “Seribu rupiah sudah dapat sebatang rokok. Kalau uang jajannya lima ribu, dalam sehari sudah bisa membeli lima batang rokok,” tambahnya menjelaskan.

Baginya, pendidikan formal memang tidak 100 persen mendidik perilaku anak. Tapi lebih kepada pendidikan akademis, yang hasil akhirnya adalah dalam bentuk angka yang selalu dicari. Meskipun ada beberapa pelajaran yang mengajarkan budi pekerti, tetapi itu tidak sepenuhnya membentuk pribadi yang menunjukan kebaikan bagi dirinya dan orang lain.

Darmawan pun menambahkan, dalam pembentukan karakter, seorang anak biasanya akan meniru apa yang sering mereka lihat. Dan kebanyakan dari mereka ingin merasakan yang mereka lihat. “Misalnya berada di antara keluarga bapaknya yang perokok. Kemudian lingkungan tempat mereka bermain. Ini sangat mempengaruhi karakter dan prilaku anak-anak kita,” jelas Darmawan.

Entah cara apa lagi yang harus dilakukan DPRD dan pemerintah. Terakhir pemerintah cuma menyuruh pabrik rokok untuk mengisi bungkus rokok dengan gambar seram, yakni gambar penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan merokok. Akan tetapi sepertinya hal ini tidak efektif, malah jumlah perokok muda terus bertambah. “Jika anak-anak sudah merokok sejak muda, maka sampai tua mereka akan terus merokok,” tutupnya. (rg-63)

Share

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *