Selamat Datang Saudaraku, ASN Sulteng bisa Pindah ke Gorontalo

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menyerahkan bantuan pemerintah provinsi senilai Rp1 Miliar Bantuan terdiri dari transfer uang tunai senilai Rp500 Juta dan bantuan logistik bagi para korban yang diterima Gubernur Longki Djanggola

RadarGorontalo.com – Gorontalo tak hanya menjadi daerah yang tiba di lokasi bencana, tapi juga menjadi daerah yang paling besar rasa pedulinya untuk pengungsi di Sulteng. Lewat instruksi Gubernur Rusli Habibie, pemprov mengaku siap menampung anak-anak pengungsi dan menyekolahkan kembali di Gorontalo.

Begitu juga dengan para ASN. Mereka yang rumahnya, hancur akibat bencana, dan sudah kehilangan harta benda, bisa pindah menjadi ASN di lingkungan Pemprov. “Ini tentu saja harus atas persetujuan pak gubernur Sulteng, dan rumahnya hancur total,” kata Rusli Habibie, dalam kunjungan ke Palu, Sabtu (6/10) akhir pekan kemarin.

Selain itu Gubernur Rusli yang didampingi oleh Danrem 133/Nani Wartabone, Danlanal, Kajati, Kabinda, Kepala Pengadilan Tinggi serta sejumlah pimpinan OPD ke Palu menggunakan pesawat. Rusli juga berkesempatan bertemu dengan Gubernur Sulteng Longki Djanggola dan menyerahkan secara simbolis bantuan dari pemprov Gorontalo senilai Rp1 Miliar.

 

RH bersama Danrem berada dilokasi pengungsian

Bantuan terdiri dari logistik dan uang tunai senilai Rp500 Juta. Pengungsi yang ingin kembali ke Gorontalo juga dilepas keberangkatannya seusai shalat Dzuhur. Ada 217 orang yang hari ini menuju Gorontalo dengan menumpang 8 unit bus yang sudah disiapkan pemerintah. Keberangkatan para pengungsi mendapat pengawalan personil Polda dan Korem 133/Nani Wartabone.

“Kami diperintahkan langsung oleh bapak Presiden Jowoki bagi seluruh Gubernur, Bupati, Walikota se Indonesia untuk membantu Sulteng. Apalagi kami tetangga dari Sulawesi Tengah, untuk segera turun memberikan bantuan apapun baik tenaga, pikiran, barang-barang yang dibutuhkan,“ jelas Rusli. Kepada korban warga Gorontalo di Palu dan sekitarnya, Gubernur Rusli menawarkan untuk pulang ke Gorontalo dan tinggal bersama sanak saudara di kampung halaman.

Hal ini diperlukan untuk memulihkan kondisi dan mengobati trauma pasca bencana. Bagi anak-anak sekolah Rusli memastikan pendidikannya tetap berjalan selama di Gorontalo. Pemerintah siap memberikan layanan pendidikan secara gratis termasuk bantuan untuk seragam sekolah, sepatu, tas dan alat tulis.

“Juga penawaran dari saya, bagi ASN baik di Provinsi Sulteng maupun di Kota Palu, Kab. Donggala dan Sigi yang ingin pindah ke Gorontalo kami siap menerima. Ini tentu saja harus atas persetujuan pak gubernur Sulteng,” tandasnya. Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Longki Djanggola menyampaikan terima kasih atas kepedulian pemerintah dan masyarakat Gorontalo kepada korban gempa dan tsunami di wilayahnya.

“Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada pak Gubernur dan seluruh masyarakat Gorontalo. Saya sulit mengungkapkan ini, tapi saya harus tabah, karena jika saya lemah maka semua akan lemah. InsyaAllah saya dan juga teman-teman semuanya siap dan kami ada di dalam bencana ini, kami tidak akan lari, kami bertanggung jawab akan memulihkan keadaan Sulawesi Tengah,” ucap Longki terbata-bata.

Longki menyebut hingga saat ini bencana di Sulteng sudah memakan korban jiwa sebanyak 1.800 orang lebih. Angka itu dipastikan masih akan terus bertempah mengingat masa evakuasi akan diperpanjang hingga dua bulan ke depan. Pada kesempatan tersebut, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie ikut menyerahkan bantuan pemerintah provinsi senilai Rp1 Miliar. Bantuan terdiri dari transfer uang tunai senilai Rp500 Juta dan bantuan logistik bagi para korban.

 

Terima Kasih Pak Gub

 

RH saat berdialog dengan pengungsi korban tsunami

Rusli Habibie, tak mampu menahan air matanya saat melihat langsung kondisi Kota Palu yang luluh lantak akibat bencana gempa dan tsunami. Sampai-sampai, kendati sudah banyak bantuan yang dikerahkan, Rusli merasa apa yang dilakukannya masih sangat kurang, untuk membantu masyarakat di daerah itu.

Sampai-sampai, dihadapan warga yang mengerumuninya, Rusli pun tak bisa banyak bicara. Yang terucap hanya kata “sabar, sabar bu.. ini bencana. Semoga kita bisa melaluinya,”. Bersama rombongan, Gubernur Rusli Habibie dan Istri Idah Syahidah, tiba di bandara Mutiara Sis Aldjufri Kota Palu, Sabtu (6/10) menumpang pesawat jenis ATR, dan dijemput langsung oleh Pangdam Merdeka XIII Merdeka Mayjen Tiopan Aritonang.

Dari situ, menumpang bis kecil rombongan menuju posko pengungsian. Sebenarnya, Rusli sudah ditawari menggunakan mobil pribadi sekelas Alphard atau Fortuner, namun ditolaknya. Terhitung ada tiga posko yang disinggahinya. Mulai dari posko Dinas Sosial Pemprov Sulteng, Posko PUPR, hingga Posko KKIG.

Ditiap posko yang disinggahi, Rusli langsung dikerumuni para pengungsi. Sambil berderai air mata, para pengungsi itu menceritakan kengerian saat bencana terjadi, sampai-sampai mereka harus merelakan harta bahkan nyawa, anak, suami, istri serta sanak familinya yang hilang atau meningal dunia.

“Terima kasih pak gubernur. Terima kasih atas perhatiannya kepada kami,” ucap para pengungsi di posko Dinas Sosial Provinsi Sulteng yang kala itu, sibuk menyiapkan makan siang untuk 2000-6000 orang. Seakan merasakan kepahitan yang dialami para pengungsi itu, Rusli pun hanya bisa menundukkan kepala, merangkul para pengungsi yang mendekatinya sambil menyampaikan kata-kata penghiburan, untuk menguatkan hati mereka.

Idah Syahida melihat dari dekat posko pengungsian di lokasi tsunami Palu

Bagi para pengungsi khususnya warga Gorontalo yang ada di sana, kedatangan sang Khalifah, sedikit banyak bisa mengobati kesedihan mereka. Warga pun mengeluk-elukan kehadiran Rusli di tengah-tengah pengungsi. Menariknya, para pengungsi ini mengaku lebih memilih untuk mendatangi posko-posko bentukan Gorontalo, yang dianggap memiliki pelayanan terbaik.

Karena disitu pastinya mereka tidak lapar, apalagi sampai diterlantarkan. Mereka bisa memperoleh layanan kesehatan tak cuma untuk orang dewasa, tapi khususnya anak-anak. Tidak sedikit pengungsi dari posko lain, memilih pindah ke posko posko bentukan Gorontalo, agar bisa mendapatkan pelayanan.

Wajar, karena di posko itu, para pengungsi diperlakukan sangat baik. Kendati jumlah pengungsi membludak, para relawan yang bertugas di posko itu, tetap dengan senang hati melayani satu per satu kebutuhan para pengungsi. Sedikitnya ada tiga posko yang dibangun yakni posko dapur umum, posko BPBD serta posko Dinsos Pohuwato berlokasi di Palu Barat yang mampu melayani 10.100 pegungsi. 700 relawan diterjunkan ke lokasi terdiri dari personil Polda Gorontalo, Korem 133 / Nani Wartabone, Baznas, Tagana, Dinas Kesehatan, PMI, Pramuka, BPBD dan TNI AL.

Usai berkunjung ke posko pengungsian, sebelum bertolak kembali ke Gorontalo, Rusli bersama istri Idah Syahidah dan rombongan, menyempatkan diri berkeliling Kota Palu dan melihat dari dekat, lokasi-lokasi yang terdampak bencana. Seperti Pantai Talise, Taman Ria, serta Mamboro.

Dalam perjalanan, Rusli hanya tertegun melihat dari dekat bekas-bekas bangunan yang rusak akibat gempa dan tsunami. “Astagfirullah…. Astagfirullah…,” demikian kalimat istigfar yang terucap dari mulut Rusli, saat menyaksikan langsung bangunan yang hancur akibat diguncang gempa maupun disapi tsunami. (RG-50)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *