Sekolah Belum siap, FDS Terlalu Dipaksakan?

ilustrasi (Anwar/RG)

RadarGorontalo.com – Full Day School (FDS) diakui sangat positif untuk dunia pendidikan. Namun ini berbuah kontroversi, dikala sekolah tidak siap dengan instrumen pendukung, seperti tenaga guru anggaran dan hal lainnya. Akhirnya ini hanya menimbulkan kesan terlalu dipaksakan. Alih-alih ingin menghasilkan siswa pintar dan berkarakter, justru yang ada hanya siswa yang kelelahan baik fisik maupun psikis.

Dalam rapat dengar pendapat di DPRD Kota Gorontalo, Jumat (17/2), Komisi A berpendapat antara teori pelaksanaan FDS dengan realisasi dilapangan sangat berbeda, bahkan cenderung kontroversi. Para Aleg pun berpendapat, penerapan FDS dipaksakan tanpa mempertimbangkan ketersediaan sarana dan prasarana penunjang. “Memang ada plus minusnya. Tapi yang sangat nampak adalah, sarana penunjang kita tidak memadai,” ungkap Ketua Komisi A, Sjafrudin Junaidi.

Hal senada juga disampaikan Sahlan Tapulu Anggota Komisi A. Dirinya justru mengaku bingung dengan kebijakan Diknas soal FDS. Pasalnya saat ini, Kota Gorontalo tengah diperhadapkan dengan masalah kekurangan tenaga guru. “FDS bagi saya oke, bahkan tujuannya sangat bagus. Akan tetapi, bagaimana mungkin kondisi kita yang diperhadapkan dengan masalah kekurangan tenaga guru, khususnya guru agama, olahraga dan kesenian, yang sedianya menopang pendidikan karakter,” tegasnya.

Masih kata Sahlan, orientasi FDS adalah pendidikan berbasih karakter. Dimana, sekolah akan membentuk anak didiknya memiliki moral yang baik, berakhlak, amanah, jujur, bisa bekerjasama dan cinta kebersihan. Nah, konsekuensi dari semua itu adalah kesiapan perangkatnya. Mulai dari sarana pra sarana, hingga sumber daya manusianya. “Iya, tenaga guru itu tadi. Bahkan harus didukung tenaga profesional, benar-benar memiliki keahlian khusus, tidak sembarangan,” terang Sahlan.

Untuk melengkapi ini semua, kata Sahlan tentu rujukannya adalah anggaran. Semua ini berkonsekuensi pada anggaran. Apalagi jika harus melibatkan tenaga profesional, tentu harus siap dengan tunjangannya. Namun jika kemudian program ini tetap dipaksakan, dipastikan program FDS hanya akan berjalan apa adanya.

Pada kesimpulan akhir, Ketua Komisi A, Sjafrudin Junaidi meminta kepada pemerintah kota (Pemkot) Gorontalo, dalam hal ini Dinas Pendidikan, kiranya dapat memantau dan mengevaluasi kembali program FDS yang sudah diterapkan di sekolah dasar (SD) maupun menengah (SMP). “Berbicara pendidikan karakter memang sesuatu yang kompleks, dan tidak mudah untuk direalisasikan, butuh komitmen dan sinergi yang baik dari berbagai pihak,” pungkasnya.

Masih Tahap Uji Coba

Sebelumnya, Walikota Gorontalo Marten A Taha mengatakan, penerapan Ful Day School (FDS) di Kota Gorontalo, masih tahap uji coba. Meski demikian, sesuai dengan evaluasi yang dilakukan Pemerintah Kota Gorontalo, melalui Dinas Pendidikan Kota Gorontalo. Sudah memenuhi apa yang diharapkan, pertama aktivitas anak-anak disekolah, bukan hanya belajar saja. Tapi pembinaan karakter, mental dan moral, sudah berjalan di setiap sekolah dari berbagai tingkatan.

“Misalnya dalam pembinaan akhlak dan kehidupan dalam keagamaan. Ada tiga waktu di sekolah yang dilkakukan pelajar, mulai dari sholat Duha, Dzuhur dan diakhiri dengan sholat Ashar,” ungkap Marten. Nah dari berbagai aktivitas tersebut, sampai membuat semua pelajar senang berada di sekolah seharian. Dan sesuai dengan laporan yang diterima dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Gorontalo, sudah berjalan baik.

Namun pihaknya tetap masih akan memperhatikan pengembangan dari penerapan program tersebut. Untuk mengetahui apa saja kendala-kedala yang dihadapi, baik pihak sekolah, guru, instansi terkait sampai pelajar dalam penerapan program FDS ini. “Jika ditemukan kekurangan, nanti kita akan sempurnakan,” tutur Marten. (rg-62/rg-63)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *