Sejumlah Ortu Protes Hasil PPDB Online

RadarGorontalo.com – Sejumlah orangtua siswa melakukan aksi protes terhadap hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online di SMA Negeri 3 Kota Gorontalo, Rabu (4/7). Pasalnya menurut mereka, persyaratan yang mereka masukkan sudah memenuhi kriteria, baik itu nilai pelajaran maupun alamat tempat tinggal siswa. “Nilai pelajaran anak anak kami memenuhi kriteria nilai yang harus diterima disekolah ini, bahkan rumah kami dekat dengan sekolah, tapi kenapa anak kami tidak lulus. Jangan jangan sistem online tidak digunakan oleh sekolah ini,” ujar sejumlah orangtua siswa. Meski sudah mendapatkan penjelasan dari pihak sekolah, sejumlah orangtua siswa ini juga mendatangi Dinas Dikbudpora Provinsi Gorontalo yang terletak dikawasan Blok Plan di Desa Ayula, Tapa. Mereka kembali mempertanyakan cara kerja sistem online tersebut.

Koordinator Panitia PPDB Online, Slamet Zakaria yang dihubungi kemarin menjelaskan bahwa sistem online yang dilaksanakan untuk penerimaan siswa baru, sudah berjalan dengan baik dan sesuai. Namun apa yang terjadi di SMA Negeri 3 tersebut, kuota yang disiapkan hanya 320 kursi, dan ternyata peminatnya cukup banyak yakni mencapai 1450 pendaftar. “Bisa dibayangkan, pasti ada yang tidak lulus. Nah mereka yang tidak lulus ini, tentunya kita bagi ke sekolah sekolah yang kuotanya masih tersisa. Jika semua mau berlomba lomba masuk ke sekolah favorit, tentu sekolah itu tidak bisa menampung karena kapasitasnya terbatas,” kata Slamet. Lebih lanjut dikatakan, dari data yang ada, masih ada SMK bahkan SMA lain seperti SMAN 4 dan SMAN 5 masih kekurangan. Ada juga SMA swasta yang masih kurang siswanya. “Ada orangtua yang mengaku dekat rumahnya dari SMA 3, lalu saya katakan sekolah dekat SMAN 3 itu ada SMK 2 juga, kenapa anaknya tidak dimasukkan ke SMK saja toh masih dekat dengan tempat tinggal. Tapi mereka tetap ingin anaknya masuk sekolah favorit. Saat ini mutu pendidikan diseluruh sekolah sama, kualitas tenaga pengajar juga sama, sehingga tidak perlu ada yang merasa berada disekolah favorit atau bukan. Kalau seperti ini, yang jelas apapun sistem yang kita gunakan seandainya orangtua masih punya pikiran menyekolahkan anak mereka disekolah favorit maka ini tidak bisa berjalan dengan lancar,” tutupnya. (RG-25)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *