Rok Mini Penyebab Pemerkosaan

Salah satu pemateri dialog Susanti Tangahu, M.Pd, saat memberikan materi pada kegiatan dialog dalam rangaka memperingati Milad Kohati ke 50 tahun.
Salah satu pemateri dialog Susanti Tangahu, M.Pd, saat memberikan materi pada kegiatan dialog dalam rangaka memperingati Milad Kohati ke 50 tahun.

Kejahatan Terjadi Karena Kesempatan

RadarGorontalo.com – Penyebab pemerkosaan terjadi karena gaya busana minim. Menjawab paradigma yang sudah terbangun saat ini, banyak kaum perempuan merasa terlecehkan. Para perempuan penyuka rok mini berdemonstrasi dan menolak disalahkan. Sebaliknya, mereka menyalahkan ucapan keduanya yang dianggap menimbulkan polemik karena bias gender. Hal ini disampaikan Susanti Tangahu, M.Pd, dalam kegiatan dialog dalam rangka memperingati Milad Korps HMI Wati (Kohati) ke 50, yang dilaksanakan Komisariat IAIN Sultan Amai Gorontalo. Sehingganya yang menjadi pertanyaan apakah Rok Mini, sebuah kesalahan ?

Kecaman sekelompok perempuan itu memang dianggap sebuah kewajaran. Tapi bukan sebuah sikap bijak menyalahkan sepenuhnya paradigma yang sudah terbangun. Sebab kata Susan. pencegahan dari tindakan kejahatan memang seharusnya dilakukan sejak dini. Sebab kejahatan timbul karena adanya aksi dan reaksi. “Pemakaian rok mini, perhiasan berlebihan dan pakaian ketat sangat rawan tindakan pelecehan seksual,” ujarnya pada kegiatan yang bertema ‘Kotahati dalam bingkai cipta, karsa dan rasa’. Dijelaskan Susan, jika demikian yang terjadi maka perlu Perempuan mengubah gaya berpakaian wanita, yaitu menutupi aurat. Dengan menutupi aurat kata Susan, memperkecil kesempatan orang yang berniat baik kepada perempuan.

Timbulnya tindak pemerkosaan di Indonesia khususnya Gorontalo, utamanya kaum perempuan. Sehingganya pelaku kejahatan layak dihukum berat atas perbuatannya merusak dan menghilangkan harga diri wanita. “Karena kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan. Perempuan berbusana ketat, rok mini dan mengumbar aurat dapat membuat syahwat lelaki bergejolak. Pemakaian busana yang meminggirkan aturan agama ditambah perhiasan berlebihan seperti memberikan kesempatan kepada orang lain membuat kejahatan. Apalagi di banyak kota besar banyak perempuan berpakaian tapi sesungguhnya ‘telanjang’,” ketusnya sembari menambahkan momentum Milad Kohati ke 50 tahun ini, seharusnya menjadi ajang refleksi. Kalangan perempuan harus mengembalikan fitrahnya dengan menutup auratnya. Sebab potensi kejahatan seksual banyak dialami perempuan berbusana minim. Ada baiknya, mereka menutup tubuhnya berbalut atau busana yang sopan. Jika tidak mau sesuai syariat Islam, minimal menutup kaki sampai di bawah dengkul.

Islam sendiri kata Susan, sebagai agama sudah mengajarkan perempuan bagaimana melindungi dirinya. Syariat Islam meminta kaum muslimah menutup auratnya yaitu seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan. Lebih tegas Susan mengatakan, Allah menyuruh muslimah untuk berjilbab. Pemakaian jilbab bertujuan agar tidak diganggu lelaki yang bukan muhrimnya. Sebagaimana firman Allah, yang ada dalam surat Al-Ahzab : 59, bawaha “Hai Nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min semua hendaklah mereka menghulurkan jilbab-jilbab mereka atas (muka-muka) mereka. Yang demikian itu lebih mendekati mereka untuk dikenal supaya mereka tidak diganggu,” ujarnya. (rg-60)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *