Roem Kono Protes Impor Jagung, DPR Pertanyakan Sistim Resi Gedung

Roem Kono

RadarGorontalo.com – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Roem Kono terkejut mendengar adanya kebijakan Pemerintah mengimpor jagung sebanyak 100 ribu ton. Pasalnya, produksi jaringan nasional sedang bagus.

Harga di pasaran pun cukup bagus dan menggairahkan petani. “Saya terus terang terkejut mendengar kita mau impor jagung 100 ribu ton. Memang sekarang ini musim kering.

Tapi, sebenarnya stok kita masih melimpah dan itu banyak yang belum terserap,” katanya belum lama ini. Dikutip dari salah satu media nasional,

Roem menyebut, persoalan yang muncul sekarang bukan masalah pasokan. Melainkan masalah tata niaga. Agar masalah itu selesai, dia meminta Pemerintah segera mengimplementasikan Undang-undang Sistim Resi Gudang yang sudah disahkan pada 2006.

Dia meyakini, jika resi gudang bisa dioperasikan di sentra-sentra produksi jagung seperti Gorontalo, bisa membantu para petani dalam penjualan. Saat musim panen tiba, petani tidak khawatir harga jagung akan anjlok.

Sebab, mereka bisa menyimpan jagungnya dengan aman di gudang. Pengusaha juga akan di untungkan. Sebab, jagung tersedia sepanjang musim dengan harga terjangkau.

“Saya sendiri sampai sekarang belum tahu bagaimana Implementasi Undang-undang Resi Gudang. Di Gorontalo saja yang merupakan sentra penghasil jagung.

Kita tidak tahu apa-apa resi gudang disana. Jadi memang masalahnya ini karena tata kelola dan distribusi pangan kita yang belum siap,” katanya.

Sekjen Kementerian Pertanian (Kementan) Syukur Iwantoro menjelaskan makanya harga pakan ternak belakangan ini bukan karena produksi jagung yang kurang. Produksi jagung nasional 2018 surplus.

Indonesia pun telah melakukan ekspor ke Filipina dan Malaysia. Berdasarkan data Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Produksi Jagung dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 12, 49 persen per tahun.

“Itu artinya, tahun 2018 produksi jagung diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK),” kata Syukur. Perkiraan ketersediaan produksi jagung pada November sebesar 1,51 juta ton dengan luas panen 282.3381 hektar.

Sedangkan untuk Desember sebesar 1,53 juta ton dengan luas panen 285.993 hektar. Dari sisi kebutuhan untuk 2018, berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, diperkirakan sebesar 15,5 juta ton PK.

Rinciannya, pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, benih 120 ribu ton PK, dan Industri pangan sebesar 4,76 juta ton PK. Menurut Syukur, ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi meningkatnya harga jagung disuatu lokasi.

Salah satunya karena sebaran waktu dan lokasi produksi yang bervariasi. Saat ini, pabrik pakan ternak masih terpusat di beberapa wilayah saja, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. (**)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.