Roem Kono ‘Gemakan’ Pahlawan Lingkungan Hidup di Jerman

Dari Forum COP ke 23 UNFCCC Bonn

RadarGorontalo.com – Di HARI BERSEJARAH 10 Nopember 2017, diperingati sebagai hari pahlawan seluruh rakyat Indonesia. Di hari bersejarah tersebut. Putra Gorontalo wakil rakyat di DPR-RI Drs Roem Kono,memimpin delegasi COP ke 23 Parlemen RI,sekaligus sebagai keynote Speaker (pembicara), di forum On Combating Climate Change From Land USE Sektor “ COP” 23 UNFCCC, BONN Jerman 8-15 Nopember 2017.

Oleh : Sahril Rasid S.Sos

Pimpinan Delegasi Parlemen RI Drs Roem Kono saat menyampaikan pidatonya di COP ke 23 di Bonn, Jerman.

DIAWAL pidato di hadapan peserta COP ke 23. Drs Roem Kono memperkenalkan rombongan parlemen RI yang dipimpinnya. Keikutsertaan parlemen RI, bukan pertama kali. Tapi sejak sidang COP ke 21 di Paris 2015, dan COP ke 22, di Marrakech 2016.  “ Kami parlemen RI memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan COP ke 23 di Bonn Jerman. Dan partisipasi aktif dari delegasi Indonesia,terutama dari kementerian lingkungan Hidup dan Kehutanan. Parlemen Indonesia, hadir untuk memberikan dukungan atas perjuangan delegasi RI. Mendorong negara maju, merealisasikan bantuan pendanaan,teknologi,dan capacity building dalam rangka kegiatan mitigasi dan adaptasi terkait perubahan iklim,’ kata Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI Drs Roem Kono.

Ditegaskannya,parlemen RI telah menindaklanjuti program dan kegiatan pasca COP ke 21 Paris 2015, COP ke 22 Marrakech 2016,sesuai tugas dan fungsinya. Kurang lebih ada enam program diantaranya adalah, 1. Indonesia telah meratifikasi hasil COP 21 Paris dengan melakukan pengesahan Paris Agreement to The United Nations Framework Convention On Climate Change.2.Mengoptimalkan pengawasan atas pelaksanaan undang undang tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan,serta undang undang tentang konservasi tanah dan air.

3.Terkait dengan pengelolaan dan perlindungann kawasan hutan.Saat ini parlemen RI bersama pemerintah sedang merevisi beberapa undang undang,diantaranya undang undang dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta undang undang tentang kehutanan..4.Parlemen RI juga mendukung pemerintah dalam rangka percepatan pemulihan kawasan dan pengembalian fungsi hidprologis gambut. Kerusakan lahan gambut akibat akibat kebarakan hutan dan lahan. Sehingga perlu upaya upaya kegiatan restorasi gambut secara khusus,sistematis,terarah,terpadu dan menyeluruh termasuk pemanfaatannya oleh masyarkat adat sekitar hutan.

5.Mendorong peningkatan anggaran pemerintah untuk kegiatan : a. Reformasi agrarian seluas 9 juta hektar dan perhutanan social.b. pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan,serta penigakan hukum dalam pemberantasan perusahakan hutan,terutama Illegal Logging. C Rehabilitasi hutan dan lahan serta restorasi lahan gambut. d.perlindungan kawasan konservasi dan pemberdayaan masyarakat desa adat sekitar. 6.Indonesia telah menyampaikan kontribusi ke global dengan endurunan emisi sebesar 29% melalui sumberdaya sendiri dan 41 % bila ada bantuan dari luar negeri.Untuk itu parlemen RI menaruh target dan harapan pada COP ke 23 di Bohn,yaitu : a. Menekan isu penting terkait transparany framework,further guidance untujk NDC terutama mitigasi,adaptation communication. b. peran Negara maju seperti Amerika Serikat,negara eropa,Jepang,China,dan Korea serta negara donor lainnya untuk merealisasikan dukungan pendanaan,teknologi dan capacitity building dengan skema yang disepakati bersama.c. memasukan kepentingan Indonesia lainya dalam COP decision terutama yang akan diadopsi pada COP ke 24 mendatang.

d. selain hutan juga mendorongs sector kelautan sebagai bagian dari perbaikan perubahan iklom global. E. Universalisme dimana solidaritas universal harus menjadi semangat dari COP ke 23 Bohn untuk menyelesaikan urgensi masalah perubahan iklim dunia. “ Kami mendukung sepenuhnya hasil COP ke 23 di Bonn, dan meminta kepda delegasi Indonesia untuk bersama sama menjaga komitman dan kedaulatan bersan dan Negara Indonesia,serta mendorong hasil hasil dari COP ke 23 dapat bermanfaat bagi dunia Global. Dan hari ini tanggal 10 Nopember. Merupakan hari bersejarah bagi Bangsa Indonesia, sebagai hari Pahlawan. Mari, kita jadikan momentum ini,menjadikan kita semua menjadi pahlawan Lingkungan Hidup di Forum COP ke 23 yang terhormat ini,’ ujar Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI ini, mengakhiri sambutannya. Langsung mendapatkan aplaus tepuk tangan dari peserta COP 23 yang dihadiri dari perwakilan negara di dunia.

Dikutip dari wikipedia, Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) adalah perjanjian lingkungan internasional yang dirundingkan pada KTT Bumi di Rio de Janeiro tanggal 3 sampai 14 Juni 1992 dan diberlakukan tanggal 21 Maret 1994. Tujuan UNFCCC adalah “menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer sampai tingkat yang mampu mencegah campur tangan manusia dengan sistem iklim“.

[2] Kerangka kerja ini tidak menetapkan batas emisi gas rumah kaca yang mengikat terhadap setiap negara dan tidak mencantumkan mekanisme penegakan hukum. Kerangka kerja ini menentukan bagaimana perjanjian internasional tertentu (disebut “protokol”) dapat mengatur batas gas rumah kaca yang benar-benar mengikat.Awalnya, Intergovernmental Negotiating Committee menulis teks Konvensi Kerangka Kerja dalam pertemuan di New York tanggal 30 April sampai 9 Mei 1992. UNFCCC diadopsi tanggal 9 Mei 1992 dan dapat ditandatangani sejak 4 Juni 1992.

[3] UNFCCC melibatkan 196 penandatangan per Maret 2014. Konvensi ini mendapat legitimasi luas karena keanggotaannya yang hampir universal.[4]Penandatangan konvensi ini bertemu setiap tahun sejak 1995 dalam Konferensi Penandatangan (COP) untuk menilai kemajuan terkait perubahan iklim. Pada tahun 1997, Protokol Kyoto disepakati dan mewajibkan negara-negara maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

[5] Perjanjian Cancún 2010 menyatakan bahwa pemanasan global di masa yang akan datang harus dibatasi di bawah 2,0 °C (3,6 °F) relatif terhadap tingkat suhu pra-industri.[6] COP ke-20 dilaksanakan di Peru tahun 2014. Salah satu tugas pertama yang ditetapkan UNFCCC adalah pembentukan inventaris gas rumah kaca nasional yang berisikan emisi dan pengurangan gas rumah kaca (GRK) oleh setiap negara penandatangan. Inventaris tersebut akan digunakan untuk menentukan tingkat suhu yang diperlukan agar negara-negara Aneks I Protokol Kyoto bisa bergabung dan berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca. Inventaris harus selalu dimutakhirkan secara rutin oleh neSgara-negara Aneks I.UNFCCC juga merupakan nama Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ditugaskan mendukung pelaksanaan Konvensi ini. Kantornya terletak di Haus Carstanjen, dan UN Campus (Langer Eugen) di Bonn, Jerman. Sejak 2006 sampai 2010, sekretariat ini dipimpin oleh Yvo de Boer. Tanggal 17 Mei 2010, Christiana Figueres dari Costa Rica menggantikan de Boer. Sekretariat yang dibantu oleh program paralel Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) ini bertujuan mencapai kesepakatan melalui rapat dan pembahasan sejumlah strategi, (RG)

Berita Terkait

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *