Reinkarnasi SPG

ilustrasi (Anwart/RG)

RadarGorontalo.com – Banyak anggapan, berbagai problematika dunia pendidikan saat ini, disebabkan oleh kurang kompetennya tenaga pendidik alias Guru. Pasca ditutupnya sekolah pendidikan Guru (SPG) di tahun 90an, pendidikan keguruan sepertinya jadi kehilangan arah. Alih-alih mengharuskan Guru lulusan sarjana, di wilayah pelosok justru banyak guru yang hanya mengenyam pendidikan SMA, tanpa ada pendidikan tambahan. Prihatin dengan kondisi itu, Para alumni SPG Gorontalo pun, coba meredesain gerakan “reinkarnasi” sekolah guru.

Dr. Suleman Bauty M.Hum misalnya. Pengamat pendidikan satu ini menuturkan, dulu alasan ditutupnya SPG saat itu, karena pemerintah menganggap jumlah guru melimpah. Padahal kenyataanya, kelemahan justru terlihat dalam tata kelola di lapangan dunia pendidikan. Tidak sedikit, sekolah di wilayah pelosok, hanya diisi oleh guru lulusan SMA sederajat, yang sama sekali tidak pernah dibekali kemampuan mengajar. Mereka sudah dianggap bisa mengajar di Sekolah Dasar maupun SMP, bahkan taman kanak-kanak. “Dan ini adalah sebuah kesalahan,” tutur Dosen UNG itu.

Bagi Suleman, kesalahan dengan menganggap remeh peran guru, telah menyebabkan efek domino bagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya Gorontalo. “Kurang apa jurus dan ramuan K-13 yg disodorkan skrg ini? Tapi kenyataannya bahwa ini tdk memberi dampak yang signifikan terhadap pendidikan karakter anak bangsa,” seloroh, Alumni SPG 1988 itu.

Berangkat dari keprihatinan itu, bersama sesama Alumni SPG 1988, Suleman coba membangun gerakan ‘reikarnasi’ sekolah guru. “Diagnosis kelemahan implementasi pendidikan perlu direstrukturisasi dlm upaya ketepatan dan keampuhan langkah yang diambil,” timpalnya lagi.

Sementara itu, gerakan reinkarnasi sekolah guru sendiri tak bisa dianggap sepele. Banyak alumni sekolah ini, yang kini menduduki posisi strategis. Beberapa diantara mereka kini bahkan berada di parlemen. Sebut saja, Yosef Tahir Maruf alias Yotama, Weny Liputo, Erman Latjengke, Safwan Bano, hingga sederet nama tokoh terkenal.

Sebelumnya, untuk kali pertama alumni SPG negeri 1 Gorontalo angkatan 1988, melaksanakan penyembelihan hewan qurban. Hasil penyembelihan diserahkan ke seluruh panti asuhan di Kota Gorontalo, serta masyarakat yang membutuhkan.

Walaupun baru 3 ekor sapi di kegiatan perdana kali ini, tapi menurut Haji Nico Mahmud selaku ketua ikatan alumni, kedepan pihaknya akan mengajak lebih banyak lagi kelompok untuk berkurban. “Tahun depan kami akan desain lebih bernilai pada sisi pendidikan karakter sambil meningkatkan jumlah hewan kurban,” ungkap Nico yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu Sekolah dasar di Gorontalo. (rg-40/34)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.