Putus Jalur Distribusi Mercury, Tertibkan Penambang Tak Berizin

RadarGorontalo.com – Pemerintah provinsi bersama tim gabungan, rencananya akan mulai turun untuk menertibkan penambang tak berizin (PETI) yang beroperasi di sejumlah wilayah di Gorontalo. Salah satu cara untuk menertibkannya, adalah dengan cara memutus logistik bahan kimia berupa mercury, yang biasa digunakan penambang untuk mengolah emas.

Banyak alasan bagi pihak berwenang untuk menertibkan penambang tak berizin alias PETI. Selain tentunya tidak mengantongi izin pertambangan, penggunaan zat kimia berupa mercury pun, sangat berbahaya bagi lingkungan sekitarnya. Kendati demikian, menurut Zainal R Farid Kepala Seksi Pertambangan, Dinas Penanaman Modal, ESDM dan Transmigrasi, penertiban PETI bukan perkara mudah, namun tetap harus dilakukan.

Zainal pun menegaskan, kalau sudah turun edaran Menteri ESDM Nomor : 6E/32/MEM.B/2017 tentang Pelarangan Penggunaan Merkuri pada Pertambangan Emas tertanggal 21 April 2017. Kemudian ditindaklanjuti dengan edaran Menkopolhukam Nomor : B-20/Menkopolhukam/De-V/KM/04/7/2017 tentang Penanggulangan Peredaran dan Penggunaan Merkuri Secara Illegal pada Kegiatan Pertambangan tertanggal 14 Mei 2017. Berbekal itu, pihaknya akan mulai melakukan penertiban, salah satunya dengan cara memutus rantai distribusi mercury dari penjual ke penambang. “kita akan identifikasi, lokasi-lokasi penjualan mercury di Gorontalo. Dijual ke mana, atau ke siapa?. Nanti dari situ akan dihentikan,” kata Zainal.

Dikatakannya pula, dalam waktu dekat akan datang beberapa orang dari BPPT, yang akan megunjungi sejumlah lokasi penambangan liar, untuk mensosialisasikan bahaya penggunaan zat kimia tertentu, untuk pengelolaan logam emas.

Bagi Zainal, untuk membersihkan PETI secara keseluruhan, sangat sulit. Pasalnya, mereka bekerja secara sembunyi-sembunyi, sehingga tidak ada data valid tentang jumlah PETI di Gorontalo. Belum lagi, banyaknya PETI justru berasal dari luar Gorontalo. Contoh di tambang Gunung Pani Pohuwato, kebanyakan PETI itu datang dari Sulawesi Selatan, Palu dan Sulut. Mereka akan terlihat banyak, jika ada satu lubang tambang yang booming, begitu usai mereka pulang dan menyisahkan sedikit PETI yang penduduk asli.

Rencananya, penertiban PETI ini akan efektif diberlakukan mulai tahun depan. Tahun ini, mungkin baru sebatas sosialisasi. (rg-34)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *