Pupuk Langka dan Mahal

RadarGorontalo.com – Setiap masuk musim tanam baru, kelangkaan pupuk sudah sering terjadi. Tapi menurut para petani, untuk musim tanam kali ini, terbilang parah. Pupuk yang biasanya dijual, Rp. 90 ribu, kini dilepas dengan harga diatas 200 ribu.

Informasi yang diperoleh dari para petani, mereka menduga kelangkaan pupuk karena ada permainan. Lihat saja, pupuk urea yang biasanya dihargai Rp. 90 ribu, sudah dijual dengan harga diatas Rp. 200 ribu, begitu juga dengan ponska. Saat ditanya ke pengecer, mereka mengaku harga pupuk tidak mengalami kenaikan. Inipun membuat petani kebingungan.

Parahnya lagi, sudah mahal pupuknya pun sering kehabisan. Para petani pun mendesak, pihak terkait segera menelusuri masalah ini. Pasalnya, tak cuma sering terjadi setiap musim tanam, gara-gara pupuk juga, petani terpaksa harus menelan kerugian karena mesti mengeluarkan ongkos ekstra. Saat ini, banyak petani menunda untuk menanam kembali, karena kelangkaan pupuk. Khwatirnya, ini akan pengaruhi produksi pertanian, hingga akhirnya memicu inflasi.

di Gorontalo Utara sendiri, para wakil rakyatnya menyeriusi persoalan tersebut dengan menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan menghadirkan instansi terkait. Mereka pun mendesak, dinas terkait jangan menutup mata, dan harus menyeriusi persoalan tersebut. dan apa yang disampaikan para petani, harus ditelusuri. Terindikasi bahwa, penyalur seolah – olah memonopoli penyaluran pupuk dan bibit. “Peran OPD selama ini bagaimana, apakah tahu dengan kondisi tersebut,” ungkap Djafar Ismail Wakil Ketua DPRD Gorut.

Sebelumnya juga kata Wakil Ketua I Komisi III DPRD Gorut Lukum Diko, RDP bertujuan memediasi dan menindak lanjuti tuntutan masyarakat dalam hal ini para petani dari Kecamatan Anggrek. Dia berharap, OPD juga bear – benar menseriusi persoalan tersebut. Ketua DPRD juga dalam kesempatan tersebut mengatakan, Dinas Pertanian dan Dinas Perindagkop, mengecek persoalan ini. Turun lapangan harus dilakukan, untuk mengetahui secara pasti apa yang menjadi pokok persoalan. “Dampaknya dirasakan langsung oleh para petani, bahkan dirugikan,” ujar Nurdjanah. (rg-51)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *