Pulkam, Disangka Teroris. Begini kronologisnya…

Sarton Umar biasa dipanggil Anton (32), saat dimintai keterangan oleh aparat di Mapolres Gorontalo
Sarton Umar biasa dipanggil Anton (32), saat dimintai keterangan oleh aparat di Mapolres Gorontalo

RadarGorontalo.com – Pasca tewasnya salah satu pimpinan teroris Santoso, baik Polisi maupun TNI memperketat Keamanan di Gorontalo. Nah.. Sabtu (23/7) dini hari, seorang pria diamankan oleh anggota polisi Polsek Limboto Barat. Karena mengaku sebagai pelarian dari Poso. Karena tak punya identitas apapun, pria Bernama Sarton Umar alias Anton (32) itu sempat dikira anggota teroris.

Berikut Kronologis penangkapannya. Berdasarkan hasil wawancara Radar Gorontalo dengan pihak pondok pesantren, Minggu (24/7) sore, Anton datang tanpa membawa bekal apapun, hanya pakaian dibadan. “Dia saat itu mengetuk-ngetuk pintu hingga 10 kali memberikan salam. Kami benar-benar kaget, masih ada orang yang bertamu padahal malam sudah larut. Namun karena kami lihat dia menunjukkan sikap yang baik, maka kami pun menerima kedatangannya. Cuma memang ada keanehan pada dirinya, seperti orang kebingungan. Kami pun sempat memberikan makan kepadanya, bahkan kami menyuruhnya untuk sholat tobat, karena kami anggap dia sedang ada permasalahan,” ungkap salah seorang pengurus pondok yang enggan disebut namanya.

Karena tidak punya identitas yang jelas, termasuk tidak mampu menunjukan Kartu Tanda Penduduk (KTP), setelah kurang lebih 1 jam setengah berada di pondok, oleh pihak pondok Anton kemudian dibawa ke Polsek Limboto Barat. “Kami tidak mau mengambil resiko, karena identitasnya tidak jelas. Makanya malam itu juga security kami langsung membawanya ke Polsek, dia sudah kami serahkan dan ditangani pihak kepolisian,” imbuhnya. Sempat diperiksa dan dimintai keterangan, Anton kemudian penanganannya diserahkan ke Kepolisiam Resort (Polres) Gorontalo.

Diperiksa secara marathon oleh reserse kriminal (reskrim) Polres Gorontalo, dihadapan pihak penyidik Anton mengaku punya kerabat keluarga yang saat ini tinggal atau beralamat di Kelurahan Dembe 2, Kota Gorontalo. Berdasarkan pernyataannya tersebut, dengan tangan diborgol, tim buser Polres Gorontalo kemudian membawa Anton ke alamat yang katanya tempat tinggal kerabat keluarganya. Anton pun berhasil mengenali kerabat keluarganya begitu juga sebaliknya.

“Pertama kami lihat dia (Anton) kami langsung kenal, karena wajahnya mirip papanya,” ungkap Since Umar adik dari bapaknya Anton. “Sudah 15 tahun dia menghilang dan tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Dia menghilang pasca kerusuhan di Poso,” sambungnya. Seperti diketahui, Anton lahir dari orang tuanya yang merupakan warga Gorontalo yang telah lama tinggal di Poso, sehingga sejak kecil Anton memang telah berada di Poso. “Dia terpisah dari orang tuanya kala usianya masih remaja,” tutur Since. Sejak terpisah dari orang tuanya pasca kerusuhan di Poso, tahun 2003 silam, sebagaimana yang diceritakan Since, Anton pernah datang ke Gorontalo. Meski begitu, tidak lama kemudian dia menghilang. “Yang kami tahu sejak hilang dari orang tuanya, dia pernah ke Ternate, Bitung, Luwuk dan Toli-Toli, selebihnya kami tak tahu dia kemana lagi,” tutur Since lagi.

Sementara Anton yang berhasil diwawancarai, mengaku sampainya dia di Gorontalo dilaluinya lewat menumpang truk dan berjalan kaki dari Luwuk, Toli-Toli, kemudian Kwandang. “Saya itu antara sadar dan tidak sadar berjalan dan seperti ada yang menuntun membawa saya ke pondok,” tutur Anton. Kepada Radar Gorontalo Anton mengaku selama belasan tahun berpisah dari orang tua dan keluarga, dirinya bekerja serabutan, dia pun bekerja tanpa harus meminta untuk digaji, yang penting dia bisa makan. Bahkan, saat hidup di Pulau Jawa, dirinya hanya tidur dijalanan. “Saya mah bekerja apa saja, tidur di terminal dan emperan toko, terakhir sebelum ke Gorontalo saya bekerja di somel di Luwuk,” tukasnya.

Kabid Humas Polda Gorontalo AKBP S Bagus Santoso mengaku, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Polsek Poso Pesisir dan Polda Sulteng. Hasilnya, pasca dari tragedi kerusuhan Poso, Anton bersama keluaragnya sudah pindah dari Desa Betania, dan saat ini tidak lagi terdaftar sebagai warga Desa tersebut. “Hasil koordinasi itu, meyakinkan aparat Gorontalo, bahwa bersangkutan bukan anggota teroris dari Santoso,”ujar Bagus.

Sementara itu Kapolres Gorontalo AKBP Heri Rio Prasetio menambahkan, pihaknya telah behasil menemukan tempat tinggal dengan keluarga Anton yag ada di Kelurahan Dembe II. Dan selanjutnya, telah menyerahkan Anton pada pihak keluarganya. “Meski Anton tidak ada hubungan dengan anggota teroris Santoso, kami terus memantau keberadaan dan gerak gerik Anton, selama berada di Gorontalo,”singkat Heri. (rg-62)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *