Puisi di Malam Sebelum Hari Kemerdekaan

Direktur Utama PT. Bank Tabungan Negera (Persero)Tbk, Maryono, saat membaca puisi di Museum Pendaratan Sukarno, Iluta, Batuda’a, kabupaten Gorontalo

RadarGorontalo.com – Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia memberikan makna yang mendalam bagi warga negara Indonesia. Untuk mengekspresikan rasa syukur dan semangat kemerdekaan sebagian melantunkan lagu, dan puisi. Malam sebelum menggelar upacara Bendera di Museum Pendaratan Pesawat Ampibi di Desa Iluta, Kecamatan Batuda’a, Kabupaten Gorontalo tepatnya di tepi danau Limboto, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk membacakan 3 buah puisi yang merefleksikan makna perjuangan, kemerdekaan dan harapan untuk Bangsa Indonesia.

“Puisi ini saya persembahkan sebagai bentuk apresiasi dan rasa terimakasih kami terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, dan secara khusus kepada Gorontalo yang menjadi tuan rumah Upacara Kemerdekaan RI, dalam program BUMN Hadir untuk Negeri,” kata Maryono di Gorontalo, Rabu (16/08).

Tiga puisi yang dipilih adalah “Kekasihku” karya Anwari WMK, “Terimakasih Pahlawan” dari Rayhandi dan “Doa” karya Chairil Anwar. Puisi Kekasihku dibuat oleh Anwari saat melawat ke Gorontalo. Puisi tersebut menceritakan curahan hati sang penyair yang mengkhawatirkan masalah nusantara, nasib masa depan di tangan anak muda yang mengabaikan bangsanya sementara banyak politikus mengibar janji yang tak pasti untuk memajukan bangsa.

Sedangkan puisi kedua karya Rayhandi, seperti judulnya “Terimakasih Pahlawan”, mengungkapkan rasa terimakasih atas pengorbanan para pahlawan dari seluruh pelosok nusantara yang ikut berjuang demi kemerdekaan. Kerelaan dan keihklasan pahlawan mengorbankan harta, benda dan nyawa demi kemerdekaan sulit terbalaskan. “Benang merah dari kedua puisi ini adalah bagaimana peran para penerus kemerdekaan yaitu para generasi muda mengisi kemerdekaan, untuk tidak bersikap cuek, dan menghormati jasa pahlawan dengan terus berkarya mengharumkan nama bangsa,” kata Maryono.

Sementara puisi terakhir, sama seperti dua puisi sebelumnya adalah puisi ekspresionis yang menunjukkan aliran perasaan penyairnya. Puisi “Doa” gubahan Chairil Anwar, merupakan bentuk ekspresi kepasrahan manusia terhadap nasib kepada Tuhan Yang Maha Esa di tengah segala rintangan hidup. “Doa memberikan pesan religious yang memang harus dibangun oleh setiap insan manusia, bahwa kita tidak pernah lepas dari kuasa Tuhan YME,” katanya.

Maryono berharap, pembacaan puisi tersebut menjadi momentum bersama untuk mengenang kisah perjuangan pahlawan dan merenungkan kembali apa saja yang bisa dilakukan generasi muda untuk menghargai Kemerdekaan NKRI.(rg-40)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *