Prostitusi Waria Dibiarkan, LSL Sasar Pelajar

ilustrasi (Anwart/RG)

RadarGorontalo.com – Ini sudah mulai mengkhawatirkan. Tak cuma jumlahnya yang terus bertambah banyak, perilaku menyimpang lelaki suka lelaki (LSL) makin marak di kalangan pelajar. KPA Provinsi Gorontalo mengidentifikasi ada 400 pria yang berperilaku seperti ini, dan diperkirakan angka itu bisa saja lebih besar, mengingat belum semuanya teridentifikasi. Disisi lain, LSL menjadi salah satu penyumbang tertinggi penderita HIV / AIDS di Gorontalo.

Belum lama ini, Idah Syahidah selaku Ketua Tim Asistensi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Gorontalo, mengungkap data yang cukup mencengangkan. Tak kurang dari 400 orang pria, teridentifikasi berperilaku seks menyimpang alias suka sesama jenis. Jika merujuk ke data 2017, pengidap HIV/AIDS di Gorontalo, berjumlah 103 orang. Dan 57 persen diantaranya, adalah mereka yang penyuka sesama jenis khususnya LSL. Bahayanya, para LSL ini sudah mulai membentuk komunitas yang anggotanya ratusan orang.

Bagi orang Gorontalo, sebenarnya suka sesama jenis seperti ini adalah hal tabu, bahkan mereka yang ketahuan menyimpang, maka itu adalah aib dalam keluarga. Tapi saat ini, sepertinya mereka dengan perilaku tak wajar itu, sudah tak malu lagi menunjukkan identitas mereka di masyarakat. Bahkan, di beberapa tempat seperti perlimaan telaga, sering terlihat deretan waria yang berdandan, dan menjajakan diri.

Prostitusi waria bukanlah hal baru di Gorontalo. Ironisnya, praktek maksiat itu sepertinya dibiarkan. Buktinya, hingga kini mereka para Waria atau penyuka sesama jenis itu, bebas beroperasi tanpa khawatir akan ditindak atau digaruk aparat. Padahal, bicara soal prostitusi tidak hanya melibatkan wanita tuna susila saja.

Seperti diutarakan Lazimatul Hilma Kau, Ketua Aisyiah Kota Gorontalo. Tak cuma prihatin, Hilma mengungkap fakta baru tentang LSL di kalangan pelajar. Bahkan dirinya pernah mendengarkan pengakuan salah seorang siswa SMA, yang mengaku punya pacar pria di sekolah lain. “Mendengar hal itu kami sangat miris. Sehingga saat itu yang kami lakukan adalah memberikan pembinaan dan pencerahan kepada siswa tersebut,” tutur Hilma yang juga menjadi tenaga pengajar disalah satu sekolah menengah atas ini. Hilma berharap, pemerintah bisa serius melihat persoalan ini. Karena ini terkait dengan generasi penerus di Gorontalo. Apalagi, LSL merupakan perilaku menyimpang yang bisa menular.

Sementara itu, diperoleh dari berbagai sumber, perilaku menyimpang ini bukan saja pembawaan psikis yang bersangkutan, karena ada juga pria normal yang kemudian terjerumus hanya karena berada di lingkungan itu. Pemikiran-pemikiran negatif yang ditularkan, bisa membuat pria normal membenarkan perilaku itu, hingga kemudian terlibat aktif didalamnya.

Hal tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja karena dampaknya sangat besar. LSL bisa membahayakan kesehatan, pendidikan dan moral seseorang. Selain berdampak pada kesehatan, LSL juga mempengaruhi pendidikan seseorang. Sebab faktanya, seorang LSL memiliki permasalahan putus sekolah 2 kali lebih besar dibandingkan dengan siswi atau siswa normal. (rg-25)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.