Piutang Pilwako 2013, Fadel Gugat MADU

Ir. H. Fadel Muhammad

RadarGorontalo.com – Kamis (02/11), Pengadilan Negeri Gorontalo kembali mengagendakan sidang kedua gugatan perdata yang dilayangkan Fadel Muhammad terhadap pasangan Marten Taha-Budi Doku (MADU). Pada sidang kali ini, Majelis Hakim terpaksa menunda sidang karena salah satu tergugat yakni Charles Budi Doku tidak hadir dan tidak mengirimkan kuasa hukum sebagai perwakilan. Sementara salah satu tergugat lainnya, yakni Marten Taha hanya diwakili dua kuasa hukumnya. Sidang pun akan dilanjutkan kamis (09/11) pekan depan.

Sebelumnya pada sidang perdana, rabu (25/10) lalu, kedua tergugat baik Marten Taha dan Charles Budi Doku juga tidak hadir dalam persidangan. Yakop Mahmud yang juga penasehat hukum Fadel Muhammad mengaku kecewa dan sangat menyayangkan tidak hadirnya tergugat dalam sidang kali ini. “ini sudah kedua kalinya. Masih ada kesempatan satu sidang lagi. Kalaupun nanti tergugat tetap tidak hadir pada sidang ketiga, maka majelis hakim akan langsung memeriksa perkara ini, dan ada kemungkinan akan diputuskan atau hak tergugat untuk memberikan jawaban dalam perkara akan dilepas atau tidak ada lagi.” ujarnya.

Sehinggahnya Yakop berharap agar sidang ketiga nanti, para tergugat ini bisa lebih kooperatif dan hadir, sehingga perkara ini cepat terselesaikan dan ada titik terangnya. Sebagaimana diketahui, pada tanggal 22 September 2017 lalu, Fadel Muhammad melalui kuasa hukumnya, mengajukan gugatan wanprestasi ke Pengadilan Negeri Gorontalo register perkara nomor 49/Pdt.G2017/PN GTO. Fadel Muhammad menggugat, Marthen Taha dan Budi Doku terkait utang piutang Pilwako tahun 2013 sebesar Rp. 1 Miliar.

Sementara itu Budi Doku menjelaskan, ke tidak hadiran dirinya dalam sidang itu, karena sudah diwakili oleh kuasa hukumnya. Soal hutang tersebut, Budi menjelaskan bahwa, pekan kemarin Fadel Muhammad sudah mengundang dirinya di kediaman Fadel. Membicarakan hal itu, dan turut disaksikan Adi Pala serta seorang asisten Fadel Muhammad. “Yang saya tahu hutang itu Rp. 650 Juta. Jujur saya kaget ketika tahu pinjaman itu sudah Rp. 1 Miliar. Rp. 150 Juta sudah dibayarkan, sisanya Rp. 500 Juta, masing-masing dari kami akan melunasinya. Dan saya bersama keluarga, berterima kasih pada Pak Adhan, yang mau membantu melunasi hutang tersebut. Dalam agama, hutang itu harus dibayar,” ujar Budi.

Adhan Dambea sebagai Kuasa Hukum Insidentilnya Budi Doku juga menjelaskan, pihaknya siap membayar hutang yang dipakai lawan politiknya di Pilwako tahun 2013 silam itu. “Separuh dari Rp. 500 juta siap saya bayar, dengan menjual AD Center dan mengumpulkan koin dari masyarakat. Sebagai calon walikota dari Pak Budi, kami siap menyelesaikan hal ini. Menurut saya, Fadel sedikit keliru dalam persoalan ini, karena pada awal peminjaman Pak Budi tak mengetahui jumlah peminjaman uang itu, dan tiba-tiba sudah menjadi Rp 1 miliyar. Ini yang saya sayangkan,” tutur Adhan. (rg-46/rg-62)

Berita Terkait

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *