Perjuangan Siswa SMA N 1 Pinogu, 11 Jam Berjalan Menembus Hutan Untuk Ikut UNBK

Siswa SMA N 1 Pinogu saat mengikuti UNBK (foto : Agus/RG)

RadarGorontalo.com – Menumpang di sekolah lain untuk ikut Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), adalah hal biasa. Tapi bagi 17 siswa asal SMA N 1 Pinogu, ini membutuhkan perjuangan cukup berat. Mereka harus berjalan kaki sejauh 40 kilo meter, dan memakan waktu hampir seharian penuh, untuk mencapai lokasi ujian. Menariknya, berbeda dengan siswa kebanyakan, 17 siswa itu, ikut UNBK tanpa pernah sekalipun ikut simulasinya.

Agus Limehu, Radar Gorontalo

Desa Pinogu terletak di Kecamatan Pinogu Kabupaten Bone Bolango. Julukan desa terpencil, melekat di nama Pinogu. Wajar saja, untuk menuju desa ini warga menempuh perjalanan kurang lebih 40 kilo meter. Medan yang ditempuh pun terbilang cukup berat, karena harus menembus hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Warga memang bisa menggunakan jasa ojek, namun ongkosnya luar biasa mahal. Sekali jalan harus bayar Rp. 300 ribu. Bahkan, ketika musim penghujan ongkos ojek bisa naik sampai Rp. 500 bahkan 800 ribu. Maklum di waktu-waktu itu, medan yang dilalui semakin berat. Cerita Pinogu sebagai desa terisolir, bukan lagi hal baru bagi masyarakat Gorontalo.

Jumat (7/4) pagi, Selvia Hadju salah seorang siswa SMA N 1 Pinogu bersiap-siap untuk turun dari Desa Pinogu menuju Desa Tulabolo Kecamatan Suwawa Timur. Mereka berkumpul disekolah SMA N 1 Pinogu, bersama 16 siswa lainnya yang akan mengikuti UNBK. Sekitar pukul 07.00 Wita, mereka pun mulai berjalan dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah Iskandar Komendangi. Para siswa terpaksa memilih berjalan kaki, karena biaya transportasi yang mahal.

Selvia Hadju bersama teman-teman saat mengikuti UNBK di SMK N 1 Suwawa, Senin (10/04) (Foto: Agus/RG)

Medan yang harus dilalui para siswa untuk menuju Desa Tulabolo, sangat berat. Hujan yang turun beberapa hari terakhir, membuat jalanan berkubang dan becek. Kondisi ini menyita energi para siswa. Sesekali mereka harus berhenti untuk istirahat. Apalagi dari 17 siswa itu, 5 diantaranya adalah perempuan. Usai berjalan selama kurang lebih 11 jam, tepat pukul 18.00 Wita, para siswa itu akhirnya sampai di Desa Tulabolo. Pakaian yang setengah dipenuhi lumpur, tak dihiraukan karena tubuh yang begitu lelah. Kali ini, para siswa tak perlu lagi berjalan. Mereka cukup menyewa jasa becak motor (Bentor), untuk menuju rumah kepala sekolah tempat mereka menginap. “Tiba di Tulabolo saja, sudah membuat kami lega. Karena tak perlu lagi berjalan kaki,” ujar Selvia. Sesampainya di rumah kepala sekolah di Desa Bube Baru Kecamatan Suwawa, Selvia bersama rekan-rekannya langsung berisirahat untuk persiapan agenda simulasi besok harinya.

Belum hilang rasa lelah akibat perjalanan jauh, Sabtu pagi Selvi harus menuju sekolah SMK N 1 Suwawa untuk ikut simulasi UNBK. Sayang, sesampainya di sekolah, mereka tak bisa lagi ikut simulasi karena server sudah stand by untuk pelaksanaan UNBK. Alhasil, mereka hanya bisa menonton video tutorial yang berisi penjelasan seputar cara-cara ikut UNBK mulai dari login server hingga pengerjaan soal. Lagi-lagi ini tidak menyurutkan semangat 17 siswa Pinogu, mereka tetap antusias. Itu terlihat, saat mereka mengikuti UNBK, Senin (10/4). Tak ada kendala berarti bagi para siswa itu, untuk mengoperasikan komputer. Bahkan dari pantauan Radar Gorontalo, siswa asal SMA 1 Pinogu mendapat perhatian khusus. Satu orang teknisi yang biasanya memantau tiga kelas, kemarin hanya terlihat fokus di ruangan yang ditempati anak-anak dari Pinogu saja. Wajar, karena dari tiga kali jadwal simulasi, tidak satupun yang diikuti anak-anak Pinogu ini.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA N 1 Pinogu Iskandar Mokoginta saat diwawancara mengakui, keinginan pihaknya ikut UNBK didasari harapan agar SMA N 1 Pinogu bisa terakreditas. Dan ini bukan sepenuhnya kebijakan sekolah, tapi berdasarkan kesepakatan dengan orang tua siswa. SMA N 1 Pinogu sendiri, memiliki 51 orang siswa dengan guru berjumlah 5 orang termasuk kepsek, yang mengajar di tiga ruang kelas. Jumlah guru yang kurang, membuat beberapa mata pelajaran seperti fisika, kimia, biologi harus dirangkap oleh guru yang disiplin ilmunya berbeda. Iskandar berharap, semngat anak-anak SMA N 1 Pinogu, bisa mengetuk hati pemerintah untuk memberikan bantuan khususnya mengatasi persoalan kurangnya tenaga pengajar. (**/RG)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.