Pemerintah Berencana Naikkan Harga Cukai, Rokok Makin Mahal

ilustrasi (Anwart/RG)

RadarGorontalo.com – Beberapa tahun kedepan, rokok dipastikan akan menjadi salah satu barang mahal yang hanya bisa dinikmati orang kaya. Lihat saja, setelah kenaikan cukai rokok 10,54 persen di awal 2017, rencananya pemerintah akan kembali menaikkan harga cukai rokok di 2018 mendatang. Nilainya tidak tanggung-tanggung, bisa mencapai angka diatas 9 persen.
Ada dua pilihan, berhenti merokok atau lanjut merokok kendati harus merogoh kantong lebih dalam. di Provinsi Gorontalo sendiri, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) rokok menjadi salah satu penyumbang inflasi. Ketergantungan terhadap rokok, sudah masuk level paling parah. Jangankan orang dewasa, saat ini anak SD pun sudah ada yang pandai merokok.

Dirjen Bea dan Cukai Kemenkeu Heru Pambudi menuturkan, pemerintah akan berbicara lebih dulu dengan kedua pihak. ’’Pertama, yang berkepentingan dengan industri, termasuk petani. Satu pihak lainnya yang terkait dengan kesehatan,’’ katanya di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, kemarin (18/8). Namun, Heru belum bersedia mengungkapkan besaran kenaikan tarif cukai hasil tembakau untuk tahun depan. Dia hanya menegaskan bahwa kenaikan cukai mempertimbangkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi tahun ini. Jika mempertimbangkan dua faktor tersebut, diperkirakan kenaikannya sekitar 9 persen. ’’Yang jelas sudah masuk dalam target penerimaan cukai tahun depan, tapi belum didetailkan secara teknis,’’ ujarnya.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara menambahkan, kenaikan tarif cukai hasil tembakau dibahas pada akhir tahun. Aturan kenaikan cukai rokok itu juga akan dituangkan dalam peraturan menteri keuangan (PMK). Meski begitu, pihaknya menegaskan bahwa pemerintah tetap mengkaji lebih dalam kenaikan tarif cukai rokok tersebut. ’’Struktur industrinya kan ada yang besar, menengah, dan kecil. Jadi, kami akan mengkajinya cukup dalam supaya bisa mendapatkan tingkat tarif yang pas dengan melihat kondisi industri dan target penerimaan cukai,’’ ujarnya kemarin.

Dalam RAPBN 2018, pemerintah menargetkan penerimaan bea dan cukai Rp 155,2 triliun. Jumlah itu naik tipis 1,3 persen jika dibandingkan dengan target dalam APBN Perubahan (APBNP) 2017. Target tersebut terdiri atas penerimaan cukai hasil tembakau Rp 148,23 triliun, cukai etil alkohol Rp 170 miliar, dan cukai minuman yang mengandung etil alkohol (MMEA) Rp 6,5 triliun. Asosiasi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) berpandangan bahwa kenaikan cukai rokok bakal berdampak pada seluruh mata rantai industri tembakau nasional seperti petani, pekerja, pabrikan, pedagang, dan konsumen. Koordinator Media Center AMTI Hananto Wibisono menyatakan, saat ini lebih dari 6 juta rakyat Indonesia menggantungkan penghidupannya pada industri tembakau. ’’Perinciannya, sekitar 2 juta petani tembakau dan pekerjanya; 1,5 juta petani cengkih dan pekerjanya; 600.000 tenaga kerja pabrikan rokok; dan 2 juta pedagang,’’ ungkapnya. Hananto menambahkan, kenaikan cukai tembakau juga akan menumbuhkan rokok ilegal. Dengan tingkat cukai saat ini, perdagangan rokok ilegal mencapai 11,7 persen dari produksi nasional. ’’Hal iu tentu kontraproduktif dengan upaya pengendalian konsumsi rokok, peningkatan penerimaan negara, dan perlindungan tenaga kerja,’’ ujarnya. (ken/car/c22/sof)

Berita Terkait

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *