Pelanggan Orang-orang Penting, Bisnis Lendir Online Menjamur 

Ilust le Anwart

Memanfaatkan kecanggihan teknologi, kini praktek prostitusi terselubung mulai memanfaatkan sosial media. Tarifnya pun fantastis. Untuk sekedar video singkat, harus membayar Rp500 Ribu. Nah, jika mau lanjut ke kasur, tarifnya lain lagi.

Karena dianggap lebih aman, transaksi seperti ini hanya bisa dinikmati mereka yang berkantong tebal. Menariknya, para wanita yang terlibat dalam bisnis lendir ini, kebanyakan berasal dari luar Gorontalo

Abink reporter Harian Rakyat Gorontalo

Sebut saja Melati. Remaja dari daerah tetangga ini, mengaku sudah lama terjun di bisnis ini. Tidak butuh pihak ketiga alias germo, cukup memanfaatkan sosial media, pelanggan datang sendiri. Tarif hingga waktu kerja pun, bisa ditentukan sesuka hati.

Transaksi dibuka dengan chating biasa, hingga berujung mengirim video bugil berdurasi pendek. Itu saja, sudah dibandrol Rp. 500 ribu. “Harga video yang saya kirim, itu pembicaraan awal dan tidak bisa diubah lagi.

Jika terjadi pembicaraan baru, itu lain lagi,” ujar Melati yang bersedia diwawancarai Harian Rakyat Gorontalo kemarin. Tak banyak usaha yang dilakukan si Melati. Menurutnya, untuk menarik pelanggan, cukup menebar nomor kontak whatsapp miliknya.

Karena bandrolnya cukup mahal, Melati mengaku hanya membatasi pelanggan kepada yg berkantong tebal saja. Kata Melati, belum lama ini dirinya sempat dihubungi seseorang yang belakangan diketahui sebagai oknum politisi ternama.

Oknum tersebut, mendapati nomor wa melati dari akun facebook miliknya. Awalnya hanya berbincang biasa. Namun ujung-ujungnya, si oknum meminta Melati mengirimkan foto diri.

Bukan mengirimkan foto, Melati justru berjanji mengirimkan video berdurasi pendek tanpa busana, asalkan ditransferkan uang Rp. 500 ribu. “Kalau Om mau, saya kirim video bugil saya, tapi om harus kirim uang Rp 500 ribu.

Saya mau bayar kos-kosan, soalnya Ibu kosnya terus menagih ,” ujar Melati, mengenang kembali percakapannya dengan si seorang politisi.  Tak banyak cakap, sms banking pun masuk ke selular, melaporkan adanya transaksi.

Melati pun membalas dengan mengirimkan video yang dijanjikan. Hingga akhirnya Melati diajak oknum tersebut untuk menemaninya selama perjalanan luar daerah. Melati hanya lulusan SMP. Bisnis ini diketahuinya saat masih bekerja di salah satu karaoke di Manado.

Tergiur dengan keuntungan menjanjikan, Melati pun terjun ke bisnis haram ini. “Lantas saya mau kerja apa, kalau tidak dengan pekerjaa ini. Dengan begini juga, saya cepat mendapatkan uang. Beli baju, sendiri, makan makanan yang enak-enak sesuai selera, jalan-jalan juga,” terangnya.

Menariknya dari pengakuan Melati terungkap, kalau bisnis ini tak cuma dilakoni sendiri. Ada 35 orang wanita dari berbagai daerah yang tergabung dalam group whatsapp yang diberi nama BO (istilah booking out) cara pesannya, tergantung dari pelanggan, siapa yang dihubungi, itu yang menerima hasilnya.

Kami tidak memiliki bos atau pemimpin, tetapi kami rekan sesama profesi saja,” jelas Melati. Sayang, dirinya tidak menjelaskan bagaimana cara masuk dalam group tersebut.

Berapa banyak akun bisnis lendir online beroperasi di Gorontalo, menurut Sekretaris KPA Kota Gorontalo dr. Riana, itu sangat sulit diteksi. Karena pelakunya, paling sering tidak berada di Gorontalo atau Kota Gorontalo khususnya, melainkan di luar daerah.

Meski demikian, KPA sendiri terus melakukan pemantauan terhadap sejumlah akun bisnis lendir online tersebut. Dan sudah ada beberapa akun yang dimiliki KPA Kota Gorontalo, meski untuk menemukan mereka masih terbilang sulit.

“Pencegahan dan penelusuran terhadap mereka, rutin KPA lakukan. Agar bisa menekan ruang mereka, merajalela lingkungan Gorontalo khususnya Kota,” tegas Riana.

“Pesan saya, untuk semua masyarakat Kota Gorontalo khu\susnya remaja, untuk lebih berhati-hati dengan akun-akun tertentu. Supaya tidak terjerumus ke lingkaran prostitusi,” timpal Riana, berpesan. (#)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.