Pelajar Minim Pengetahuan Bahaya HIV/AIDS

RadarGorontalo.com – Dari hasil pertemuan antara instansi terkait bersama Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), terkuak tidak sedikit pelajar di Kota Gorotalo belum mengantongi pengetahuan tentang bahaya HIV/AIDS. Padahal sikap pelajar sangat rentan terkena penyakit HIV/AIDS. Menurutu salah satu anggota KPAN Hardi Sidik mengatakan, sifat pelajar atau remaja adalah tantangan bagi KPAN, sebab remaja sangat mudah terjerumus kelembah hitam. Sehingga ia bersama Dinas Kesehatan Kota berharap, Dinas Pendidikan dan lembaga pendidikan se Kota Gorontalo, dapat turut andil dalam pencegahan HIV/AIDS. “Minimnya pengetahuan remaja atau pelajar tentang bahaya HIV/AIDS, bukan hanya menjadi tantangan bagi pihak kami dan pemerintah. Tapi menjadi ancaman bagi remaja dan pelajar itu sendiri, karena masa depan mereka masih panjang,” ujar Sidik.

Seperti informasi yang behasil dihimpun pihak KPAN melalui Dinas Kesehatan Kota, belum lama ini pihak Dinas Kesehatan Kota Gorontalo menemukan satu kasus AIDS. Maka dari itu ia menekankan agar semua stake holder termasuk masyarakat, agar meningkatkan pencegahan terhadap virus penyakit ini, terlebih pada remaja dan pelajar. Sebab dari hasil temuan Dinas Kesehatan Kota, virus penyakit ini tidak hanya menyerang orang beresiko, tapi sudah mulai masuk di lingkungan rumah tangga. “Tujuan kami melakukan pertemuan bersama instansi terkait, adalah meningkatkan pencegahan HIV/AIDS di wilayah, sehingga Kota Gorontalo benar-benar tidak ada lagi penyakit ini,” tutur Sidik.

Sementara itu Kadis Kesehatan Kota Gorontalo dr. Nur Albar menambahkan, pencegahan dari penyebaran epidemi virus HIV/AIDS mesti dilakukan dari hulu sampai ke hilir. Agar epidemi ini tidak berkembang ke arah yang lebih buruk, maka harus dilakukan upaya pencegahan secara terus menerus dan bersinergi dengan berbagai pihak. Menurut Nur Albar, upaya hulu dapat dilakukan dengan memberi pembekalan cukup kepada masyarakat, mengenai pendidikan moral, agama, mengenai kesehatan reproduksi, pergauluan seks bebas. Serta pengetahuan mengenai bahaya penggunaan Napza, Narkoba dan obat terlarang lainnya. Sementara untuk pencegahan di hilir, yakni bagi mereka yang belum beresiko diperlukan upaya pada peningkatan populasi yang tetap melakukan perilaku beresiko. “Upaya ini bertujuan memperhatikan jalur-jalur transmisinya, seperti transmisi seksual, transmisi melalui alat jarum suntik pada pengguna narkotika serta napza dan transmisi melalui penularan dari ibu kepada anaknya,” terang Nur Albar.(rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.