Paskibra Pertama Gorontalo yang ke Istana

Biko Mointi (lingkaran merah) bersama para paskibraka yang bertugas di tahun 1975, berpose bersama Presiden RI ke 2, Soeharto. (f.istimewa)

RadarGorontalo.com – Beberapa tahun terakhir, putra-putri Gorontalo terpilih menjadi anggota pasukan pengibar bendera (Paskibra) di Istana Negara. Tahun ini, giliran Muhamad Iqbal Mahmud siswa SMA 3 Gorontalo dan Tiara Syafa Mustafa yang terpilih mewakili Gorontalo di istana sebagai anggota Paskibraka. Jauh sebelum itu, pad tahun 1975, jejak sebagai paskibraka nasional sudah lebih dulu dirintis Biko Mointi dan Almarhum Jhon Tilameo.

Sabrin, Radar Gorontalo.

Bude Biko, sapaan akrab Biko Mointi. Sejak menikah dengan Renny Bukusu, wanita yang kini berumur 61 tahun itu, memilih ikut suami dan pindah ke Jakarta. Saat dihubungi via selular, Bude pun bersedia diwawancara Radar Gorontalo.

Biko Mointi bersama dua paskibra 2018 asal Gorontalo, masing-masing Muhamad Iqbal Mahmud dan Tiara Syafa Mustafa

Sambil mengingat-ingat, Bude Biko perlahan menceritakan ikhwal dirinya terpilih sebagai salah satu pasukan pengibar bendera. Kala itu, Gorontalo yang masih satu dengan Provinsi Sulut, diminta mengirimkan wakilnya, untuk ikut seleksi menjadi anggota Paskibraka di Istana negara. Dan yang terpilih adalah dirinya dari SMKK Kota Gorontalo atau saat ini SMK 1, bersama Alm Jhon Tilameo dari SMA 1 Kota Gorontalo.

Di Manado, Biko dan Jhon Tilameo, harus bersaing ketat dengan siswa siswi utusan dari daerah lain, seperti Bitung, Kotamobagu, Sangihe dan Kota Manado sendiri. Jangankan bermimpi untuk jadi Paskibraka di istana, diutus mewakili Gorontalo untuk ikut seleksi di Manado saja, sudah syukur. Tak kurang dua pekan, Biko dan Jhon harus ikut rangkaian seleksi bersama ratusan paskibraka utusan daerah lain.

Biko dan Jhon akhirnya ditunjuk untuk mewakili Provinsi Sulut sebagai anggota Paskibraka di Istana. Biko masuk sebagai anggota pasukan 17, yang secara spesifik diberi tugas sebagai penyeimbang yang posisinya berada di ujung kanan depan barisan. Sedangkan, Jhon mendapat kesempatan sebagai anggota pasukan 8, dan bertugas sebagai pengibar bendera.

Masih tergambar jelas, momen-momen jelang keberangkatannya ke Jakarta untuk ikut karantina. Pasalnya, beberapa waktu sebelum saat proses seleksi berlangsung, Biko sedang berduka, karena Ibunda tercinta meninggal dunia. Bahkan, Biko pun sempat dilema, karena bertepatan dengan peringatan 100 hari meninggalnya sang bunda, di hari yang sama, Biko harus bertolak ke Jakarta. “Maaf, Bude sedikit sedih, teringat mama,” ujarnya lirih, menggambarkan kesedihannya kala itu. “Usia saya yang masih 17 tahun itu, sangat akrab dan manja dengan Almarhum Ibu. Saya saat itu, sangat dilema. Namun, dipundak saya juga ada amanah yang hanya sekali saja datangnya, dan tak bisa terulang. Saya bersyukur dan lega, karena adanya dukungan keluarga, yang mendorong saya untuk terus melanjutkan perjuangan itu, mengikuti karantina selama 30 hari di Istana Negara,” timpal wanita yang saat ini masih aktif di Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Pusat.

Bagi Bude Biko, perekrutan paskibraka saat ini, jauh beda dengan yang dialaminya. Kalau dulu seleksi Paskibraka bukan hanya dinilai dari kedisiplinan dalam baris berbaris, namun dilihat juga dari tingkat pengetahuan. Proses penilaiannya pun berbeda-beda di setiap jenjang seleksi, baik tingkat sekolah, kecamatan, kota hingga provinsi. Sehingga, ia pun bersama rekannya harus bersabar, menunggu hasil penilaian dari tim seleksi.

Berbekal uang saku seadanya dari pemerintah, Biko pun bertolak ke Jakarta. Saat itu, seluruh Paskibraka dikarantina di Gedung Haji. Berbeda dengan sekarang yang latihannya sudah ada tempat khusus, di tahun 1975 Biko dan rekan-rekan Paskibraka, dibolehkan latihan langsung tepat di Istana Negara. Singkat cerita, proses pengibaran bendera pada upacara 17 Agustus 1975, berlangsung sukses dan lancar.

Setibanya di Gorontalo, setelah sebulan lebih berada di Jakartra, Biko langsung buru-buru menuju makam sang Ibu. Sambil membawa berbagai atribut yang dikenakannya sebagai Paskibra nasional, Biko memberikan hormat besar di depan makam sang Ibu. “Mama, saya sudah buat mama bangga…,” ucap Biko dengan suara tertatih menahan tangis.

Hingga kini, Bude Biko masih aktif di PPI Pusat. Dan bersama anggota PPI lainnya, Bude masih sering dilibatkan dalam proses persiapan Paskibraka yang akan bertugas di Istana. Ada banyak dokumentasi foto yang berisi tentang keikutsertaannya sebagai paskibraka di Istana. Tapi sayang, tinggal beberapa saja yang tersisa. Sebagian telah rusak dan hanyut terbawa arus pada bencana banjir bandang yang melanda Gorontalo pada tahun 1975 silam.(**/rg)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.