Padamala Meredup, Minyak Tanah Non Subsid, Khas Tumbilatohe Terancam Punah?

RadarGorontalo.com – DI DUA malam Tumbilatohe yang digelar hingga semalam, tidak sedikit kekecewaan masyarakat, akan potensi kekhawatiran kekhasan pagelaran malam pasang lampu, akan perlahan punah di tahun-tahun mendatang.

Abd Wahid Ilham, Gorontalo

MODERNISASI dan perkembangan teknologi, tidak dipungkiri turut merubah daya pikir dan paradigma tersendiri, di setiap hajatan sosial kemasyarakatan. Tidak terkecuali pula, pada kegiatan-kegiatan tradisi masyarakat di provinsi Gorontalo sejak di masa lampau, seperti pada Tumbilatohe atau malam pasang lampu. Dimana, kekhasan Tumbilatohe yang terletak pada sisi tradisional keberadaan lampu berbahan baku minyak kelapa atau yang lazim disebut lampu Padamala, yang dipadu dengan lampu dari kemasan botol-botol bekas, kian meredup di setiap tahunnya. Dan berganti dengan aneka pijar lampu listrik disana sini.

Disatu sisi, memang, gejolak perubahan ini dipicu akan persiapannya, yang tidak begitu rumit. Karena cukup merancang seperangkat lampu listrik, dan tinggal memasangnya di setiap halaman rumah, atau tempat-tempat strategis yang disukai. Namun disisi lain, hal itu kian memupuskan kekhasan tumbilatohe itu sendiri. “Karena, justru dengan keberadaan lampu Padamala dan lampu minyak botol, tradisi malam pasang lampu di provinsi Gorontalo, lebih terasa alami, ada kekhasan tersendiri. Yang bahkan dikenal sampai di luar daerah,” ungkap sejumlah masyarakat.

Pada sisi lain lagi, kekhawatiran akan meredupnya pagelaran malam pasang lampu di tahun-tahun berikutnya, tidak didukung pula oleh ketersediaan bahan baku pendukungnya. Yakni, berupa pemenuhan minyak tanah. Dimana, dengan tidak lagi disubsidi, kebutuhan akan mendapatkan minyak tanah, cukup menguras kantong masyarakat, yang saat ini dibandrol hingga Rp 25 ribu untuk 1 1/2 liter minyak tanah.

Sejumlah politisi di Deprov Gorontalo, seperti Wasito Somawiyono dari Fraksi Partai Golkar dan Ismail Alulu dari Fraksi PAN, saat berbincang-bincang dengan RADAR kemarin, tidak membantah fenomena dari tahun ke tahun. Dimana, lampu-lampu hias dari listrik kian mendominasi ketimbang lampu-lampu botol di setiap pagelaran tumbilatohe, dan tidak lagi disubsidi-nya minyak tanah, akan berpotensi memudarkan kekhasan tumbilatohe itu sendiri. “Olehnya, selain solusi harus ada minyak tanah yang disubsidi oleh pemerintah melalui instansi-instansi dinas teknis terkait di setiap wilayah-wilayah yang menggelar hajatan tumbilatohe. Disisi lain pula, harus ada sinergitas anggaran, program dan kegiatan dari setiap SKPD lintas provinsi dan kabupaten/kota. Agar kekhasan tumbilatohe, budaya tradisionalnya, tidak punah. Tapi, tetap terjaga kelestariannya dari tahun ke tahun.” harap mereka. (*/rg)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.