Rab. Jun 19th, 2019

RGOL

Jangan Takut Bicara Politik

OJK ‘Hilangkan’ DP Kendaraan Bermotor, Ini Penjelasan Ekonom Unima

2 min read
Logo OJK

RadarGorontalo.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Peraturan OJK Nomor 35/POJK.05/2018 yang diterbitkan pada 27 Desember 2018 lalu dan dipublikasikan di situs resmi OJK Kamis (10/1).

Peraturan ini melonggarkan ketentuan terkait uang muka (downpayment/DP) pembiayaan kendaraan bermotor (mobil dan motor) pada perusahaan pembiayaan (multifinance). Tertulis, DP kendaraan bermotor diturunkan dari sebelumnya paling kecil 5 persen menjadi nol persen dari harga jual.

Ekonom Sulut Dr Sulut Robert Winerungan menilai, kebijakan ini sangat bagus dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. “Asalkan ini dimanfaatkan bukan untuk kredit konsumtif, kalau begitu dikhawatirkan mempengaruhi sisi keuangan lainnya dari masyarakat itu sendiri,” jelasnya.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Manado (Unima) ini melanjutkan, kredit yang dilonggarkan pemerintah harusnya kredit produktif. “Hal ini akan sangat mempengaruhi kemajuan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Dia menambahkan, kredit konsumtif berbahaya dari sisi risikonya. “Karena ini bisa membahayakan kesehatan perusahaan pembiayaan bersangkutan apabila salah. Perusahaan pembiayaan tentu harus lebih hati-hati lagi agar Non Performing Loan (NPL) nya terjaga,” pungkas Winerungan.

Sementara, dalam keputusan OJK terkait keringanan DP kendaraan hanya bisa dilakukan oleh perusahaan pembiayaan yang memiliki rasio pembiayaan bermasalah (Nonperforming Financing/NPF) netto lebih rendah atau sama dengan satu persen.

Perusahaan pembiayaan kategori seperti ini yang bisa menerapkan ketentuan uang muka untuk seluruh jenis, baik motor dan mobil, sebesar nol persen. Namun, bagi perusahaan dengan NPF netto berkisar di atas 1 persen dan di bawah 3 persen, wajib menerapkan DP untuk motor dan mobil sebesar 10 persen.

Kemudian, perusahaan dengan NPF netto di atas 3 persen hingga di bawah 5 persen, wajib menerapkan uang muka untuk seluruh jenis kendaraan bermotor sebesar 15 persen.

Sementara itu, perusahaan pembiayaan dengan NPF netto sebesar 5 persen wajib memenuhi ketentuan uang muka untuk kendaraan bermotor roda dua atau tiga, serta roda empat atau lebih untuk pembiayaan investasi paling rendah 15 persen, serta kendaraan bermotor roda empat atau lebih untuk pembiayaan multiguna paling rendah 20 persen.

Sedangkan perusahaan pembiayaan dengan NPF netto di atas 5 persen wajib memenuhi ketentuan uang muka untuk kendaraan bermotor roda dua atau tiga, serta roda empat atau lebih untuk pembiayaan investasi paling rendah 20 persen, serta kendaraan bermotor roda empat atau lebih untuk pembiayaan multiguna paling rendah 25 persen.

Dalam aturan sebelumnya, OJK menetapkan kewajiban DP untuk motor dan mobil paling rendah sebesar 5 persen dan paling tinggi sebesar 25 persen. Mobil untuk pembiayaan investasi merupakan kendaraan angkutan orang atau barang yang memiliki izin berwenang. Sedangkan motor untuk pembiayaan multiguna diajukan oleh perseroangan maupun badan hukum. (JPNN)

Share

Tinggalkan Balasan