Menyatukan Gorontalo, Indonesia, dan Dunia

Thayeb Mohammad Gobel

Oleh : Basri Amin

RadarGorontalo.com – Tiga puluh tiga tahun lalu, pada hari Sabtu 21 Juli 1984, putra terbaik Gorontalo yang mengabdikan dirinya untuk Indonesia berpulang kehadirat-Nya. Dengan mengucapkan Allahu Akbar, sembari menghadap ke Kiblat, beliau meninggalkan bangsa yang dicintainya ini untuk selamanya. Ia adalah Thayeb Mohammad Gobel. Beliau lahir di Tapa, Bone Bolango, 12 September 1930. Beliau adalah figur yang tangguh dalam cita-citanya. Ketika diminta memimpin dan membesarkan organisasi paguyuban Gorontalo di Jakarta, pak Gobel meminta kepada warga untuk menggunakan kata “Indonesia” dalam melengkapi nama yang dipakai sebelumnya, “Kerukunan Keluarga Gorontalo”. Berubahlah menjadi “Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo” (KKIG). Di pertemuan KKIG, Pak Gobel juga terbiasa mengajak teman-temannya dari daerah lain untuk hadir dan menikmati kekeluargaan Gorontalo.

Ramadhan K.H., sastrawan ternama itu sangat tepat ketika menulis “Pak Gobel adalah nasionalis sejati. Gobel menyatukan semua orang Indonesia.” Sungguh benar, itulah yang beliau buktikan sepanjang hidupnya. Semua golongan sama-sama bekerja membesarkan industri elektronik pertama di negeri ini. Aliran darah dan obsesinya sebagai “pengusaha” memang sudah tertanam sejak kecil: suka berdagang dan menghasilkan sesuatu. Senang ke pasar dan memasarkan sesuatu. Banyak hal yang bisa beliau tanam, pelihara, olah, dan jual. Pada tahap ini, ada akhlak hidup yang terus dijaga, meski setelahnya harus ditempa dengan “otot dan otak”. Melalui sebuah e-mail kepada saya, tokoh muda Gorontalo, Rama Datau, menyuplik dari beberapa sumber yang meyakinkan bahwa “ Pak Gobel tak mengenal kata gagal. Tak ada perangai putus-asa!”. Tak heran kalau “Gobel” itu sendiri pernah dijadikan asosiasi: Golongan Berusaha Ekonomi Lemah (“Gobel”). Di permukaan, jejak pak Gobel terkesan lebih dominan mengerjakan “bisnis elektronik”. Padahal, sepanjang kiprah beliau begitu banyak warisan keteladanan yang tak terkira nilainya hingga kini. Gobel adalah orang yang sangat yakin dengan pendidikan dan agama. Beliau sendiri menjalani hidup dengan prinsip “tak pernah berhenti belajar”. Tampaknya, itulah etos kerja Jepang yang cocok dengan prinsip beliau sendiri, yakni terus belajar, mengabdi untuk bangsa dan agama, tapi memberi kehidupan dan kemandirian ekonomi bangsa. Itulah pula yang tampaknya (secara konsisten) diwarisi oleh anak-anaknya, seperti terlihat pada Rahmat Gobel dan Abdullah Gobel, serta “turunan” (wirausahawan) bergenerasi di negeri ini. Penghargaan beliau terhadap prestasi akademik anak-anak bangsa -–termasuk dari Gorontalo—demikian sejajar dengan disiplin beliau menempa organisasi wirusaha yang terus “ditanam dan berbuah” sepanjang kiprah beliau sejak 1954 melalui PT. Transistor Radio Manufacturing. Dengan spirit yang sama, pada 27 Juli 1970, berdirilah PT. National Gobel, perusahaan patungan dengan Matsushita Company, Jepang. Terbukti, Gobel adalah juga sebagai pioner jaringan global Asia di bidang ekonomi berbasis teknologi dan SDM. Kini, ketika knowledge-based economy menjadi prinsip negara modern, kita jangan lupa bahwa Gobel telah memberi bukti nyata puluhan tahun lalu. Marilah kita menengok sedikit bukti-bukti tentang penghargaan beliau untuk bidang di luar ekonomi.

Dalam hal ini sektor pendidikan. Pada tahun 1975, ketika Dr. Jus Badudu beroleh gelar Doktor di UI, Pak Gobel begitu gembira dengan prestasi pendidikan Doktor bidang Bahasa Indonesia itu. Beliau bahkan terbiasa membuatkan perayaan untuk prestasi pendidikan seperti itu. Hal serupa dialami oleh Jus Badudu. Sebelumnya, kemeriahan serupa dipersembahkan pak Gobel untuk Dr. (H.C) H.B. Jassin, “Paus Satra Indonesia”. Untuk konteks kekeluargaan Gorontalo dan hubungan lintas generasi Gorontalo di panggung nasional, Pak Gobel adalah tokoh yang dikenal sebagai pioner KKIG –dan memimpin paguyuban ini selama tiga tahun, sejak 1966–, beliau juga sebagai penopang utama asrama HPMIG di Salemba Tengah No. 29. Sejak Mei 2017, saya memberi perhatian kembali tentang kekuatan-kekuatan peradaban Gorontalo yang relevan untuk perubahan dunia saat ini. Saya mencermati perkembangan Asia Tenggara dan Kawasan Timur Indonesia. Saya membaca dengan intens sejumlah biografi dan bentangan inovasi di tingkat regional. Saya bersyukur, ketika bulan Juli datang, ketika tema-tema kebangsaan digerakkan Universitas Negeri Gorontalo, saya menemukan kembali sebuah buku besar karangan Ramadhan K.H: “Gobel, Pelopor Industri Elektronik Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang” (1994). Buku ini sendiri punya jejak karena merupakan pemberian 11 tahun lalu dari senior saya yang juga jurnalis, Hamim PoU –-yang kini sebagai Bupati Bone Bolango–. Kini, makam Thaib Mohammad Gobel bisa kita kunjungi di Bukit Hubulo. Di bukit itu pula, kemuliaan Auliya Hubulo bisa kita rasakan “aura spiritual” dan “amanah”nya yang terpancar sejak tahun 1752. Pada dekade kedua abad ke-21 ini, apa yang bisa kita pelajari dari Pak Gobel adalah tentang keteguhan prinsip dan kesungguhan dalam mengerjakan cita-cita. Dan itu semua adalah cara terbaik “menyatukan” Indonesia. Kini, ketika Abad Asia datang dan dunia semakin “datar”, Gorontalo (sebaiknya) menjadi wilayah yang potensial menanam, mengolah, dan membuahkan harapan-harapan baru dan tindakan nyata. Bagaimana? (**/RG)

Berita Terkait

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *