Masa Jabatan Presiden dan Kepala Daerah 10 Tahun

Haji Lala

TOMAS (Tokoh Masyarakat) : “Masa jabatan presiden, gubernur sampai bupati dan Walikota harus ditinjau kembali, 5 tahun tidak bisa mengukur seseorang berhasil atau tidak. Setiap pergantian kepemimpinan pasti programnya juga berubah, tak pernah bisa tuntas.

TOPO (Tokoh Politik) : “Ente mo beking rupa masa orde baru, Presiden seumur hidup,?”

TOMAS : “Tidak seperti itu, tetap 1 priode, tetapi waktunya yang ditambah, kalau bisanya hanya 5 tahun maka dijadikan 10 tahun,”. TOPO : “Saya tak sependapat, 10 lama sekali . Sangat merugikan kami,”.

TOMAS : “Saya bingung , dan tak mengerti apa yang ente pe maksud dengan merugikan. siapa yang dirugika.?,”

TOPO : “Supaya ente tau, setiap 5 tahun itu musim penen para pekerja politik,”.

TOMAS : ” he he… ngoni penen, tetapi negara rugi dan buntutnya rakyat juga Rugi. Setiap 5 tahun ada Pilpres dan Pilkada, tidak sedikit uang negara yang terbuang, tetapi kalau 10 bisa menghemat separoh anggaran.

Begitu juga para para Petahana mereka tak mengeluarkan dana lagi untuk maju priode kedua, dan pasti mereka tak akan korupsi lagi, Ingat sejarah mencatat biaya pertarungan seorang petahana jauh lebih besar dibanding periode pertama. Otomatis para penantang juga harus mengeluarkan dana besar.

Jadi kan lebih bagus kalau 1 priode 10 tahun, program mereka juga bisa tuntas,”.

TOPO : “bagaimana kalau kerjanya tak bagus, harus tunggu 10 tahun ini ?,”.

TOMAS : “Gampang itu, kan ada aturannya kalau tak becus, kase turun no, apa dia pe susah,”.

TOPO : “Bagaimana kalau dorang bagus. Selama 10 tahun, banyak perubahan yang dorang beking.

TOMAS ; Alhamdulillah torang cari lagi pemimpin yang bagus, yang jelas cukup 10 tahun saja.,”. (**)

Share

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *