Mangrove In Love di Langge

para pengunjung mangrove berbentuk love di desa Langge

Kabupaten Gorontalo Utara

RadarGorontalo.com – Banyak cara kreatif bisa dilakukan, untuk mengkampanyekan pelestarian lingkungan. Seperti upaya pelestarian mangrove yang dikemas seapik dan seunik mungkin, hingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung. eko wisata tracking mangrove

Terik matahari hilang dengan sejukan hembusan angin saat berteduh dibawah ribuan pohon mangrove. Eko wisata tracking mangrove itu, di desain dengan berbentuk Love. Banyak yang mengabadikan suasana itu, bahkan tercatat pengunjung Minggu, (15/1) kemarin mencapai kurang lebih dua ribu orang. Meskipun wisata terbilang masih baru, dan belum diresmikan oleh pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara, namun pengunjung tetap memadati wisata tersebut.

Selain menawarkan tracking mangrove, wisata yang berada di Desa Langge, Kecamatan Anggrek itu, menawarkan juga wisata kepiting Bakau. Ada sekitar delapan penangkaran, dan setiap penangkaran berjumlah 250 ekor. Ini pun menjadi keunikan tersendiri.

Dibanding kabupaten lain, Gorontalo Utara memang menawarkan segudang keunikan yang cocok jadi objek wisata. Sebut saja, Saronde yang sudah mendunia, Pantai Diyonumo hingga air terjun Didingga, serta masih banyak lagi. Kehadiran Mangrove in Love

Wisata hutan mangrove itu mendadak menjadi objek wisata yang trend. Jika Gorontalo Utara terkenal dengan wisata Saronde, perlu diketahui Kabupaten Gorontalo Utara ini juga memiliki wisata bahari yang sangat menakjubkan. Wisata ini baru beroprasi satu minggu, namun saat ini banyak wisatawan dari berbagai daerah yang berkunjung ke tracking mangrove in love. Karena keindahan pemandagannya yang unik dan menarik.

Desa Langge ini, merupakan lokasi ekowisata mangrove terpadu berbasis masyarakat pertama di Provinsi Gorontalo, dimana dalam satu lokasi ini terdapat hutan mangrov dan pembudidayaan kepiting bakau yang dikelola oleh penduduk setempat. Hutan bakau atau mangrove mempunyai banyak manfaat, salah satunya yaitu adalah untuk melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan, serta meredam gelombang besar termasuk tsunami.

Desa Wisata Mangrove dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 1,5 sampai 2 jam dari Kota Gorontalo, dengan menggunakan transportasi umum. Dari Kecamatan Kwandang menuju lokasi wisata kurang lebih 10 km lagi. Kondisi jalan sudah cukup baik dan sudah di aspal. Anda bisa naik sepeda motor, mobil maupun bus untuk menuju lokasi wisata ini.

Selain eko wisata ini juga, masyarakat setempat akan menyediakan makanan khas Desa Langge, yang nantinya akan dijual di lokasi wisata tersebut. Sebelum di jual, masyarakat bersama aparat Desa Langge, menyediakan makanan itu kepada awak media yang datang saat itu. Dimana jenis makanan khas yang disediakan, berupa woku kakap merah dan goropa, garo rica kepiting bakau, bala rica kakap merah dan santan kari kepiting bakau. Racikan makanan ala Ibu Mimin dan Nurcahya, yang dijamu kepada awak wartawan itu begitu menakjubkan dan sangat terasa kenikmatan rasa khas makanan.

Salah satu pengunjung dari Kota Gorontalo Nurrain Rizka Ahmad, mengaku jika dirinya bersama keluarga sudah kedua kalinya datang berkunjung di lokasi tersebut. “Tempat ini sangat nyaman dan udaranya sejuk. Jadi kami senang berkunjung ditempat ini,” ujarnya.
Disamping itu juga Kepala Desa Langge Ato Ali, menjelaskan jika eko wisata tracking mangrove ini, baru saja di buka pada minggu lalu. Namun meskipun baru saja di buka, pengunjung terus memadati lokasi. “Tidak mungkin kami akan larang, karena ini adalah lokasi wisata,” ujarnya.

Dijelaskannya, pembangunan infrastruktur wisata ini, dibangun melalui anggaran Dana Desa dan Community Development International Fund For Agricultural Development (CCDP-IFAD) sebanyak kurang lebih 400 juta. Rencananya juga kata Ato, pihaknya akan melakukan penambahan lokasi wisata sepanjang 200 meter.  (helmi/rg)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *