Lima Hari Terisolasi Total Kerugian 8 Miliar

Nampak 12 truk bermuatan sawit yang antri di lokasi jalan trans sulawesi Kecamatan Sumalata yang putus akibat longsor.

Hasil Perkebunan Banyak Busuk

RadarGorontalo.com – Bencana alam tanah longsor yang melanda Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut) sejak Kamis pekan kemarin, tidak hanya memporak-porandakan jalan di daerah itu. Tapi juga merusak hasil bumi, yang siap dijual petani. Tidak terkecuali 120 Ton Sawit yang sudah membusuk karena mengendap di dalam bak 12 truk, yang antri di lokasi jembatan putus yang ada di Kecamatan Sumalata.

Tercatat hingga, Selasa (28/2), sudah lima hari truk-truk bermuatan hasil bumi berupa kelapa sawit, tertahan di Sumalata. Satu-satunya jalan menuju Kabupaten Buol Sulawesi Tengah tempat tujuan truk-truk itu, belum bisa dilewati. Alhasil, hasil bumi bernilai ratusan juta itupun mulai membusuk.

Kata Amran, seorang supir truk sawit, hal ini bukan hanya merugikan pihak perusaan, tapi ia bersama rekannya terpaksa harus rela menerima upah sedikit dari muatan sawit yang sudah susut itu. Apalagi hasil bumi yang mereka muat tersebut, baru merupakan muatan pertama. Padahal seperti biasanya, ketika di hari kelima muatan yang diangkut tersebut sudah memasuki muatan pada ret ke dua. “Dalam satu truk, sebanyak 10 ton sawit yang kami muat. Ini kemungkinan besar sudah susut menjadi 7 ton, karena kami sudah tertahan lima hari disini,” ujar Amran, yang memperkirakan ada sekitar 120 ton sawit yang diangkutnya rekan-rekannya.

Masih kata Amran, sekali muat, Ia bersama 11 rekannya diberi upah satu truk Rp 5.700.000. Namun mengingat berat dari sawit telah menurun, kemungkinan besar upah mereka dikurangi. “Jika di hitung-hitung, dari 120 ton sawit, kami harusnya menerima upah sebesar Rp 68.400.000. Dan dalam satu malam itu, sawit bisa susutnya sampai 5 persen,” jelas Amran.

Ada kemungkinan, kerugian masih akan bertambah menyusul pembuatan jembatan darurat di atas jembatan yang amblas itu, waktu selesainya belum pasti. Dan truk-truk itu, masih akan tertahan lebih lama.
“Kami memastikan pengerjaan jembatan darurat ini selesai pada Kamis pekan depan, itu pun jika kondisi cuaca memungkinkan. Karena jika cuaca terus-menerus masih belangsung hujan, maka akan lebih lama lagi kami mengerjakan jebatan tersebut,” jelas Istanto Ruchban, salah soerang petugas Balai Jalan Gorontalo.

Menanggapi hal tersebut, Bupaten Gorut Indra Yasin menjelaskan, ada beberapa kendala yang dialami baik Pemerintah Daerah dan instansi terkait, yakni minimnya alat berat. Meski demikian, pihaknya akan terus berupayah melakukan perbaikan terhadap sejumlah akses jalan yang sulit di lalui, akibat dampak dari bencana longsor. “Hanya dua alat berat yang stand bay di lokasi saat ini, dan kami akan terus berupaya agar semua akses bisa dilalui kendaraan. Apalagi akses jalan di daerah ini, adalah satu-satunya akses yang bisa dilalui kendaraan menuju ke luar daerah,” tutur Indra.

Banjir Longsor di 87 Titik 

Sementara itu dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Gorontalo Utara tercatat, ada 87 titik bencana di 4 kecamatan yang terisolasi akibat bencana banjir dan tanah longsor. Terparah longsor di kecamatan Biau sepanjang 1 kilometer. Selain itu pula, infrastruktur jalan dan jembatan ambruk, membuat semua akses transportasi terputus, 5 hari berturut-turut. Namun demikian, hingga memasuki hari ke-5 sejak musibah longsor Sumalata-Biau, semua akses infrastruktur perlahan mulai diperbaiki. “Ya, untuk jembatan dan jalan, hingga hari ini sudah mulai dilakukan pemasangan rel jembatan, baik jalan dan jembatan yang ambruk. Untuk infrasturktur lainnya juga sementara dilakukan,” terang Kepala BNPB Nurhadi Rahim semalam. Sehingganya dari musibah ini ditaksir kerugian yang terjadi, ada sekitar Rp 8 milyar lebih untuk 5 hari terakhir tersebut. ” Kerugian ini, dihitung dari tidak tersalurkannya hasil-hasil pertanian atau perkebunan warga, karena akses jalan putus,” tukas Nurhadi.

Namun untuk korban jiwa, dari informasi yang kami terima dilapangan itu tidak ada. “Bahkan tidak ada yang terpaksa harus direlokasi (dipindahkan-red), ” urainya. Pemerintah pun hingga saat ini masih terus melakukan evakuasi untuk titik-titik bencana itu hingga semuanya terselesaikan dengan maksimal, tutup Nurhadi. (rg-53/rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.