Lasbejer Bakal Tinggal Nama

Nampak kawasan Lasbejer yang dikategorikan kumuh, dan akan ubah menjadi asri oleh Pemkot Gorontalo melalui program KOTAKU.(bink/rg)

RadarGorontalo.com – Siapa yang tak Lasbejer alias Lasahido berjejer. Ini adalah nama kawasan yang dikenal paling kumuh di Kota Gorontalo. Kawasan yang terletak di Kelurahan Limba B itu, dihuni ratusan kepala keluarga. Disini bangunan rumah warga saling berhimpitan. Tak cuma persoalan banjir, drainase buruk hingga limbah rumah tangga yang dibuang sembarangan, membuat Lasbejer tak cuma kurang indah, tapi juga kurang sehat sebagai kawasan hunian.

Sabrin Maku, Radar Gorontalo

Saat berkunjung ke tempat ini, tumpukan sampah yang sudah lama dibiarkan langsung menyambut. Bau menyengat dari drainase pun, ikut mewarnai lingkungan ini. Terlihat rumah semi permanen yang berjejer, dengan posisi dapur beridiri tepat di atas saluran air. Genangan air dimana-mana, menambah kesan kumuh kawasan itu. mirip tempat kumuh di kota Jakarta.

Lasbejer, bertahun-tahun dikenal warga sebagai tempat tinggal ratusan kepala keluarga. Kendati ada bau menyengat, namun warga di sini terlihat nyaman-nyaman saja. Boleh jadi karena terbiasa, atau memang tak punya pilihan lain. Para bocah pun, terlihat asyik bermain. Saat berkunjung ke tempat ini, sejumlah orang tua meminta anak-anaknya untuk minggir. “”Awas-awas.. jangan ba pele, om mo foto torang perumah,” ungkap seorang bocah. Mungkin saja, mereka mengira kunjungan ini adalah untuk survei program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Bahkan, salah seorang dari bapak-bapak yang duduk, meminta rumahnya ikut difoto. “Rumah saya yang sana itu, tolong di foto olo,” pinta bapak yang enggan di korankan namanya.

si bapak yang tadi kemudian bertanya. “Kapan pembangunan yang dorang bilang lalu, kalau bole saya pe rumah itu kase kana kasana proyek. Supaya saya somo tinggal di rumah yang baru meski hanya rumah susun,” ungkapnya. Dirinya pun menegaskan, warga Lasbejer sangat setuju dengan program yang digagas Walikota Marten Taha itu.

Terkait program KOTAKU sendiri, Pemkot telah melalukan pertemuan dengan tim infrastruktur KOTAKU, di ruang kerja Walikota Gorontalo Selasa (30/05). Hasilnya, tahun ini proyek yang mengucurkan anggaran sekita Rp 14,5 Miliyar itu, mengalokasikan dana paling besar di kawasan Lasbejer Rp 11,1 Miliyar.

Kata Kepala Dinas Perkim Kota Gorontalo Hj. Meydi N Silangen, ini tindaklanjut dari program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo bekerjasama dengan Kementerian PUPR RI. “Lasbejer yang terbanyak dialokasikan anggaran yaitu Rp 11,1 Miliyar, sedangkan sisanya dikucurkan ke dua wilayah lain. Dan ada 18 rumah yang terancam di relokasi karena dinilai tidak layak atau berbenturan dengan proyek pembanguan di kawasan tersebut,” jelas Meydi.

Kawasan-kawasan itu, sejak Selasa (30/05) telah dikunjungi oleh tim Kelompok Kerja (Pokja) KOTAKU, guna memastikan kesiapan dari Pemkot Gorontalo. “Sekarang dalam proses persiapan dimana dapat dilihat dari rapat internal yang dilakukan Pemerintah Kota Gorontalo, bersama dengan tim Pokja KOTAKU. Lelang akan dilakukan pertengahan bulan depan, dan Limba B terbesar dalam pengangaran program tersebut, yakni Rp 11,1 Miliyar. Karena ada beberapa titik permasalahan yang kami temui di kawasan itu. Seperti 18 rumah yang diprioritaskan untuk direlokasi ke rumah susun, yang akan disiapkan Pemkot Gorontalo,” terang Meydi.

Sementera itu Walikota Gorontalo Marten A Taha menjelaskan, tindak lanjut dari program tersebut merupakan upaya komitmen Pemkot Gorontalo untuk menyukseskan program 100-0-100. “Dari enam kawasan yang kami usulkan, baru tiga yang diralisasikan oleh Pemerintah pusat. Diantaranya kawasan Kelurahan Limba B, Ipilo dan Kelurahan Biawu,” terang Marten.

Tidak semua rumah yang ada di tiga wilayah itu kata Marten, yang akan direlokasi ke rumah susun. Karena tim Pokja KOTAKU dan Pemkot Gorontalo, masih akan melihat keberadaan dari permukiman warga tesebut. “Contohnya, apabila permukiman warga kenak dengan pembangunan taman di kawasan itu, maka kami harus merelokasinya. Demikian pula sebaliknya. Dan bagi masyarakat yang tidak direlokasi, namun rumah mereka terlihat kumuh, itu hanya akan dilakukan rehap oleh tim KOTAKU,” jelas Marten,” tutur Marten.(bink)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *