“Kutitipkan Adat Istiadat, Pemersatu-mu Gorontalo”

In Memoriam, mantan Walikota Medi Botutihe

JENAZAH mantan Walikota Gorontalo Alm. DR. H. Medi Botutihe, saat disholati dirumah duka. (Foto:Abink/RG)
JENAZAH mantan Walikota Gorontalo Alm. DR. H. Medi Botutihe, saat disholati dirumah duka. (Foto:Abink/RG)

“KESENJANGAN antara orang muda dan orang tua. Karena, yang muda tak sabar. Sementara, yang tua, tidak tahu diri” 

Ayi Ilham, Radar Gorontalo

RadarGorontalo.com – ITULAH sepenggal kalimat, salah satu wejangan atau nasihat, yang seringkali terucap dan disampaikan oleh almarhum, mantan walikota Gorontalo, Medi Botutihe, semasa hidupnya. Baik dilingkungan birokrasi atau pemerintahan Kota Gorontalo, semasa almarhum menjabat, maupun di lingkup masyarakat luas. Terdengar agak keras, namun pada inti pemahamannya, mengandung pesan nilai-nilai kehidupan sosial bermasyarakat yang begitu lembut dan halus.

Kepergian mantan Walikota Gorontalo dua periode, DR H Medi Botutihe, Minggu (18/9), memang membuat banyak orang terkejut, seakan tak percaya. Namun siapa yang menyangka, jika beberapa hari sebelum beliau wafat, ada tanda tanda alam yang jika diingat ingat kembali, telah memberikan isyarat bahwa akan ada tokoh besar yang akan meningal dunia. Seperti kepercayaan orang tua jaman dahulu, bahwa jika melihat bulan dimalam hari yang dihiasi lingkaran atau kerap disebut ‘Bulan Pake Payung’, maka akan ada tokoh besar yang akan meninggal atau akan ada kejadian besar yang akan terjadi. “Memang dua hari sebelumnya kami sempat melihat fenomena itu, namun dan banyak yang menghubung hubungkan dengan kejadian besar, tapi kami tidak menyangka jika yang meninggal adalah pak Medi,” cerita sejumlah warga. Bahkan ada warga yang mengaku melihat bulan berada ditengah tengah kumpulan awan yang bentuknya sangat unit seperti bunga teratai.

Gaya kepemimpinan Medi yang begitu merakyat, tidak akan dilupakan oleh rakyatnya. Tidak terkecuali, oleh jajarannya di pemerintahan Kota Gorontalo. Medi senantiasa menjabarkan filosofi yang Mo’odelo, atau pembawaan diri yang saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Orang muda yang menghormati orang tua, dan orang tua yang menghargai anak muda. Karena dalam kehidupannya, Medi tidak pernah lepas dari tatanan adat dan istiadat Gorontalo, yang berpegang teguh pada falsafah: Adat Bersendikan Syara’ dan Syara’ Bersendikan Kitabullah. Yang notabene, karena pegangan adat istiadat yang bertautan dengan kitabullah inilah, yang menjadikan Gorontalo dikenal sejak lama. Bukan saja di luar provinsi Gorontalo, namun juga dari bangsa-bangsa lain di dunia. Karena bagi almarhum, pembangunan di sebuah daerah, akan lebih modern dan turut menuai pertanggungjawabannya di akhirat nanti, bila SDM atau penggeraknya turut dibekali dengan tata krama, adat istiadat dan sopan santun.

Satu pengalaman almarhum Medi di pemerintahan, yang tidak bisa dilupakan banyak orang, termasuk mantan Presiden ke 3 BJ Habibie, adalah renovasi pembangunan Masjid Agung Baiturrahim, pada tahun 1999 silam, atau dimasa transisi presiden Habibie ke presiden ke 4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dimana, sesuai penuturan mantan Sekertaris Kota (Sekkot) Gorontalo, AW Talib, saat itu biaya renovasi untuk pembangunan masjid agung Baiturrahman, tidak dianggarkan sepeser pun dalam APBD Kota Gorontalo.

Sementara, situasinya saat itu, masjid agung Baiturrahim sudah dalam kondisi rata dengan tanah, untuk siap direnovasi/dibangun yang baru. “Disaat-saat seperti itu, kenangan saya, untuk pertama kalinya, melihat almarhum dalam keadaan galau. Karena, biaya renovasi tidak dianggarkan sepeser pun di APBD Kota. Hingga akhirnya, karena masyarakat juga menginginkan adanya renovasi masjid agung itu, maka almarhum membuat inovasi dengan menggalang dana swadaya dari masyarakat, dan juga mendapat bantuan dari pak presiden BJ Habibie sebesar Rp 1 Miliar saat itu, serta sumbangan dari pihak-pihak ketiga, seperti dari Belanda dan kelompok lain. Sehingga, renovasi masjid agung yang kalau tidak salah kebutuhan anggarannya saat itu sekitar Rp 5 Miliar, akhirnya terbangun,” tutur AW Talib, senin (19/09). “Satu tekad yang saya akui pada almarhum saat itu, beliau almarhum bahkan sampai rela, menegaskan tidak akan menerima adat Pulanga yang pada saat itu, telah direncanakan oleh para tokoh adat, jika masjid itu belum terenovasi,” imbuh AW Talib lagi.

Hingga akhirnya, renovasi masjid agung Baiturrahim terbangun. Dan, beliau menginginkan, agar pemanfaatan dan kegunaan masjid itu, tidak sekedar sebagai tempat sholat saja. “Namun pesan almarhum, agar keberadaannya, turut dimanfaatkan atau dijadikan simbol dari adat istiadat Gorontalo yang bertautan dengan agama Islam. Dengan misalnya, menggelar kajian-kajian Islam Gorontalo, pendidikan anak sejak dini, akan agama dan adat istiadat Gorontalo, agar tak lekang oleh waktu,” pungkas AW Talib.

Sementara itu, Prosesi pemakaman yang berlangsung Senin (19/9)  itu, dibanjiri ribuan pelayat yang datang dari berbagai penjuru. Para kepala daerah hingga mantan kepala daerah bahkan tokoh-tokoh ternama, larut dalam suasana kesedihan. Sejenak mereka meninggalkan hiruk pikuk urusan pemerintahan, hingga politik. Mereka juga begitu khusyuk, saat menyolati jenazah sang Sultan sebelum menuju tempat peristirahatannya yang terakhir, di tempat pemakaman umum (TPU) Yosonegoro, yang sudah disiapkan almarhum sejak 20 tahun silam. Begitu banyak orang yang ingin menyolati jenazah Almarhum, sampai-sampai sholat jenazah dilakukan dua kali, termasuk di Masjid Baiturrahim Kota Gorontalo. (ay1/rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.