KPU Perkenalkan Ira Koesno Dan Imam Priyono Moderator Debat Pilpres

Ira Koesno

RadarGorontalo.com – Dua moderator debat paslon Presiden dan wakil presiden putaran pertama diperkenalkan KPU secara resmi kemarin (10/1). Dwi Novriratri Koesno, atau akrab disapa Ira Koesno, dan jurnalis senior TVRI Imam Priyono.

Kemarin, Ira dan Imam hadir dalam rapat persiapan debat bersama lima panelis karena Margarito Kamis berhalangan hadir. Usai pertemuan tertutup selama nyaris tiga jam itu, Anggota panelis Bivitri Susanti menjelaskan bahwa rapat tersebut tidak lagi membahas substansi pertanyaan yang akan disampaikan.

Melainkan hanya melakukan beberapa penajaman. Sebab, rata-rata bahasa yang digunakan oleh para panelkis adalah bahasa hukum. ’’Kami sesuaikan agar nanti para moderator yang bertanya bisa menyampaikan dengan baik, konteksnya mengerti, dan publik juga paham,’’ terangnya.

Bagaimanapun, debat itu adalah kampanye yang tujuannya menyampaiakn visi dan misi. Maka kalimat-kalimatnya harus didesain agar mudah dipahami oleh para pemilih. Pihaknya sudah melihat kembali pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dan moderator membantu mempermudah penyampaiannya.

Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi yang hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan, daftar pertanyaan berupa kisi-kisi itu sudah disampaikan kepada masing-masing paslon kemarin.

’’Ada 20 pertanyaan yang bukan sama sekali multiple choice (pilihan ganda) dan juga bukan menuntut hafalan,’’ jelasnya. Tugas moderator nanti adalah memfasilitasi penyampaian pertanyaan yang telah dipilih paslon secara acak.

Ketentuan tentang moderator sudah ada dalam UU Pemilu. Yakni, tidak boleh mengomentari dan tidak boleh memberi penilaian. ’’Dan kami harap tidak memotong juga,’’ lanjut pria kelahiran Semarang itu. Pramono menegaskan, para panelis juga tidak membahas pertanyaan terkait sikap paslon atas kasus tertentu.

Sebab, yang ingin digali adalah strategi dan pandangan masing-masing paslon. Namun, masing-masing paslon dipersilakan bila ingin menggunakan contoh tertentu saat memberikan jawaban. ’’Tapi dari daftar pertanyaan kami, kami kira itu terlalu mikro,’’ tuturnya.

Disinggung mengenai kemungkinan saling menjatuhkan antarpaslon, menurut Pramono publiklah yang lebih berhak menilai. Tugas KPU adalah mefasilitasi sesuai dengan yang digasriskan oleh UU.

Selebihnya, apa yang dilakukan dan disampaikan para paslon menjadi milik publik sepenuhnya. Mengenai moderator, Pramono tidak banyak berkata-kata saat memperkenalkan. ’’Inilah moderator debat,’’ ucapnya dengan gestur kocak.

Dia mempersilakan wartawan menanyai para moderator secara langsung. Ira Koesno merupakan mantan jurnalis SCTV. Dia dikenal publik saat membawakan program berita Liputan 6. Setelah pensiun dari dunia jurnalistik, Ira kini berkarier sebagai konsultan media dan juga public relations.

Perempuan 49 tahun itu punya pengalaman menjadi moderator debat paslon saat pilpres 2004 dan pilgub DKI Jakarta 2017. Sementara, Imam Priyono merupakan jurnalis senior di TVRI. Pada 2016 lalu, Komisi Penyiaran Indoensai menobatkan pria 38 tahun itu dengan penghargaan sebagai penyiar berita terbaik.

Mantan Abang Jakarta 2004 tersebut berpengalaman menjadi moderator di sejumlah pilkada. di antaranya, Pilgub Sumsesl, Sumut, Bali, Pilwali Bandung, dan Pontianak. Imam membenarkan penjelasan Bivitri mengenai penguatan pertanyaan.

Dia diberi kesempatan menguatkan kata per kata serta memilih diksi yang kira-kira mudah dipahami publik dari segala kalangan. ’’Jadi substansi yang bisa jadi begitu rumit, kompleks dan kadang begitu akademis, bisa diartikulasi dengan bahasa publik,’’ jelasnya. (jpg)

Share

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *