Kisah Haji Lala Korban Gempa dan Tsunami yang Selamat

Wartawan senior Hj Lala

Musibah gempa dan tsunami menghantam Palu – Donggala dan sekitarnya, Jumat (28/9) pekan kemarin. Korban nyawa berjatuhan, ribuan rumah hancur rata dengan tanah, infrastruktur rusak parah, membuat daerah ini lumpuh total. Dari sekian banyak korban selamat, salah satunya adalah Raden Syarif Abdullah atau dikenal dengan panggilan Haji Lala, Direktur Radar Gorontalo yang sempat menyaksikan langsung kengerian kala bencana menyapu kota Palu. Berikut ceritanya…

Haji Lala, Radar Gorontalo

Malam ini (Jumat 28/9, red) Saya berada di puncak gunung Gawa Liese, setelah berlari 6 km dari hotel tempat kami menginap beberapa Minggu lalu. Alhamdulillah saya selamat. Tetapi saya belum tahu apakah ini sudah aman atau belum, karena Gempa masih terus menggoyang setiap beberapa menit. “Kalau nanti saya tak selamat, tak banyak wasiat yang saya titipkan, kecuali titip anak anak, meski saya yakin kau mampu menjaga mereka dengan baik saya sakin kau bisa menjadi ibu yang baik sekaligus ayah bagi mereka.

Bilang sama Ayim dan Imam jaga Ikit, jaga adik perempuan mereka” Sampai di sini saya tak kuat lagi menahan air mata, dan wasiat ini pun tak bisa dikirim karena jaringan tak ada. Di tengah ketakutan, mata saya terus memandangi cahaya lampu lampu yang ada di kejauhan. Beberapa kerlap kerlip lampu ini menjadi penghibur sekaligus patokan apakah tsunami akan datang atau tidak, artinya kalau lampu lampu itu padam tiba tiba, maka sudah pasti disapu gelombang tsunami.

Malam itu di pengungsian, banyak sekali informasi liar soal gempa susulan, ada yang mengatakan gempa susulan yang lebih dahsyat akan terjadi pada jam 3 subuh. Inilah yang membuat kami tegang.. menunggu datangnya jam 3 subuh itu,”sudah jam berapa sekarang ? ini pertanyaan yang selalu keluar dari para pengungsi, selain terus berdoa…..

Tanda-tanda sebelum berangkat 

Selain menunggu nasib apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian, dari gelap gulita saya mulai mengingat wajah anak anak dan istri yang jauh di Gorontalo. Saya juga mulai mengingat tanda tanda sebelum berangkat ke Palu. Pertama soal rencana membuat doa syukuran karena anak laki-laki saya baru saja diwisuda. Tetapi dia tak jadi ikut, karena masih harus mengurusi sejumlah berkas di Unima Tondano tempatnya kuliah.

Karena belum bisa ke Gorontalo, saya pun memutuskan tetap berangkat ke Palu dan akan menyusul ke Palu lewat udara. Tanda lainnya, adalah teman saya yang selalu menyetir mobil tak bersedia ke Palu. Saya mengerti itu karena beberapa hari sebelumnya dia baru saja mengantar saya dan keluarga ke Palu karena tante saya meninggal dunia.

Karena dia tak bisa pergi maka terpaksa saya harus membawa mobil kecil, karena teman yang saya ajak tak lancar menggunakan mobil matic. Tetapi anehnya mobll itu juga membuat tanda, pintunya tak bisa ditutup, maka siang itu saya putuskan bawa ke bengkel, setelah pintunya selesai dikerjakan, tiba tiba mesinnya bermasalah. Setelah maghrib baru selesai.

Sebenarnya istri saya tak setuju saya ke Palu untuk membuat syukuran, tetapi saya tetap bersikeras tetap di Palu karena di sana banyak keluarga dan juga besar di sana. “kenapa so suka sekali ke Palu, jangan jangan mo meninggal di Palu,” ini ucapan istri saya dengan nada bergurau. Memang, beberapa bulan ini sudah 3 kali ke Palu, pertama ziarah ke makam Ayah, adik perempuan dan paman serta keluarga lain, yang kedua adalah menghadiri pemakaman tente sekaligus ibu angkat saya.

Sepanjang jalan, istri saya selalu menelpon, bertanya kalau sudah di mana, ini kali pertama dia banyak menelpon kalau saya sedang berangkat. Saya tiba di Palu jam 7 pagi. Sepanjang jalan menuju hotel tempat saya menginap bersama istri beberapa minggu sebelumnya dari radio mobil saya, sebuah radio swasta tengah membahas soal bangunan tahan gempa dengan salah satu pengurus REI (Real Estate Indonesia) dalam pikiran saya, mestinya yang dibahas adalah ancaman Tsunami, karena Kota Palu sangat dekat dengan laut, kebetulan ketika itu kami sedang melintas di pantai Talise tempat yang menelan banyak korban.

Tepat Jam 3 sore saya dan teman di Palu namanya Zaki, naik motor. Kami melewati kampung Lere, karena di atas motor kami tak merasa kalau sedang terjadi gempa, tetapi anak anak di kampung itu banyak yang berlarian, sambil berteriak gempa gempa . Lalu kami melewati jembatan kuning yang diberi nama jembatan Ponulele, Jembatan ini dibangun oleh Gubernur Aminudin Ponulele.

Teman saya sengaja membawa saya melewati jembatan yang berada di ujung muara sungai Palu itu dia ingin menunjukan buaya buaya yang sering berjemur sore hari di bawah jembatan itu. Munculnya buaya buaya ini memang menjadi pertanyaan warga Palu karena kemunculan buaya buaya ini baru beberapa tahun ini, menariknya buaya buaya ini tak ganas .

Gempa & Tsunami Menghantam

Setelah berkeliling Kota Palu, saya putuskan kembali ke hotel, belum lagi sempat masuk hotel, tiba tiba terdengar ledakan sangat keras dan sayapun ambruk dan dibanting ke sana kemari. Pohon pohon tumbang. Saya bingung tak tau mau lari kemana, yang muncul dalam ingatan saya adalah Perumnas Balaroa, karena ada teman akrab saya namanya Sahdon yang tinggal di sana, tetapi saya tak bisa ke sana, karena semua jalan macet tolal, semua orang, baik yang jalan kaki, naik motor maupun yang naik mobil pada lari ke gunung.

Saya pun memutuskan turun dari mobil dan jalan kaki, beruntung dalam teman lain, namanya Hedar, dia mengajak saya ke rumahnya yang berada di perumahan kebetulan di atas gunung sepanjang perjalanan saya masih sempat bergurau ketika teman saya tadi menanyakan apakah saya masih kuat mendaki, saya jawab yaaa, masih kuat karena sudah bercampur dengan ketakutan, kami pun tertawa kecil dan terus mendaki di tengah kegelapan.

Akhirnya kami tiba di tempat tujuan di sana dia disambut isak tangis keluarganya yang sangat mencemaskannya. saya sudah salamat, tetapi pikiran saya tak tenang, karena teman yang saya ajak ke Palu tak tau di mana rimbanya. Saya cemas karena tidak tahu di mana, memang di minta ijin menjenguk tantenya yang ada di palu. Tak tahan di atas saya pun memutuskan turun untuk mencarinya. Alhamdulillah saya diberikan kekuatan fisik maka saya bisa jalan turun sepanjang 5 km.

Pertama yang saya tuju adalah hotel dari sana saya diberitahu kalau Fandi sudah mengambil tas dan pergi ke rumah Zaki yang tak jauh dari hotel itu. Benar juga, dia berada di sana. Sayapun langsung mengajaknya naik lagi ke gunung. Teman saya Zaki tak mengijinkan kami ke gunung. “di sini saja, di gunung tak aman, bisa longsor,” begitu katanya.

Tetapi dalam pikiran saya di bawahpun tak aman karena kalau terjadi tsunami airnya bisa menyapu daerah ini, maka saya memutuskan naik lagi. Sepanjang jalan saya mendengar banyak teriakan yang memanggil nama nama keluarga mereka. Suasana sangat mencekam, gelap, orang orang terus bergerak naik ke gunung. Semuanya ingin cepat sampai ke ketinggian, semuanya takut disapu tsunami. Memang belum diketahui kalau Talise sudah disapu Tsunami.

Setelah tiba kembali di atas, saya pun bergabung dengan para pengungsi lainnya, kami duduk di ruang terbuka tanpa tenda. Angin gunung bertiup kencang, sungguh sangat dingin. Semalaman kami tak makan tak minum. Sementara beberapa keluarga di perumahan itu, ada yang tiba tiba berteriak histeris karena mendengar kabar kalau Perumnas Balaroa sudah amblas , dan dari sana nampak api yang membumbung tinggi, karena ada rumah yang terbakar di sana. Selain itu kabar Tsunami yang menghantam Talise pun sampai.

Mencari Keluarga yang Hilang

Paginya saya turun kambali ke Kota Palu, ada warung yang buka, warga datang membeli kebutuhan dan pemilik kios menjual dengan harga biasa mereka tak menaikkan harga sedikitpun, air mineral misalnya yang sedang tetap 3500 dan yang besar 6000. Artinya kalau toko toko buka, rakyat tak mungkin menjarah, mereka tetap akan membeli.

Saya pun meminta bantuan Zaki untuk mencari keluaga, namun semua rumah yang saya datangi kosong, beberapa tempat pengungsian juga saya datangi, tetapi tak bertemu dengan satupun keluarga. Sepanjang Sabtu (29/9) pagi sampai sore seya mencoba mendatangi tempat tempat pengungsian. Malamnya saya memutuskan pulang ke Gorontalo.

Nekat Pulang Gorontalo

Saat itu yang sangat menteror justru kabar kabar bohong, bahwa akan ada gempa susulan yang lebih dahsyat. Pertama yang dikatakan akan terjadi pada jam 3 pagi, lalu jam 3 sore , setelah itu dikabarkan akan terjadi lagi pada jan 6 sore, terakhir dikabarkan akan terjadi pada hari ketiga seperti yang terjadi di Lombok. Saya akhirnya memutuskan keluar dari Palu, apa pun yang terjadi.

Memang tak bisa menggunakan mobil, pertama ada informasi kalau jalan putus kedua tak ada bahan bakar. Kebetulan malam itu ada beberapa napi yang kumpul bersama kami. Salah satunya napi narkoba yang masa tahanannya 22 tahun. Orang muda 22 tahun ini bisa berada di luar karena penjara palu juga hancur, dia tak mau kabur dan memilih kembali ke penjara namun menurut dia petugas lapas memberikan waktu padanya dan teman teman berada di luar dulu selama beberapa hari ke depan.

BACA BAGIAN 2 : Palu Nomoni

Dialah yang menawari saya menggunakan motornya kembali ke Gorontalo. Sayang motornya tak bisa saya pakai, karena bannya botak , bensin sangat tipis dan juga jenis motor laki laki. Akhirnya saya pinjam motor milik Zaki , lalu kami bertukar motor, motor milik Aib dipakai Zaki dan motor milik Zaki saya pakai. Jam 10 malam kami berangkat.

Nekat memang, tetapi itu sebuah pilihan, kami pun melintasi jalan jalan yang berserakan tersapu Tsunami. Dengan motor kami bisa melewati rintangan yang ada di sepanjang jalan, ini belum lagi bau busuk yang mulai menyengat. Mengerikan memang melihat rumah rumah yang ambruk, mobil yang terbalik, kapal kapal kecil yang terseret ke jalan raya.

Tetapi tekad saya harus bisa melewati kebun kopi. Dalam pikiran saya, bisa melewati kebun kopi bisa diartikan ada kesempatan hidup. maka saya pun melarikan kendaraan dengan kecepatan tinggi melewati jalan berkelok dan pohon pohon yang tumbang dan batu batu besar yang longsor. Baru saja mendaki , hujan mulai turun, saya benar benar tegang karena takut longsor, apalagi kawasan kebun kopi sangat rawan longsor di beberapa luas jalan banyak mobil yang terbalik.

Hujan semakin deras, saya dan Fandi basah kuyub. Tiba, di Puncak hujan semakin deras tak ada tempat berteduh maklum di tengah hutan lebat, kami terus melanjutkan perjalanan, tetapi tiba tiba badan saya gemetar keras akibat kedinginan. Bayangkan, jam 12 malam berada di tempat yang paling dingin dan diguyur hujan pula.

Tak tahan saya berhenti dan menyerahkan motor pada Fandi. Sekujur tubuh menggigil, saya mengira akan mati kedinginan. Kami melanjutkan perjalanan, saya memeluk erat tas ransel untuk mengurangi kedinginan. Alhamdulillah kami tiba di Toboli disini banyak warung. Kami pun mampir . Saya langsung memesan air panas dan langsung meminumnya.

Hujan semakin deras kami tak bisa melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya dan Fadli tidur di lantai dengan beralaskan tikar yang disediakan pemilik warung. Memang ada beberapa orang yang tidur di situ karena mereka tak berani melanjutkan perjalanan ke Palu dengan melewati kebun kopi . Pagi kami melanjutkan perjalanan dengan perut kosong tak ada makanan di warung itu.

Selain perut kosong tangki minyak juga mulai menipis. Tetapi saya bilang sama Fandi jalan terus sampai motor kehabisan bensin, dengan kecepatan rata rata 80 km perjam kami ingin jauh dari Kota Palu, sepanjang jalan tak ada bensin, yang nampak adalah botol botol kosong, pompa bensin tutup . Saya pasrah ketika penunjuk bensin mulai berkedip, tetapi Alhamdulilah dari kejauhan nampak banyak motor antri, ternyata ada pompa bensin mini yang tengah melayani pembeli, kami pun langsung antri, tetapi petugas pom bensin mengatakan pembelian hanya boleh dua liter.

Saya pun melobi petugas agar bisa mendapatkan lebih dari dua liter. Mendengar penjelasan saya bahwa tujuan saya ke Gorontalo, akhirnya saya diberi 5 liter. Dengan modal 5 liter kami melanjutkan perjalanan sampai kami menemukan bensin bensin eceran dan ketika memasuki wilayah Gorontalo bensin mudah ditemukan. (bersambung)

Share

Comments

comments

One thought on “Kisah Haji Lala Korban Gempa dan Tsunami yang Selamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *