Kisah Haji Lala Korban Gempa dan Tsunami yang Selamat, Palu Nomoni

Wartawan senior Hj Lala

Kota Tua Masih Berdiri Kokoh

RadarGorontalo.com – Alhamdulillah, ucap saya dalam hati ketika mendengar ada suara pesawat. Saya pun langsung ke bandara dengan harapan bisa berangkat ke Makasar atau ke Gorontalo. Ini kali pertama saya begitu berharap bisa naik pesawat, pesawat apa saja asal bisa keluar dari Palu. Tetapi dalam perjalanan ke bandara, saya ingat kalau saya tak punya uang kontan untuk beli tiket, lalu saya ingat Hamid Kuna, saya bisa minta bantuannya untuk mendapatkan tiket.

Tetapi sekali lagi harapan saya pupus, karena saya kembali sadar kalau HP tak bisa digunakan. Apalagi ketika tiba di bandara saya melihat terminalnya porak poranda dan tak ada satupun petugas bandara. Hanya para pengungsi yang tidur tiduran di taman milik bandara. Sabtu pagi itu pikiran saya benar benar kosong. Sepanjang perjalanan pulang saya melihat bebarapa kawasan nampak basah. Memang sejak semalam saya bertanya tanya mengapa jalanan basah, apalagi jalan ke tempat saya mengungsi. Saya yakin itu air dari dalam tanah, tetapi teman saya yakin itu air PAM yang bocor. Tetapi ternyata dugaan saya benar, itu air dari dalam tanah. Persis seperti yang terjadi di Petobo dimana satu kampung tenggelam ditelan lumpur.

Baca Bagian I : Kisah Haji Lala Korban Gempa dan Tsunami yang Selamat

Meski pikiran sangat kalut, namun naluri wartawan membawa saya keliling Kota Palu, khususnya ke tempat – tempat yang luluh lantak akibat gempa dan tsunami. Namun, yang menarik perhatian saya bukan tempat – tempat yang hancur, melainkan kawasan yang masih tegak berdiri. Aneh memang kawasan Kota Tua, baik yang ada di Palu Timur maupun Palu Barat di beberapa Kelurahan Tua, umumnya rumah rumah yang ada sudah tua tua pula dan kalau ada yang roboh hanya pagar.

Saya pun berpikir, mengapa para leluhur memilih kawasan ini untuk menjadi daerah pemukiman. jangan jangan mereka juga punya ilmu untuk mengetahui kalau struktur tanah di kawasan itu sangat bagus. Ujuna. kampung Baru, Kamonji, Siranindi, Boyaoge Nunu dan lain lain semuanya baik baik saja.

Warga Marah, Palu Nomoni Biang Bencana

Sebelum gempa dan tsunami menerjang, Jum’at sore itu sepanjang bibir pantai Talise berdiri banyak panggung kesenian. Rupanya malam itu pembukaan festival yang bertajuk Palu Nomoni (Palu Berbunyi). Kegiatan dalam rangka HUT Kota Palu ini Yang menjadi sasaran kemarahan rakyat Kota Palu. Masalah Palu Nomoni ini paling banyak dibicarakan para pengungsi.

Saya berpikir mengapa kegiatan ini dianggap menjadi penyebab terjadinya bencana. Secara ilmiah ini tak bisa diterima. Tetapi setelah mendengar lebih jauh mengapa Palu Nomoni itu menjadi sasaran kemarahan barulah saya bisa mengerti, karena ternyata ketika tahun pertama acara ini dilaksanakan, tiba tiba Kota Palu diterpa angin keras dan hujan deras, tahun kedua ada nelayan yang diterkam buaya. Memang acara mistik yang menjadi salah satu acara Festival Palu Nomoni itu sudah ditegur oleh kalangan ulama di Palu, karena dianggap syirik . “ini syirik dan panggil panggil setan, tetapi acara ini tetap di bikin , ini akibatnya, bencana yang datang,” kata seorang pengungsi.

Apa yang menjadi kemarahan warga Palu ini bukan kemarahan politik tetapi murni kemarahan akibat kegiatan animesme yang dihidupkan kembali. Konon kiamat terjadi pada hari Jum’at, maka ketika gempa dahsyat menghajar Kota Palu Jum’at, saya pikir kiamat sudah datang. Bayangkan tanah bukan hanya bergoyang, tetapi saya benar benar melihat gelombang tanah. Tanah yang bergerak sangat mirip dengan gelombang di laut.

Setelah gempa, kota Palu gelap gulita, listrik padam, semua orang panik dan meninggalkan rumah tak ada yang berani masuk rumah sepanjang malam orang orang tidur di jalan jalan , dan tempat terbuka lainnya. Benar benar semuanya tak berguna, ada beras tak ada air, maka tidak bisa masak nasi ada uang tetapi tak ada yang bisa dibeli. Pokoknya Palu benar benar lumpuh. (tamat)

Share

Comments

comments

One thought on “Kisah Haji Lala Korban Gempa dan Tsunami yang Selamat, Palu Nomoni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.