Mencekam, Warga Lari Keluar Palu

Wartawan senior Hj Lala

Kisah Haji Lala Korban Gempa dan Tsunami yang Selamat (Bagian 3 )

“Kak, Palu semakin mencemaskan, sekarang saya benar benar takut. istri dan anak anak sudah saya berangkatkan ke Luwuk, Insya Allah sehari dua ini saya juga akan meninggalkan Palu, kami sudah tak tahan hidup dalam ketakutan,” begitu kata Zaki tadi malam.

Haji Lala, Radar Gorontalo

RadarGorontalo.com – Zaki ini adalah warga Kelurahan Kamonji, dia dan keluarganya terhitung sangat berani, ketika gempa 7,4 mengguncang Palu Jum’at kemarin, Zaki dan istri tetap bertahan di rumahnya. dia tak pernah mau lari ke gunung. Tetapi tadi malam Zaki mengatakan dia sudah memutuskan keluar dari Palu, menurut dia sudah tak ada tempat aman di Palu, jadi pilihannya adalah keluar daerah.

“Guncangan guncangannya cukup keras. Meski tidak sekeras yang lalu, tetapi kalau banyak kali lama lama bisa bikin runtuh seperti¬†Perumnas Balaroa dan Petobo,” katanya. Tidak hanya Zaki yang mulai menyerah, keluarga saya pun sudah mulai keluar dari Kota Palu, tadi malam ada yang sudah ke Jakarta lewat Pasang Kayu, ada juga yang ke Ternate, dan ada juga yang datang ke Gorontalo dan Manado.

Suasana di Palu memang semakin mencekam, orang orang yang semula sudah mulai pulang ke rumah, kini kembali lagi ke pengungsian. Semua orang ingin keluar dari Palu. Tetapi apa daya, bagi yang punya uang dan keluarga di luar daerah pasti sudah pergi, tetapi bagaimana dengan mereka yang tak punya duit dan keluarga terpaksa harus pasrah.

Memang sekarang ini , banyak sekali yang keluar dari Palu, baik itu lewat udara, laut maupun darat. Wajar kalau rakyat Palu masih tetap takut, saya saja sampai sekarang masih trauma, ada bunyi seng saja saya langsung tegang. begitu pula kalau ada kemacetan di jalan raya. Bahkan sampai sekarang ini saya masih takut tidur di kamar.

Ditemani Alfatiha dan Ayat Kursi 

Kalau saya bisa lolos dari bencana dahsyat di Palu sudah pasti karena belum ajal, tetapi kalau saya tak cedera sedikit pun, itu sudah pasti karena Al-Fatihah dan Ayat Kursi yang saya baca sepanjang perjalanan dari Gorontalo Palu. Memang ketika berangkat dari Gorontalo Jum’at lalu, sepanjang jalan saya terus membaca Al-Fatihah dan Ayat Kursi dan baru kali itu saya terus membaca dua ayat itu.

Lepas dari semua itu, saya bersyukur, bisa merasakan bagaimana gempa bumi 7,4 bisa merasakan gulungan tanah yang bergerak seperti eskalator. Artinya saya sudah punya pengalaman seperti itu dan bisa menceritakan ke pada banyak orang bahwa jika Allah menghendaki kapan saja bencana itu akan datang. Semoga bencana seperti ini tidak terjadi di Gorontalo. Aamiin. (**)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.