Keren..! Drone Pendeteksi Penyakit Tanaman

Diskusi Teknologi Inklusif dan Data Spasial Presisi Tinggi

Teknologi Inklusif dan Data Spasial Presisi Tinggi, yang dihadiri Ary M. Pedju bersama tim, sempat memaparkan drone pendeteksi penyakit pada tanaman

RadarGorontalo.com – Teknologi Inklusif dan Data Spasial Presisi Tinggi, menjadi tema pada diskusi umum yang digelar di UNG, Rabu (7/12). Ada yang menarik dari diskusi tersebut. Ary Mochtar Pedju bersama timnya, sempat memperkenalkan pengembangan drone yang bisa mendeteksi kesehatan tanaman. “Tim yang datang bersama pak Ary, telah mampu menciptakan drone yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian. Drone yang diciptakan ini, memiliki kemampuan mendeteksi kesehatan tanaman pertanian,” kata Rektor.

Kehadiran tim ini, menurut Rektor, diharapkan bisa memberi montivasi kepada mahasiswa untuk mengenal lebih jauh tentang inovasi. “Mahasiswa turut dihadirkan pada diskusi ini. Ini dimaksudkan supaya mereka bisa termotivasi untuk terus melakukan inovasi,” ungkap Rektor.

Pada kesempatan tersebut, Rajawali, salah seorang dari tim, sempat mempresentasikan dan menceritakan banyak hal perintisan dan pembuatan drone yang kemudian dikembangkan sebagai drone yang dapat mendeteksi kesehatan tanaman pertanian.  “Saya melakukan riset, yang membutuhkan data presisi yang tinggi. Selain membutuhkan data spasial tentang hutan, saya juga membutuhkan instrument untuk pengumpulan data dan bisa memonitor. Saat itu, citra satelit aktualisasi dan presisinya terbatas,” tutur Rajawali. “Saya akhirnya bisa membuat drone yang sudah autonomus, drone yang terbang sudah tidak lagi dikontrol. Tinggal dilempar ke atas, drone itu akan terbang, satu jam kemudian drone ini akan kembali dan sudah membawa data,” katanya.

Menurut Raja, satelit apapun yang digunakan, hanya bisa memberikan citra dengan resolusi setengah meter per-pixel. “Kalau satelit di zoom, pohon cenderung tidak kelihatan. Tapi dengan drone, bisa 3 sampai 15 meter per-pixel. Citranya tergeoreferensi, dan bisa menghasilkan 2 dimensi dan 3 dimensi. Drone pertama, 2 sampai 30 menit terbang. Satu kali terbang 50 sampai 100 Ha bisa terpetakan,” jelas Rajawali. Penggunaan drone ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan. “Kami juga membawa kamera, termasuk termal yang bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit pada tanaman,” imbuhnya. Pemaparan mengenai drone canggih ini, turut disimak Rektor UNG Prof. Dr. Syamsu Qamar Badu, M.Pd bersama para Wakil Rektor, para Dekan serta mahasiswa, dan juga Dr. Ir. Fadel Muhammad.(rg-40)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.