Kawasan Kumuh Harus Nol Persen


Mei lalu tepatnya Minggu (21/5) Walikota Marten Taha meresmikan IPAL Smart di Kelurahan Libuo, Kecamatan Dungingi.

RadarGorontalo.com – Permasalahan permukiman kumuh perkotaan sering kali menjadi isu utama yang cukup menjadi polemik, sehingga seperti tidak pernah terkejar oleh upaya penanganan dari waktu ke waktu sudah dilakukan. Masalah yang sarat muatan sosial, budaya ekonomi dan politik dengan serta merta mengancam kawasan-kawasan permukiman perkotaan yang nyaris menjadi laten dan hampir tak selesai ditangani dalam beberapa dekade. Secara khusus dampak permukiman kumuh juga akan menimbulkan paradigma buruk terhadap penyelenggaraan pemerintah, dengan memberikan dampak citra negatif akan ketidakberdayaan dan ketidakmampuan pemerintah dalam pengaturan pelayanan kehidupan hidup dan penghidupan warganya.

Irwan Pulukadang, ST selaku Kepala Seksi Pengembangan Permukiman Penataan Bangunan Lingkungan Permukiman (Bangkim dan PBL) Bidang Cipta Karya Dinas PU dan Penataan Ruang Provinsi Gorontalo ditemui di ruang kerjanya siang kemarin, mengatakan penanganan permukiman kumuh menjadi salah satu isu strategis nasional melalui target Universal Access Pemerintah menargetkan khusus kawasan kumuh harus nol persen tertangani sampai tahun 2019. Dimana penanganan permukiman kumuh salah satu indikatornya yaitu tersedianya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Khusus untuk penentuan permukiman kumuh menurut pria yang akrab disapa ipul, mengemukakan melalui SK Walikota/Bupati. Jadi Walikota/Bupati yang memutuskan dan menunjuk kawasan kumuh untuk kemudian ditangani. Nah penanganan dilakukan sesuai Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Di Kota Gorontalo itu sendiri menurut Ipul, belum memiliki sistem pengelolaan air limbah yang baik. Jumlah penduduk yang bermukim di wilayah Kota Gorontalo hampir seluruhnya belum memiliki bangunan pengolahan air limbah baik yang individu maupun komunal, khususnya untuk limbah yang berasal dari non toilet atau limbah dapur (grey water). Limbah dapur yang mereka keluarkan, sebagian besar langsung dibuang ke badan air atau tanah tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu.

Dari data dan informasi yang saya dapatkan kata Kasie Bangkim dan PBL, bahwa Satker Penyehatan Lingkungan Perumahan Provinsi Gorontalo sejak tahun 2012 sampai 2016 jumlah IPAL terbangun berjumlah 17 unit yang tersebar di Kabupaten/Kota. Dan dari jumlah tersebut Kota Gorontalo sendiri sudah mempunyai empat bangunan IPAL masing-masing dibangun oleh Satker PLP di kawasan Kelurahan Libuo 2 buah, di kelurahan Siendeng 1 buah dan di kelurahan Limba U 1 buah.

“Bulan Mei lalu tepatnya Minggu (21/5) Walikota telah meresmikan IPAL Smart di Kelurahan Libuo Kecamatan Dungingi. Dan hal tersebut saya manfaatkan untuk mengkolaborasikan IPAL ini dengan sistem pemanfaatan Air Limbah Melalui Perpaduan Program Perikanan dan Pertanian yaitu Social Engineering Aquaponic (SEA) yang langsung pengelolaannya oleh kelompok KSM SMART Kelurahan Libuo. Ide pemanfaatan olahan air limbah IPAL diharapkan masyarakat dapat lebih kreatif untuk melihat peluang usaha. Konsep Social Engineering Aquaponic (SEA) dapat menyaring kembali air pengolahan IPAL yang sudah dibuang ke saluran lingkungan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk bercocok tanam dan memelihara ikan,” kata Irwan Pulukadang.

Lebih lanjut dikatakannya, ada tiga poin penting yang dapat kita ambil dari pembangunan IPAL di Provinsi Gorontalo terutama di Kota Gorontalo yaitu pertama fungsi drainase lingkungan bebas sendimentasi akibat limbah rumah tangga, kedua percepatan pelayanan sanitasi bagi masyarakat melalui IPAL Komunal dapat tercapai dan ketiga masyarakat dapat berkreasi untuk memanfaatkan olahan air limbah menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. dan harapan Pak Marten Taha dalam sambutan peresmiannya tersebut, dimana IPAL SMART dan SEA dapat di jadikan percontohan dan dapat dimanfatkan pengolahan air tersebut sebagai peluang bisnis, dan masyarakat mendapat keuntungan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. (rg-50)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *