Kampanye Hitam di Minggu Tenang

Tabloid Sapujagat, yang diduga menjadi media kampanye hitam yang berhasil diamankan Panwaslu Kota Gorontalo.

Paslon Lain Terlibat, Tim NKRI Punya Saksi

RadarGorontalo.com – Tak cuma money politik yang perlu diantisipasi Bawaslu, tapi juga kampanye hitam. Selasa (14/2) dini hari kemarin, publik dikejutkan dengan adanya pembagian tabloid bernama Sapujagat, yang mulai dari halaman depan berisi berita yang dianggap menyerang calon petahana Rusli Habibie. Bahkan, Menurut Panwas, pembagian tabloid itu ada indikasi kampanye hitam yang ditengarai dibekingi tim sukses paslon lain.

Seperti diutarakan Jhon Hendri Purba Ketua Panwaslu Kota Gorontalo yang dalam pernyataan resminya mengatakan, pihaknya menduga ada keterlibatan salah satu paslon. “Dari informasi yang sampai ke kita, baik yang disampaikan petugas PPL dan intlejen, kemungkinan itu ada melibatkan salah satu paslon. Namun saya tidak bisa mengungkapkan secara terbuka soal itu, biarlah penyidik di gakumdu yang akan mendalaminya. Mungkin indikasi dan persepsinya ada, karena yang masuk ke kita itu bukan hanya informasi dari petugas PPL saja, tapi ada informasi dari intelejen. dan dilengkapi dengan kronologisnya,” ungkap Purba, yang enggan membeberkan nomor polisi dari mobil yang digunakan.

Inti dari isi tabloid tersebut kata Purba, menyudutkan salah satu paslon. Dan bagi anggotanya, pemberitaan itu dijadikan sebagai temuan di lapangan yang saat ini telah disampaikan pada pihak Gakumdu, dan telah ditindaklanjuti apakah temuan itu, memenuhi unsur pelanggaran pidana pemilu tentang Balck Campaign atau kampanye hitam. “Ini secara normatifnya, mengacu pada pasal 69 Undang-Undang No 10 Tahun 2016, dimana ada unsur fitnah, propaganda dan sebagainya atau adu domba, saat ini masih dalam proses pendalaman oleh kami.,” jelas Purba. “Kalau memang ada keterkaitan dengan pelanggaran pidana pemilu, tentunya akan menjadi ranah dari Panwas, kalau tidak akan dialihkan pada pidana umum yang sepenuhnya di ranah kepolisian,” timpalnya.

“Kalau saya lihat dari judulnya Sapujagat, kalau di gorontalo tidak ada tabloid seperti itu dan dugaannya dari Surabaya. Dan bukan tabloid yang biasa kami baca. Mulai dari halaman 1 hingga 4 berisikan persoalan hukum, dan indikasi pelanggaran hukum yang dapat mempengaruhi salah satu paslon. Tidak tahu kenapa bisa tersebar disini, nah ini mungkin ranahnya hukum untuk mendalami itu, terkait pelanggaran kode etik,” tutur Purba.

Senada dengan itu, Nanang Masaudi, komisioner Bawaslu Provinsi Gorontalo, menyayangkan dugaan kampanye hitam itu. “Saat ini seluruh jajaran pengawas kami siagakan selama 24 jam penuh, sampai dengan malam hari dalam memperketat pengawasan. Dan jika ditemukan pelakunya, akan segara diproses sesuai dengan aturan yang ada,” tegas Nanang.

Ditempat terpisah, Meyske Camaru, penasehat hukum paslon Rusli-Idris pada paket NKRI mengatakan, dilihat dari pemberitaan yang ada dalam tabloid itu, ia menduga itu memenuhi unsur pelanggaran pilkada, dan mengarah pada pidana. “Ada dua hal, ini kampanye sudah masuk masa tenang, yang jelas ada unsur menjatuhkan dan memfitnah juga menghasut melalui tabloid sapu jagat, yang terjadi di masa tenang. Kami tentu akan melaporkan hal ini, . Artinya perhelatan pesta demokrasi yang harusnya dimasa tenang, kita tinggal menunggu hari H, ternyata dinodai dengan selebaran atau tabloid ini,” terang Meyske via selular.

Bahkan mengenai temuan tesebut, pihaknya sudah mengantongi beberapa bukti kuat, termasuk saksi kunci yang menyaksikan penyebaran tabloid itu. “Kami punya saksi-saksi bahwa itu dari kediaman salah satu paslon. Ada saksi kunci. Jam 01.20 Wita dini hari peristiwa itu kalau tidak salah. dan itu diedarkan melalui bentor maupun dari mobil-mobil yang sudah teridentifikasi nomor polisinya. Bahkan ada dalam bentuk visualisasi video, jadi kami tinggal berharap kewenangan untuk menelusuri ini lebih lanjut, di Bawaslu dan centra gakkumdu,” singkatnya.(rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.