Jual Tubuh, Demi Gaya Hidup

GORONTALO UNDERCOVER

ilustrasi (Anwar/RG)

RadarGorontalo.com – Dari survei yang dilakukan Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Gorontalo, tercatat ada sekitar 2.617 orang perempuan yang berprofesi sebagai PSK. Itu sudah termasuk yang aktif melayani panggilan harian,  hingga PSK high class, yang hanya mau melayani tamu berkantong sangat tebal. Dari survei itu juga diketahui, kalau tempat mangkal para PSK ini, tak cuma di tempat hiburan malam, seperti night club, hotel berbintang, cafe atau penginapan saja. Salon, hingga kos-kosan jadi tempat untuk bisnis mesum ini. Himpitan ekonomi, bukan lagi alasan utama. Bahkan, kebanyakan wanita wanita Pekerja Seks Komersil (PSK) saat ini, rela terjun ke bisnis maksiat itu, hanya untuk membiayai gaya hidup mentereng yang kian mahal. Penelusuran Radar Gorontalo terungkap, ternyata tidak sedikit PSK yang justru berasal dari keluarga kaya, bahkan ada PSK yang profesi siangnya adalah aparatur sipil negara (ASN).

Abink – Helmi, Radar Gorontalo.

Melalui sejumlah jaringan, Radar Gorontalo dihubungkan dengan salah satu PSK berumur 17 tahun yang masih berstatus pelajar di salah satu SMK Kota Gorontalo. Sebut saja namanya Cinta (nama samaran,red). Mengetahui akan diwawancara, Cinta awalnya menolak, namun setelah diberi penjelasan plus dijanjikan disembunyikan identitasnya, Cinta akhirnya mau. Disepakati, ketemu di salah satu tempat karaoke ternama. Ditawari akan dijemput, Cinta menolak dengan alasan baru kenal. “Tidak usah dijemput, kaka tunggu saja di situ,” kata Cinta, lewat pesan singkat selular.

Menggunakan baju lengan panjang dipadu dengan blue jeans, Cinta akhirnya tiba. Dengan potongan rambut di bawah bahu, Cinta terlihat sangat cantik. Wajar, kalau PSK seperti Cinta, mematok tarif tinggi untuk sekali bookingan. Singkat cerita, Cinta pun mulai buka suara soal profesi yang dijalaninya itu, hingga bagaimana dirinya bisa terjerumus. “Untuk sekali main Rp. 1 juta. Itupun kalau orangnya pengusaha atau yang banyak uang. Kalau hanya pegang-pegang Rp 300 Ribu,” ungkap Cinta, malu-malu.

Dirinya pun mengaku, dirinya bukan berasal dari keluarga mampu. Ayahnya hanya seorang pengemudi bentor, sedangkan ibu hanya di rumah. Kata Cinta, ada juga teman-teman yang se profesi dengannya, dan sama-sama masih sekolah. Tapi ada juga yang akhirnya putus sekolah. Bersama teman-temannya itu, Cinta memilih tinggal di kos-kosan, biar lebih mudah memenuhi panggilan. Maklum kata Cinta, profesi yang dilakoninya itu tidak diketahui oleh orang tua masing-masing. Untuk melayani tamu, Cinta tidak pilih-pilih tempat asalkan harganya pas. Bisa di  hotel, penginapan atau kos-kosan teman.

Sebenarnya, Cinta  mengaku menyesal dengan profesinya itu. Tapi tidak tahu, mau keluar bagaimana. himpitan ekonomi, membuat Cinta takut putus sekolah. Belum lagi gaya hidupnya yang mahal, baju dan tas bermerek. handphonenya pun canggih. Semua didapatkan dari penghasilan sebagai kupu-kupu malam.  “Biar saja begini, yang penting sekolah tidak mo putus,” ungkap Cinta, yang mengaku sudah melakoni profesi ini sejak masih kelas 3 SMP.

Setelah Cinta, hari kedua dilanjutkan dengan Melati (nama samaran,red), seorang mahasiswi berumur 21 tahun. Dengan postur tinggi, dan wajah yang cantik, Melati terlihat seperti seorang model. Kali ini, kami bertemu di salah satu tempat hiburan malam. Beda dengan sumber sebelumnya, Melati langsung akrab. Tidak ada kesan malu-malu, bahkan Melati memesan minuman bir untuk dirinya. “Tanya saja apa yang kaka motanya, tapi jangan tanya soal keluarga. Langsung saja,” tegas Melati.

Pengakuan Melati berbeda dengan Cinta. Dirinya justru bertahan di lembah hitam, hanya untuk mempertahankan gaya hidupnya yang mahal. Kalaupun ada sisa, maka itu untuk biaya kuliah. Melati makin susah keluar, karena ketergantungannya dengan obat-obatan, yang harganya mahal. Tak banyak memang yang diceritakan Melati. Yang membuat terkejut, ditengah-tengah pembicaraan, Melati tiba-tiba meneteskan air mata. Dirinya mengaku ingin tobat.  “Menurut kaka, saya harus bagaimana lagi !. Tak berani diri ini jujur dihadapan orang tua. Kecuali mereka tidak marah dengan keadaan saya yang sekarang ini,” pungkasnya.

PSK Punya Mobil dan Rumah Mewah

Sedikit mujur, Radar Gorontalo akhirnya berhasil mewawancarai salah satu PSK papan atas. Paras cantik, body aduhai membuat si Pinky (nama samaran,red), lebih terlihat seperti sosialita ketimbang PSK. Apalagi, Pinky bukan PSK sembarangan. Selain penampilan yang modis, barang-barangnya pun bermerek. Dirinya pun, punya mobil pribadi dan rumah terbilang mewah. Wajar, dari pengakuan si Pinky penghasilannya sebulan mencapai Rp. 20 juta. Itupun, kalau musim lagi sepi. Kalau lagi ramai, bisa tembus jauh diatas itu.

Berbeda dengan PSK lain, wanita berusia 23 tahun ini, ogah menggunakan jasa mucikari, alias beroperasi sendiri. Saat masih SMA, Pinky dikenal sebagai siswi berprestasi, bahkan sempat ikut ajang pemilihan Nou dan Uti. Karena berstatus sebagai pelajar yang punya nama di sekolah, Pinky akhir harus menyesuaikan gaya hidupnya. Kala itu, Pinky tertarik dengan tas bermerek milik teman sekelasnya, namun tak mampu membelinya. Singkat cerita, Pinky pun mulai dikenalkan dengan dunia malam, hingga berlanjut ke bisnis esek-esek. Tergiur dengan pendapatan yang besar, Pinky pun akhirnya melanjutkan profesinya itu hingga kini. “tarif awal saya, Rp. 750 ribu. Setelah tahu cara bisnisnya, saya naikkan sendiri jadi Rp. 1 juta. Saya gunakan penghubung, tapi sifatnya asisten bukan mucikari,” ungkapnya.

Setelah menabung bertahun-tahun, tepat 2014 silam, Pinky akhirnya bisa membeli rumah dan mobil pribadi, dari hasil prostitusi. Mobil dibeli dengan cara kredit. Naik, mobil membuat status Pinky naik dan tarifnya pun melejit, sampai Rp. 2,5 juta bahkan lebih.  “Kalau tidak bagini, sapa yang mo bastor ini mobil uti,” tuturnya.

Terlihat sudah profesional dalam hal prostitusi, tanpa rasa keberatan ia juga mengakui bahwa dirinya saat ini masih melakukan aktivitasnya tersebut. Tak cuma melayani panggilan dalam daerah, Pinky juga melayani panggilan ke luar daerah. “di Gorontalo sudah jarang saya main. Kalau di luar daerah sering, apalagi kalau pemesannya pengusaha atau pejabat,” ungkapnya. bersambung. (RG)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.