Jelang Ramadhan Gorontalo, Ayam Kampung 80 Ribu, Daging Sapi 110 Ribu

RadarGorontalo.com –¬†MENCICIPI ayam kampung atau sejumlah makanan ringan penutup, seperti Tili’aya, sudah menjadi tradisi masyarakat Gorontalo, di awal Ramadhan. Kekhasan ini akan terpelihara, karena tidak ada gejolak kelangkaan maupun kenaikan harga bahan pokoknya, yang dikhawatirkan masyarakat

Laporan: Moh. Yusuf Tuna, Gorontalo

HAL ITU menyusul sejumlah pantauan instansi/dinas serta pihak-pihak terkait di lapangan, akan kebutuhan pokok atau sembako dan strategis masyarakat, sejak H-2 Ramadhan kemarin. Seperti yang dilakukan oleh Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan (Diskoperindag) dan UKM provinsi Gorontalo di sejumlah pasar-pasar harian di Kota Gorontalo, dan juga Diskoperindag UKM Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut). Dimana, terkait kebutuhan sembako yang beberapa jenis diantaranya menjadi bahan baku kebutuhan masyarakat dalam membuat menu makanan khas di setiap awal Ramadhan, terpantau stabil atau cukup memenuhi keinginan pasar.

Seperti halnya, kebutuhan akan ayam kampung. Di empat pasar harian yang tersebar di Kota Gorontalo, seperti Pasar Sentral, Mo’odu, Liluwo dan Pasar Kampung Bugis, sesuai pantauan Diskoperindag provinsi Gorontalo per 14 Mei 2018 kemarin, mematok harga tertinggi senilai Rp 75 ribu per ekor. Dan, ayam kampung terendah dibandrol seharga Rp 50 ribu. Sementara, di Gorut, dari hasil pantauan Diskoperindag setempat, harga ayam kampung paling mahal dilepas Rp 80 ribu per ekor.

Adapun kompatriot-nya, yakni daging sapi, masih berlaku stabil pula, alias tidak terjadi kenaikan harga yang signifikan. Karena, baik dari sampel di Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorut, paling mahal daging sapi tetap pada posisi Rp 110 ribu/kilo. Bahkan, di sejumlah pasar harian di Kota Gorontalo, bisa mendapatkan harga terendah atau turun tipis Rp 105 ribu/kilo, sesuai hasil pantauan Diskoperindag Provinsi per 14 Mei 2018. (lihat tabel, red).

Tabel

Sama halnya, untuk bahan baku makanan ringan penutup khas masyarakat Gorontalo di bulan Ramadhan, seperti Tili’aya, yakni gula pasir dan telur. Dari pantauan terpisah, Diskoperindag Provinsi dan Kabupaten Gorut, berbeda tipis harganya. Dimana, untuk gula pasir di Kota Gorontalo, tertinggi Rp 13 ribu/kilo dan terendah Rp 12,500/kilo. Sementara di Gorut, rata-rata Rp 12 ribu/kilo.

Begitu pun untuk kebutuhan telur, tidak mengalami lonjakan atau perbedaan signifikan. Dimana, harganya di Kota Gorontalo dibandrol tertinggi Rp 2,500/butir untuk telur ayam kampung, dan telur ayam ras tertinggi Rp 1,700/butir. Sementara di Gorut, rata-rata dikisaran harga Rp 2 ribu/butir.

OPERASI PASAR

Sementara itu, terkait operasi pasar dan inspeksi mendadak (sidak) yang disepakati pada rapat jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) provinsi Gorontalo bersama instansi vertikal, yang Diperluas dengan melibatkan pemerintah kabupaten/kota belum lama ini, akan senantiasa ditindaklanjuti, sebelum Ramadhan, hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri mendatang. Salah satunya, yang akan dilakukan oleh jajaran Komisi II Deprov Gorontalo, yang membidangi urusan Ekonomi dan Keuangan. Dimana, direncanakan, pada hari Rabu (16/5) ini, hingga hari kedua Ramadhan, atau Jumat (18/5) lusa, akan melakukan monitoring kunjungan lapangan langsung ke sejumlah pasar harian masyarakat. “Insya Allah, hal itu akan kita (Komisi II) lakukan, guna mengecek seberapa jauh ketersediaan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat, plus harga-harganya. Agar tidak sekedar hanya tersedia dan tidak mengalami kelangkaan. Namun juga, kami harapkan, (harga-harganya) terjangkau oleh semua lapisan masyarakat,” jelas Anggota Komisi II Deprov Gorontalo, Adriana Machmoed. (*/rg)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *