Jelang Musim Haji Gorontalo 2018, EHP Sebatas Wacana?

Kegiatan penyelenggaraan musim haji Gorontalo pada tahun-tahun sebelumnya. (foto dok)

RadarGorontalo.com – Lebih dari 1 dekade atau 10 tahun silam, Embarkasi Haji Penuh (EHP) mulai disuarakan oleh Gubernur Gorontalo definitif pertama saat itu, Fadel Muhammad. Yang kemudian dirintis oleh Gubernur definitif kedua, Gusnar Ismail, yang mengawalinya dengan Embarkasi Haji Antara (EHA) pada periode 2009 hingga 2011 lalu. Namun sayang, hingga di bakal perhelatan musim haji 2018, Agustus mendatang, EHP tersebut belum terwujud. Tidak heran, sejumlah pihak menilai, jika bukan hanya mimpi, EHP di provinsi Gorontalo tidak lebih dari sebatas wacana saja. Bahkan, Ketua Komisi IV Deprov Gorontalo, Alifudin Djamal, turut mempertanyakan kembali, gaung dan semangat EHP pada beberapa tahun silam itu. Agar kembali digelorakan dan dibangkitkan semangatnya, tidak hanya dilingkup eksekutif Pemprov saja.

Namun juga harus didukung oleh instansi vertikal terkait, seperti dari Kementerian Agama (Kemenag) RI, dan sebagainya. “Karena ingat, selain kian meningkatnya jamaah haji provinsi Gorontalo dari tahun ke tahun, namun tidak dibarengi dengan kemudahan pelayanannya, karena masih tidak luput dari masalah di tiap tahunnya. Juga dari sisi penganggarannya, kita (pemerintah) provinsi Gorontalo kerap mengucurkan anggaran sebesar Rp 5 Miliar di setiap tahunnya, guna pemenuhan biaya lokal, akan penerapan EHA saat ini,” ujar Alifudin, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) jajaran Komisi-nya, dengan Kanwil Kemenag RI dan mitra kerja SKPD terkait, kemarin, menyangkut kesiapan penyelenggaraan musim haji 2018, atau di tahun 1439 hijriah saat ini. “Kemana gaung EHP yang telah dirintis, dan begitu semangatnya, sejak tahun-tahun yang lalu, bahkan ketika masih di zaman pak Fadel Muhammad?” tanya Alifudin lagi. “Kami tidak menginginkan meredup-nya gaung ini, menjadikan semangat EHP menjadi mati suri,” imbuh politisi PDIP ini.

Ditanya akan keterbatasan infrastrukturnya, yang belum memadai. Seperti keberadaan sarana prasarana akan ketersediaan bandara Djalaludin Gorontalo? Alifudin membantahnya. “Ah, bukan karena bandara. Karena, dari konsultasi kami (Badan Anggaran) belum lama ini di Kementerian Perhubungan, sudah kami konfirmasi, (bandara) Djalaludin sudah layak menyelenggarakan EHP. Karena, infrastruktur seperti panjang landasan pacu-nya, sudah sama dengan daerah-daerah lain yang telah menyelenggarakan EHP,” jelas Alifudin. “Olehnya, saya hanya menyarankan, terkait gaung EHP Gorontalo ini, agar lebih dilakukan pengembangannya, dengan melobi daerah-daerah terdekat atau tetangga, seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, dan sebagainya, untuk bisa masuk ke EHP Gorontalo, sebagai salah satu persyaratan pengoperasian EHP-nya,” harap Alifudin.

DUA INFRASTRUKTUR

Senada dengan Alifudin, pihak Dinas Perhubungan (Dishub) provinsi Gorontalo, saat dikonfirmasi RADAR seusai rapat kerja tersebut, menegaskan bahwa terkait pemenuhan sisi infrastruktur untuk pendukung EHP di Gorontalo, diyakni sudah memenuhi standar persyaratan kelayakannya. “Karena, kami (Dishub) sudah menerima sejumlah penghargaan akan standar kelayakan bandara Djalaludin itu, yang salah satunya untuk pemenuhan EHP tersebut,” kata mereka.

Namun berbeda penjelasan yang diuraikan Kepala Biro Humas dan Protokol Setdaprov Gorontalo, Refli Katili. Seusai rapat kerja itu, dia mengatakan, bahwa masih ada dua infrastruktur yang harus dibenahi, untuk kelayakan EHP di Gorontalo. Pertama, terkait infrastruktur bandara. Dimana, diharuskan bisa menampung pesawat berbadan lebar, seperti Airbus. Dan untuk ukuran panjang serta lebar landasan pacu-nya, harus mengakomodir minimal panjang 3500 meter dan lebar 60 meter. “Saat ini kan, landasaan pacu di bandara Djalaludin baru berukuran panjang 2600 meter saja, masih kurang 900 meter dari ketentuan. Sementara lebarnya, baru sekitar 45 meter saja,” ungkap Refli. “Adapun, syarat kedua, pada sisi infrastruktur EHP untuk Asrama Haji-nya. Minimal dalam satu kali perekrutan jamaah haji yang siap diberangkatkan, itu harus bisa menampung sebanyak 900 jamaah haji, atau minimal 2 kloter (kelompok terbang). Saat ini kan, infrastruktur asrama haji di Gorontalo, baru bisa menampung 1 kloter saja, atau hanya sekitar 400-an jamaah haji,” jelas dia. “Olehnya, terkait gaung rintisan kembali pengembangan menuju EHP Gorontalo ini, harus didukung oleh semua pihak,” harap Refli Katili. (ay1/rg)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *