Isu Penculikan Anak, Benar atau Hoax?

ilustrasi (Anwar/RG)

Polda Harus Buktikan

RadarGorontalo.com – Berita penculikan anak dibawah umur, berubah menjadi teror yang menakutkan. Para orang tua dibuat resah. Kasus dugaan penculikan anak di Bone Pantai yang sempat viral di medsos belum juga terungkap. Ironisnya, teror itu diperparah dengan berita bohong alias hoax dibumbui gambar mengerikan dan dibagikan oleh pengguna medsos. DPRD Provinsi Gorontalo pun mendesak Polda Gorontalo untuk mengungkap kasus penculikan, dan membuktikan kabar itu benar atau hoax.

DPRD Provinsi (Deprov) Gorontalo melalui jajaran keanggotaannya di Komisi I yang menangani bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, menghimbau kepada semua pihak dan elemen masyarakat se provinsi Gorontalo, untuk senantiasa waspada dan meningkatkan pengawasannya kepada anak masing-masing, sebagai antisipasi beredarnya isu predator anak atau dugaan aksi-aksi penculikan terhadap anak-anak, yang merebak dalam kurun waktu 3 hari terakhir ini, di provinsi Gorontalo.

“Dalam artian, hal ini harus sesegera mungkin diantisipasi dan ditindaklanjuti oleh bapak Kapolda Gorontalo dan jajarannya, untuk membuat pernyataan resmi, apakah benar isu predator anak ini, telah merajalela di Provinsi Gorontalo? Atau, cuma berita hoax, alias informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan?,” ujar Wakil Ketua Komisi I Deprov Gorontalo, AW Talib, di ruang kerja Komisi I Deprov, senin (20/03).

“Sebaliknya, jika benar isu predator anak ini, telah ada kasusnya di wilayah hukum provinsi Gorontalo, kami minta untuk segera ditindaki dengan tegas, ditangkap pelakunya. Dan juga, sosialisasinya kepada masyarakat, langkah-langkah agar terhindar dari aksi predator anak ini.” tegas mantan politisi PPP di DPR RI Senayan itu. ” Sebab, bagaimana pun, dengan beredarnya isu predator anak, telah meresahkan rakyat banyak. Dan, kami tidak ingin hal ini berlarut-larut terjadi. Yang tidak dipungkiri akan berdampak pada kelumpuhan aktivitas dan rutinitas keseharian, masyarakat di 6 kabupaten/kota se provinsi Gorontalo,” timpal mantan Sekertaris Kota Gorontalo itu.

Sementara itu, pengamat sosial khawatir, jika isu tentang penculik anak tak segera ditepis akan memunculkan konflik di tengah masyarakat. Bahkan, saat ini orang gila, nenek-nenek hingga penjual keliling, nyawa mereka terancam. Pasalnya, info yang beredar di medsos mengungkap, kalau ciri-ciri pelaku penculikan seperti orang-orang itu. Jangan sampai, isu penculikan anak justru memakan korban orang dewasa.

Selain di Bone Pantai, Sisanya Hoax

Ditempat terpisah, Kapolda Gorontalo Brigjen Pol Drs Rahmat Fudail yang ditemui disela-sela kesibukannya, Senin (20/3), menjelaskan, soal dugaan penculikan anak yang terjadi di Kecamatan Bone Pantai itu, belum bisa dipastikan apakah kasus ini penculikan atau hanya sebuah kelaian dari orang tua.

Pasalnya, informasi sementara kejadian di Kecamatan Bone Pantai itu hanya seorang anak yang tertidur dalam mobil jenis toyota avanza, dan diketahui mobil tersebut adalah mobil rental. Kendati demikian, pihaknya sampai dengan saat ini masih menyelidiki keberadaan mobil itu. “Idikasi penculikan atau tidak masih dilakukan pendalaman oleh petugas,” ujarnya.

Untuk menepis isu-isu yang viral di media sosial, pihaknya sudah mengintrusikan kepada seluruh polres di seluruh wilayah untuk melakukan sosialisasi disetiap sekolah. “Kita himbau masyarakat agar tetap waspada terutama orang tua, meskipun informasi penculikan ini tidak benar,” ketusnya.

Sementara itu juga Kabid Humas Polda Gorontalo Ary Donny, menambahkan selain kasus dugaan penculikan di Kecamatan Bone Pantai, belum ada lagi laporan yang masuk. Jadi jika ada berita ataupun informasi yang beredar bahwa ada penculikan. Besar kemungkinan kata Ary, informasi itu hanya hoax ataupun berita palsu.

Bahkan kata Ary, kepolisian saat ini masih terus melakukan penyelidikan siapa yang menyebarkan informasi hoax, yang berdampak kepada stabilitas keamanan daerah. Dijelaskannya, informasi tentang penculikan anak ini bukan hanya saja di Gorontalo, tapi juga di daerah-daerah lain. “Tolong jika menerima informasi atau berita agar dicek and ricek kebenarannya, jangan sampai kita ikut serta menyebarkan berita hoax,” tegasnya.

Menurutnya, penyebar berita hoax tersebut memiliki tujuan khusus diantaranya membuat rasa takut dan rasa tidak aman dalam masyarakat yang akhirnya membuat situasi kamtibmas menjadi tidak kondusif.

“Setiap polres juga diperintahkan Kapolda, untuk membentuk poskotis di wilayah yg dianggap rawan gangguan kejahatan, sebagai langkah antisipasi dan pencegahan,” ungkapnya. (rg-60/rg-62)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.