Hasil Riset, Mangrove di Torosiaje Potensial untuk Bahan Antibiotik

Peneliti UNG, Abubakar Sidik Katili, S.Pd, M.Sc saat mengambil sampel di kawasan magrove di Desa Torosiaje.(foto : ung/rg)

RadarGorontalo.com – Diversitas Actinomynetes dan Eksplorasi Senyawa Bioaktif dari Mangrove Desa Torosiaje, adalah judul sebuah penelitian yang mengungkap tentang keberadaan bakau di desa Torosiaje yang ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar farmasi, terutama antibiotik.

“Ada banyak manfaat mangrove yang belum terungkap. Hutan bakau, penting keberadaannya sebagai penyerap karbon, atau hutan bakau bisa menekan emisi karbon. Tapi mangrove juga memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif yang bisa dieksplorasi untuk mendapatkan senyawa bioaktif untuk antibiotik,” kata peneliti UNG, Abubakar Sidik Katili, S.Pd, M.Sc.

Penelitian yang dilakukan bersama Yuliana Retnowati, S.Si, M.Si, pakar di bidang mikrobiologi ini, mengidentifikasi jenis-jenis senyawa antibiotik yang didapatkan dari mangrove. “Kita fokus pada identifikasi actinomysetesnya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa, mikroba itu ada dua kelompok, ada Gram positif dan Gram negatif. Di mangorve itu diketahui ada mikro organisme yang bersifat memiliki potensi anti bioktik atau bioaktif yakni, actinomysetes,” ungkap Abubakar Sidik Katili.

Actinomysetes ini, menurut Dicky (sapaan akrabnya, red), adalah mikro organisme yang memiliki kemampuan dalam menghasil senyawa bioaktif. “Ada 74 persen antibiotik yang dihasil oleh promises, dan 26 persennya dari actinomysetes itu sendiri. Actinomysetes itu, memang ada di alam. Tetapi untuk kawasan mangrove, jarang di eksplorasi,” katanya.

Mangrove termasuk kawasan yang ekstrime karena merupakan ekosistem peralihan dari lautan ke daratan. Sehingga kawasan mangrove merupakan kawasan yang unik. Actinomysetes di kawasan mangrove itu adalah organisme yang halotoleran, memiliki karakteristik fisiologi, biokimia dan struktur yang spesifik. Dimana senyawa bioaktifnya ada 122 jenis dan terindentifikasi ada 72 jenis baru dan ada 49 yang belum terindentifikasi,” jelas Dicky.

Hutan mangrove di desa Torosiaje ini, termasuk overwash mangrove, yang masuk sebagai middle zone, yang semuanya memiliki perakaran. “Pada perakaran itulah diprediksi ada mikro organisme. Dan kami menemukan ada populasi actinomysetes yang berinteraksi dengan akar mangrove. Dan kami menemukan ada genus actinomysetes disana,” katanya.

Dari hasil identifikasi yang dilakukan, ada 5 isolat actinomysetes dari rizosfer bakau. “Kami menamakan sesuai dengan jenis bakaunya, yakni isolat Xylocarpus, isolat Ceriops tagal, dan isolat Bruguera gymnorizha. Kemudian setelah melihat isolatnya, kita melakukan identifikasi morfologinya, dari hasil indentifikasi itu, kami melihat morfologi sporanya dengan menggunakan mikroskop elektron,” jelasnya lagi.

Dari lima jenis itu, kemudian menguji daya hambatnya, untuk mengidentifikasi kemampuan dari antibiotik yang ditemukan itu pada bakteri yang secara umum diketahui, yakni bakteri Ecoli, Streptococcus aureus, dan bakteri Bacillus subtilis. “Dari 5 jenis isolat yang kami temukan, ternyata yang punya kemampuan menghambat adalah, isolat Ceriops tagal ada 15 mm dan isolat Xylocarpus 12 mm. Bacillus subtilis bisa dihambat oleh isolat Ceriops tagal dan Isolat Xylocarpus atau memiliki kemampuan menghambat bakteri yang Gram positif. Dari daya hambat itu, kami lanjutkan dengan identifikasi jenis bioaktifnya dengan melakukan analisis kualitatif ekstrak etil asetat. Dan kami menemukan bahwa isolat Ceriops tagal dan Isolat Xylocarpus, juga memiliki kemampuan dalam menghasilkan senyawa bioaktif yang tinggi,” kata Dicky.

Dari berbagai hasil identifikasi itu, dapat disimpulkan, bahwa ekosistem mangrove di Torosiaje mempunyai sumber daya alam yang bagus, dalam hal ini potensi actinomysetes pada rizosfer mangrove jenis Xylocarpus, Ceriops tagal dan Bruguera. “Dan semua ini, memiliki potensi menghasilkan senyawa bioaktif anti bakteri pada Gram positif. Jenis senyawa bioaktif yang dihasilkan itu, teridentifikasi pada Ceriops tagal, kami menduga hampir sama dengan anti biotik chloramfenikol, amfisilin dan cyclohexamide, dan nystatin. Dan untuk isolat Xylocarpus terindentifikasi sebagai sama seperti anti biotik cyclohexamide, dan nystatin,” jelasnya.

Dicky berharap bahwa hasil penelitian yang sangat penting dalam bidang kefarmasian ini, bisa berlanjut. “Potensi mangrove yang ada itu, ternyata bukan sekedar hutan mangrove sebagai penahan gelombang pasang. Tapi ada potensi yang bisa menghasilkan metabolit sekunder, pada aktifitas biologi mangrove tersebut. Saya berharap hasil penelitian ini, ada penelitian lebih lanjut khususnya meneliti untuk kepentingan bidang kefarmasian. Contohnya, beberapa penelitian yang sudah pernah ada juga, bahwa actinomysetes bisa menghasilkan metabolit sekunder yang tergolong anti tumor. Dengan adanya antibiotik yang ditemukan ini, mungkin saja bisa menghasilkan antibiotik untuk pengobatan anti bakteri dan anti tumor.

Ini adalah penelitian mendasar yang penting bagi pengembangan farmasi,” katanya. Penelitian ini, merupakan penelitian BLPM Dikti yang dilakukan sejak tahun 2015 lalu. “Ini adalah hasil penelitian tahun kedua atau tahun terakhir. “Tahun 2015, kami baru mengindentifikasi jenis-jenis mangrove, dan jenis mikro organismenya. Di tahun kedua, sudah mencari jenis antibiotik apa yang dihasilkan dengan menggunakan uji analisis kualitatif dan uji analisis kuantitatif, dan uji antagonistik ke bakteri, jamur atau fungi,” tutup Dicky.(rg-40)

Share

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.